Tentang Lima Ribu Rupiah dan Pelajaran Memaafkan

Barangkali ini hanya cerita biasa. Akan tetapi mungkin tidak akan pernah terjadi tanpa selembar lima ribu rupiah yang di sodorkan ke tangannya, laki-laki petugas parkir yang bernama, sebut saja, Syamil.

Cerita itu dimulai pada jumat sebelumnya. Saat aku dan temanku, Fathor, mengunjungi sebuah pusat jual-beli buku bekas di Surabaya. Menjelang isya’ kami baru pulang dengan membawa dua kardus penuh berisi buku-buku. Sebelum ambil motor di parkiran, kusodorkan selembar uang dua ribuan ke tukang parkir tetap di sana. Sejenak kutunggu kembalian, tapi petugas parkir itu malah duduk-duduk sambil asyik melahap bakso.

Kudatangi ia. Kuminta uang kembalian seribu rupiah. Tapi yang mengagetkan ia malah berkata, “Kalau sepeda motor sampeyan hilang gimana?” dijawab seperti itu tentu saja aku kesal. Aku sering pergi ke tempat itu dan hafal tarif parkir di sana. Waktu itu tarif parkir masih seribu rupiah untuk motor dan dua ribu rupiah untuk mobil. Tapi sebenarnya bukan nominal uang yang kukeluarkan untuk parkir yang membuatku kesal. Tapi jawaban asal-asalan dari si tukang parkir itu. Maka sekali lagi kucoba menagih hakku, ia kembali menjawab gak jelas. Sambil menggerutu dalam bahasa Madura, aku berbalik dan bersiap pulang. Sebelum pulang, kusempatkan menoleh dan setengah melotot ke tukang parkir tadi. Ia malah menghampiri dan dengan bahasa Madura menyuruhku pergi biar gak bikin ribut.

Aku yang pada dasarnya juga gak suka ribut memilih mengalah dan pergi. Tapi Demi Allah, setelah sampai rumah pun aku belum bisa mengikhlaskan uang seribu rupiah yang menurutku telah “dirampok”. Sekali lagi, bukan berarti aku pelit dan eman dengan uang seribu rupiah itu. Tapi aku paling tidak suka jika ada orang yang merampas hak orang lain tanpa alasan. Jika ia bilang tidak ada uang kembalian atau meminta seribu rupiah yang harusnya ia kembalikan, aku bisa menerima dan mengikhlaskan. Tapi justru ia telah melakukan dua kesalahan: berbuat zhalim dengan mencuri hak orang lain dan bersikap congkak.

Aku tidak terima. Fathor pun demikian. Ia malah berencana memberikan uang receh lima ratus rupiah jika nanti kembali ke kampung ilmu dan bertemu dengan tukang parkir congkak itu.

Jumat berikutnya. Tepat seminggu kemudian, aku benar-benar kembali ke tempat itu. Selain untuk mmebayar hutang juga mengambil buku-buku pesanan. Hari itu tepat hari pertama aku puasa. Dan aku telah menyiapkan rencana untuk tukar pakrir itu.

Begitu tiba di parkiran, ekor mataku sudah sibuk mencarinya. Namun demikian, aku berusaha pura-pura tidak melihat. Begitu pun saat aku hendak pulang dan mengambil motor. Sengaja aku menyuruh Fathor untuk memberikan uang selembar lima ribu rupiah untuk ongkos parkir sekaligus sedekah. Dalam hati aku juga sambil berharap mudah-mudahan dengan uang lima ribu itu si tukang parkir sadar akan perbuatannya minggu lalu. Pastinya ia hafal wajahku dan motorku yang berplat nomor “M”. aku sudah puluhan kali ke sana dan bertemu dengannya. Aku pun hafal wajahnya yang kaku dan gak bisa diajak bercanda, selalu kelihatan serius dan seperti banyak beban masalah.

Aku mengambil motor. Fathor menyerahkan uang parkir. Si tukang parkir hendak menyerahkan kembalian. Tapi buru-buru dicegah oleh Fathor, “Gak usah, Pak. Hitung-hitung sedekah di bulan puasa.” Fathor bicara dalam bahasa Madura. Dan tentu tanpa maksud merendahkan atau membalas dendam. Tiba-tiba si tukang parkir mengulurkan tangan, meminta maaf. Kemudian ia menghampiriku pula dan meminta maaf. Aku membalas uluran tangannya, terseyum lega. “Sama-sama, Pak. Saya juga minta maaf,” ujarku dalam bahasa Madura halus. Itulah pertama kali aku melihat ia tersenyum. Dan begitupulalah ending yang kuharapkan.

Kamipun saling berkenalan. ia asal Bangkalan. Ya! Ternyata ia asli Madura. Ini yang semula tidak kupercaya. Aku mengira ia orang Jawa yang bisa bahasa Madura. Karena biasanya sesama orang Madura jika berada di kota rantau akan selalu saling menolong dan saling melindungi, bukan saling bermusuhan. Dan ia mengaku sudah lama tahu kalau aku orang Madura.

Satu hal lagi yang membuatku tersenyum geli dengan pengakuan jujurnya, bahwa sebenarnya pada kejadian malam Jumat sebelumnya itu, ia juga takut. “Sebenarnya aku juga takut kalau berkelahi sama anak muda,” ujarnya.

Dan aku bahagia karena telah melakukan satu kebaikan di awal bulan Ramadhan yang mubarakah. Suatu pelajaran tentang pengakuan kesalahan dan kerendahan hati untuk memafkan, serta bagaimana menasihati seseorang dengan hikmah. Dalam contoh kisah ini, hikmah itu melalui selembar uang lima ribu, yang meskipun sedikit nilainya akan tetapi dapat memberikan pencerahan atau kesadaran atas perbuatan zalim yang dilakukan si tukang parkir.

Sekali lagi, ini hanyalah cerita sederhana dan di luar sana masih banyak cerita yang lebih menakjubkan tentang bagaimana kita membangun kembali persaudaraan dengan cara saling memaafkan atas kesalahan.



(Dimuat di Majalah SQ Edisi Juni 2016). Bagi yang ingin mendapatkan majalah ini atau menjadi donatur Yayasan Dompet Al-Quran Indonesia (DeQI), sebuah lembaga sosial yang berfokus untuk menyantuni anak yatim penghafal Qur'an, bisa menghubungi saya atau situs resminya www.dompetalquran.org
loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Tentang Lima Ribu Rupiah dan Pelajaran Memaafkan"