Perjuangan Panjang Meraih Kemenangan

Saya yakin dan sangat percaya bahwa kemenangan tidak datang secara tiba-tiba. Ada suatu gerak atau usaha untuk meraihnya. Barangkali itulah yang dinamakan perjuangan. Para pelakunya disebut sebagai pejuang. Ya, saya mulai yakin bahwasanya Dia; Dzat yang berhak menentukan para pemennag, hanya akan memenangkan para pejuang, bukan orang yang berpangku tangan dan diam. Tak ada kemenangan bagi orang yang tidak menjadikan perjuangan sebagai bagian dari hidupnya.

Mengapa saya mengambil kesimpulan demikian? Saya membaca sejarah yang diyakini umat Islam. Fathu Mekkah atau Hari kemenangan umat Islam atas jahiliyah dimulai setelah perjuangan berdarah-darah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan para pengikutnya selama lebih dari dua puluh tahun. Mulai dakwah secara sembunyi-sembunyi, hingga peperangan-peperangan besar yang tidak hanya mengorbankan jiwa, tetapi juga segala simbol-simbol kebanggaan manusia. Di sana ada gerak, ada usaha sungguh-sungguh untuk meraih kemenangan. Adanya pengorbanan itulah salah satu bukti dari sebuah perjuangan.

Demikian halnya, kemenangan-kemenangan lain yang diraih oleh para pemenang, orang-orang sukses, orang-orang yang hidupnya bersinar penuh kebahagiaan. Mereka telah menjadikan perjuangan sebagai tangga emas memetik bintang-bintang. Kita mengenal Thomas Alfa Edison dengan percobaan bola lampunya, kita mengenal ribuan ilmuwan dan penemu dengan kegigihan yang disertai keyakinan akan risetnya.

Kemenangan adalah puncak dari sebuah proses perjuangan. Kemenangan yang besar harus ditempuh dengan perjuangan yang juga besar. Karena tidak mungkin kita mencapai bintang dengan pesawat terbang tradisional dalam hitungan jam, harus ada upaya yang lebih besar untuk menciptakan teknologi super canggih yang bisa melesat dengan kecepatan kilat menuju bintang.

Oprah Winfrey, seorang wanita yang buku otobiografinya masuk dalam jajaran buku best seller di Amerika, mendirikan majalah dan industri perfilman yang juga meraih berbagai penghargaan, pernah memiliki kisah kelam dalam hidupnya. Bermula saat berusia 9 tahun dan diperkosa oleh sepupunya sendiri hingga hamil, Winfrey memulai perjuangannya untuk menemukan saat-saat kemenangan dalam hidup. Bukan memilih bunuh diri seperti yang banyak dilakukan oleh orang yang frustasi, ia justru mengatakan bahwa keberanian untuk menempuh hidup yang harus ia jalani membutuhkan perjuangan; melawan rasa takut dan mengenyahkan segala rintangan.

Begitu pula yang dialami Joni Ariadinata, seorang sastrawan senior, cerpenis, dan redaktur majalah sastra Horison. Dulunya, ia bukan siapa-siapa. Hanya seorang tukang becak yang mencoba hidup dengan menulis. Setiap hari ia bekerja keras menulis dua buah cerpen. Lalu ia kirimkan ke media. Namun dalam setahun proses kreatifnya telah lebih dari 600 cerpen yang ditolak media. Bukankah ini sudah lebih dari cukup untuk dijadikan alasan berputus asa dan berhenti berlelah-lelah dari menulis? Tapi tidak demikian dengan Joni. Ia mengatakan, “Setelah ada yang dimuat, saya semangat lagi. Saya barengi dengan doa untuk menguatkan jiwa saya.”

Begitulah, kemenangan bukan sesuatu yang bisa kita nikmati dengan instan, tanpa perlu perjuangan atau bahkan tanpa perlu berbuat apa-apa. Saya yakin inilah salah satu bukti dari keadilan Tuhan. Ia hanya menyandangkan gelar “Pemenang” kepada orang-orang yang telah melalui fase-fase perjuangan dalam hidupnya.

Lalu saya mencoba menekuri kembali hidup saya, yang oleh sebagian teman dikatakan telah mengalami kesuksesan. Bagi saya, saat-saat kemenangan ataupun kesuksesan dalam hidup hanya bisa dirasakan oleh orang yang bersangkutan. Karena ia sendiri yang memiliki impian, target-target dalam hidup, sasaran kemenangan, cita-cita, dan harapan yang menjulang. Oleh karena saya belum merasakannya, maka saya belum berani mengatakan bahwasanya saya adalah pemenang.

Fase-fase yang akan dihadapi oleh calon pemenang tidaklah gampang. Ia tidak hanya akan duji dengan sesuatu yang berasal dari luar dirinya. Bahkan yang paling besar, ia akan diuji dengan benturan-benturan yang juga berasal dari dalam dirinya. Bisa jadi dengan idealisme, ketakutan, dan yang lainnya. Cara menghadapi ujian-ujian itulah yang disebut dengan perjuangan. Jika gagal, maka kita akan menjadi orang yang kalah. Namun jika sanggup menghadapi ujian-ujian tersebut, kita akan selamat dan akan dihadapkan pada ujian selanjutnya.

Oleh karena itu, sejatinya kemenangan yang hakiki itu, adalah di saat setiap gerak tidaklah lagi memiliki nilai, setiap orang tidak perlu lagi berjuang. Ia telah mendapatkan cita-cita tertingginya atau justru sesuatu yang paling ia benci. Umat Islam percaya dengan adanya kehidupan akhirat. Ya, di sanalah sebenarnya kemenangan atau kekalahan dipertunjukkan. Orang-orang yang menang akan mendapatkan surga, sedangkan orang-orang yang kalah dan tidak bisa menyelesaikan ujian hidup dengan baik, orang-orang yang enggan berjuang untuk meraih sesuatu yang diidamkan berupa surga, akibatnya kekalahannya tersebut ia akan mendekam dalam neraka.

Jadi menurut hemat saya, saat ini tidak perlu ada yang lebih ditakuti kecuali diri kita sendiri dalam menghadapi ujian yang hanya memiliki dua pilihan ini: diam, bertekuk lutut dan pasrah atau berjuang hingga menang. Dua kata terakhir yang perlu diingat, “Hingga Menang” bukan hingga lelah atau tak sanggup lagi berjuang.

Ramadhan Sebagai Bulan Perjuangan

Gegap gempita Ramadhan sudah mulai terasa. Di bulan itulah genderang perjuangan menahan lapar-dahaga dan menundukkan hawa nafsu digelar. Dua bulan sebelumnya, Rajab dan Sya’ban adalah bulan-bulan pemanasan, dimana sebagian orang sudah berlatih dengan maksimal. Kita ingin meraup bonus pahala sebanyak-banyaknya di hari kemenangan. Target-target mulai disusun, mulai dari tilawah, qiyamul lail, sedekah, hingga membaca kitab dan mengubah kebiasaan buruk. Satu hal yang dituju: meraih gelar muttaqin. Seseorang yang meraihnya, Allah janjikan kemuliaan dan kebahagiaan dalam hidup di dunia dan akhirat.

Ramadhan seolah menjadi uji coba kesungguhan kita dalam beramal. Ia akan mengiringi langkah-langkah kita pada bulan-bulan berikutnya untuk menjadi pribadi yang lebih baik, lebih bertaqwa. Tidak hanya amal, hati juga senantiasa dijaga dan dipelihara dari hal-hal yang mengotorinya. Inilah bulan tazkiyatun nafs, momentum untuk menyucikan hati dari noda-noda hitam maksiat, mengenyahkan dari segala macam penyakit yang menggerogotinya.

Akhirnya, semoga kita menjadi pemenang. Dengan semangat, kesungguhan, dan niat yang ikhlas insya Allah kita akan dapat melaluinya. Berjuang hingga kelelahan lelah menyertai kita.

(Dimuat di Majalah SQ Edisi Juni 2016). Bagi yang ingin mendapatkan majalah ini atau menjadi donatur Yayasan Dompet Al-Quran Indonesia (DeQI), sebuah lembaga sosial yang berfokus untuk menyantuni anak yatim penghafal Qur'an, bisa menghubungi saya atau situs resminya www.dompetalquran.org
loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Perjuangan Panjang Meraih Kemenangan"