Naluri yang Tertindas

Naluri kemanusiaan kita seringkali ditindas oleh benci atau cinta yang berlebihan. Seringkali pula ditindas oleh ilmu dan kesombongan. Seringkali pula ditindas oleh kebahagiaan yang meletup-letup dan kesedihan yang menyakitkan.

Akibatnya, kita tak lagi dapat memutuskan dengan benar, dengan jernih. Kemampuan merasa yang dianugerahkan Tuhan menjadi lumpuh. Kita tak lagi bisa melihat kebenaran sebagai kebenaran dan kesalahan sebagai kesalahan. Kita tak lagi bisa memahami segala apa yang terjadi dengan bijak. Naluri kita telah dikalahkan, dan terkadang nurani kita pun ikut tenggelam.

Maka jika itu yang terjadi, dan menimpa seorang ibu, ia akan dengan mudah membunuh anak kandung yang seharusnya ia sayang. Jika itu terjadi pada seorang anak, maka ia akan membunuh ayahnya sendiri tanpa merasa berdosa hanya karena kesumat yang memuncak dalam dirinya. Jika ia hadir dalam sekumpulan manusia, maka yang terjadi adalah kejahatan yang terstruktur dan terencana.

Siapakah yang telah menindas naluri kemanusiaan kita itu? ia adalah diri kita sediri, yang menumpuk berhala-berhala dalam hati sehingga menyangka bahwa berhala-berhala itu yang bisa membuat kita senang atau sedih, yang membuat bahagia atau sakit, yang membuat celaka atau selamat. Mereka yang kita cintai dan melebihi kecintaan kita pada Tuhan. Atau mereka yang kita benci dengan kebencian yang akut.


Kisah seorang mahasiswa yang tega menggorok dosennya adalah contoh lenyapnya naluri kemanusiaan itu. Kebencian yang bermula dari ketakutan yang sangat akan nilai yang jeblok atau menyandang predikat "tidak lulus" telah memangsa akal sehat. Sebab ia meyakini bahwa "lulus" adalah segala-galanya, "lulus" adalah harga diri. Ia tidak menyadari bahwa perbuatannya yang biadab itu telah menghancurkan reputasinya sebagai manusia dalam sekejap. Ya, ia gagal menjadi manusia.

Jika manusia telah dikalahkan oleh hawa nafsunya, berbuat keji dan brutal, bahkan melakukan perbuatan-perbuatan biadab yang belum pernah sekalipun terpikirkan di sepanjang peradaban, maka ia telah menempatkan dirinya sejajar dengan binatang. Bahkan lebih buruk lagi. Lalu, hukuman apa yang setimpal buat mereka?

Pintu taubat tentu terus terbuka, selama nyawa masih lekat di dada. Kita harus merenungkan terus-menerus tentang hakikat kemanusiaan kita, sebuah amanah dan tanggung jawab besar yang dipikulkan Yang Maha Kuasa. Kita harus senantiasa mengasah empati pada sesama lewat berbagi, merelakan sebagian yang kita miliki dan kita cintai untuk orang lain yang membutuhkan. Kita belajar menghargai dengan menyadari semua manusia memiliki kelebihan dan kekurangan, sehingga dengannya kita tidak mudah menghakimi dan membalas kesalahan dengan kedzaliman yang besar. Jadilah seperti Musa di hadapan Fir'aun, yang dengan lantang menyampaikan kebenaran tanpa harus menghancurkan.

Baca juga: Resep dari Ibnu Jauzi untuk Penyembuhan Penyakit Hati

Manusiakanlah manusia. Kita tak punya hak sama sekali untuk merampas hak-haknya yang paling asasi; hak untuk hidup, hak terhadap kehormatan, harta, dan keyakinannya akan Tuhan. Berbuatlah kepada orang lain seperti berbuat kepada diri sendiri. Karena terkadang kita sangat toleran terhadap diri sendiri jikalau melakukan kesalahan namun tidak toleran pada orang lain yang melakukan kesalahan yang sama. (@RafifAmir)
loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Naluri yang Tertindas"