Kemerdekaan Nurani

Mengenang Agustus, saya selalu membayangkan bagaimana bila Indonesia kembali dijajah. Berapa orang yang berangkat jihad, berapa orang yang lari terbirit-birit, berapa orang yang bergabung dengan musuh.

Kenyataannya kita tak pernah siap dengan kemungkinan terburuk itu. Kemerdekaan hanyalah peringatan tahunan yang diisi dengan senang-senang: mulai orkes dangdut hingga makan-makan. Luntur sudah semangat juang pahlawan yang pernah digelorakan Bung Tomo dengan pekik, "Allahu Akbar!"

Kadang, pedih hati ini tak tertahankan melihat itu semua. Andai para pahlawan melihat ini semua, melihat kemerdekaan yang mereka perjuangkan dengan darah dan airmata hanya diperingati sebatas kerongkongan dengan teriakan "Merdeka!" yang disambut gelak tawa.

Dunia. Dunia telah membunuh jutaan rakyat Indonesia. Membunuh semangatnya, membunuh nuraninya, membunuh kemanusiaannya hingga ada sebagian dari mereka yang memburu dunia dengan segala cara, bahkan dengan cara merampas kemerdekaan saudaranya.

Kemerdekaan bagi mereka hanya kesenangan untuk dirinya sendiri. Mereka tak peduli jika harus menebus kemerdekaan itu dengan membakar, menghancurkan, merusak orang lain. Lihatlah bagaimana perokok berat menghisap racun sialan itu dan menghembuskannya dengan tenang di sekitar orang-orang yang ia sayang, lihatlah mereka yang saling sikut dan jegal di kantor demi uang dan jabatan, lihatlah mereka yang telanjang di jalan-jalan atas nama kebebasan tapi di lain kesempatan mengutuk pelaku pemerkosaan.

Mereka merasa merdeka, padahal hakikatnya nurani mereka terbelenggu oleh dunia. Bahkan mungkin nurani mereka telah mati. Jika itu terjadi, derajat manusia tak lebih tinggi dari binatang. Bahkan bisa lebih hina lagi. Lalu bagaimana manusia seperti ini bisa menjadi pejuang bagi kemerdekaan negerinya? Mereka telah gagal dalam menaklukkan dirinya sendiri.

Maka biarlah. Biarlah kemerdekaan ini saya mulai dari diri saya sendiri, tidak dari bangsa ini. Kemerdekaan saya dari nafsu-nafsu yang menggerogoti akal dan hati, kemerdekaan saya dari kedzalimin yang dilakukan terhadap diri sendiri, kemerdekaan saya dari segala kebencian dan kedengkian yang menutupi nurani.

Rafif, 15 Juli 2016
loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Kemerdekaan Nurani "