Rumus Ampuh untuk Berubah Menjadi Lebih Baik


Saya membaca sebuah majalah yang bertajuk, “Apakah Untuk Berubah Selalu Perlu Momentum?”. Saya sempat terhenyak sejenak. Saya teringat dengan visi misi hidup yang selalu saya perbarui setiap menjelang akhir tahun, saya teringat pemilihan umum dan pemilihan presiden Republik Indonesia beberapa tahun lalu, kemudian saya bandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Adakah yang berubah?



Meski telah membuat setumpuk janji pada diri sendiri dengan target-target prestasi yang menjulang, toh ritme hidup yang saya jalani tak mengalami perubahan yang berarti. Begitupun, pemilu lalu yang sejatinya menjadi momentum bagi perbaikan bangsa tak menorehkan banyak kemajuan yang setidaknya membuat kita tersenyum bahagia. 


Perubahan selalu diidentikkan dengan momentum. Momentum tahun baru hijriyah misalnya, yang selalu dijadikan ajang musahabah dan kontemplasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Pun momentum pemilihan presiden yang banyak mengakomodir harapan-harapan baru rakyat Indonesia untuk kesejateraan bangsa. Nyata-nyatanya, yang terjadi justru sebaliknya. Korupsi semakin menjadi-jadi, bencana alam yang tiada henti akibat maksiat yang merajalela. Krisis multidimensi yang tak jua menemukan katarsisnya. 

Sejatinya, perubahan tak memerlukan momentum. Atau bisa dikatakan setiap hari adalah “momentum” untuk berubah. Mulailah saat ini, kata AA Gym dengan rumus 3M-nya. Dan memang, perubahan harus dimulai sejak tumbuh kesadaran dalam jiwa untuk bergerak ke arah yang lebih baik. Karena jika kita terus menunggu momentum, maka selama periode “menunggu” itu gairah kita untuk berubah dikebiri sehingga hanya menghasilkan kekosongan jiwa dan minim karya. Karya yang mencerahkan. Karya yang bermanfaat untuk umat. 

Baru-baru ini saya menemukan rumus perubahan yang menurut saya cukup ampuh, meski sebenarnya sangat sederhana. Rumus ini saya beri nama MH2. 

Huruf M berarti Memperbaharui Hidup. Seringkali kali kita ditimpa bosan atau kejenuhan dengan ritme hidup yang setiap hari kita jalani. Maka sekali-sekali coba kita ubah sedikit dengan menambahkan beberapa aktivitas atau menukar aktivitas pagi hari dengan mengerjakannya di sore atau malam hari. Begitupun sebaliknya. 

Selain itu ada cara yang cukup menarik untuk diterapkan. Sebisa mungkin kita memiliki catatan tentang apa saja yang kita inginkan dalam perubahan hidup ini. Misalnya, ingin tepat waktu dalam segala hal. Kita buat waktu berkala sebagai acuan untuk evaluasi dan peningkatan kualitas diri. Misalnya sebulan sekali. Usahakan rentang waktunya tidak terlalu sebentar juga tidak terlalu lama. Jadi selama seminggu kita usahakan agar tetap disiplin bagaimana pun kondisinya. Sesibuk apapun kita. Pokoknya harus tepat waktu. Maka selama sebulan, usaha untuk selalu disiplin menjadi fokus kita. Awalnya mungkin memang terasa berat jika kita sudah terbiasa telat menghadiri pertemuan-pertemuan atau rapat. Namun jika dibiasakan, apalagi sebulan, Insya Allah lama-lama akan menjadi ringan.
 
Nah, setelah sebulan berlalu kita evaluasi, berapa kali kita terlambat berapa kali kita tepat waktu. Jika prosentasenya di atas 80% berarti kita berhasil. Untuk selanjutnya kebiasaan tepat waktu harus tetap kita pertahankan. Ia sudah mulai menjadi kebiasaan. 

Lalu di saat yang sama itu pula kita melihat catatan kita kembali, tentang apalagi yang ingin kita perbaharui dalam hidup, misalnya ingin lebih rajin sedekah. Maka mulailah membuat anggaran pribadi untuk sedekah. Berapa rupiah setiap bulannya atau perminggunya. Lalu mulailah bersedekah sesuai dengan target yang kita tentukan. Boleh lebih tapi tak boleh kurang. Sebulan berikutnya kembali dievaluasi dan perkaya diri lagi dengan amalan lain yang ingin ditingkatkan. Dan seterusnya. 

H yang pertama dan kedua yaitu Hadiah dan Hukuman. Yang sering membuat agenda maupun target yang kita buat sering tidak tercapai biasanya banyak disebabkan karena kendornya semangat. Meskipun yakin setiap kebaikan akan diganjar dengan surga, seringkali kita masih lebih menyukai sesuatu yang tampak oleh mata, yang langsung bisa dirasakan. Hadiah dan hukuman bisa menjadi solusi bagi kita agar tetap istiqomah menjalankan amalan-amalan prioritas yang ingin kita tingkatkan menuju perubahan hidup yang lebih baik. 

Akan tetapi usahakan agar jangan sampai yang memberi hukuman dan hadiah adalah diri kita sendiri. Kita bisa meminta bantuan istri atau teman. Dananya bisa dari kita. Pada saat bulan yang ditentukan kita serahkan sejumlah uang pada istri atau teman dekat kita. Jika kita berhasil menjalankan program tersebut, kita berhak mendapatkan hadiah yang kita inginkan dengan sejumlah uang itu. Tapi jika tidak, uang itu disedekahkan pada teman kita dan kita diberi hukuman. Hukumannya bisa jadi berupa puasa sekian hari, menyantuni anak yatim, dan sebagainya. 

Kiranya dengan beberapa teknik tersebut kita bisa menjadi pribadi yang baru dari hari ke hari. Selalu berubah menjadi lebih baik tanpa perlu menunggu momentum hijrah atau tahun baru. Lalu bagaimana untuk mengubah bangsa ini? Ya, dimulai dengan pribadi yang baru itu, kemudian membentuk sebuah keluarga yang selalu gemar meningkatkan kebaikan, kemudian dalam lingkup organisasi atau masyarakat. Barulah Negara ini akan maju. (@RafifAmir)
loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Rumus Ampuh untuk Berubah Menjadi Lebih Baik"