Sastra dan Pemimpin Kita

Di dalam "Solilokui" Budi Darma mengatakan bahwa yang paling penting dalam karya sastra bukanlah tulisannya melainkan apa yang ada di dalamnya. Kurang tepat juga jika dikatakan penilaian terpenting pada keindahan bahasanya, sebab sejatinya keindahan itu karena keberhasilan tulisan sastra tersebut mendekati kebenaran.

Meski terkadang karya sastra banyak menceritakan tentang hal yang berseberangan dengan pendapat umum, tetapi sebuah karya sastra tetap bergerak dalam alur logis yang memperhatikan kaidah sebab-akibat. Betapa banyak ditemukan, kisah-kisah fiksi yang belum pernah terjadi saat dituliskan, menjadi cerita nyata di tahun-tahun kemudian. Lebih banyak lagi, justru kehidupan nyata lebih tidak masuk akal daripada apa yang dipaparkan dalam karya sastra fiksi.

Bagaimana pengarang memaparkan kebenaran dalam sebuah karya sastra menjadi sangat penting. Karena dengannya nasib sebuah karya ditentukan: berhasil atau gagal. Sebuah karya sastra hebat yang layak dipelajari banyak menyuguhkan nilai positif bagi pembacanya. Mungkin karena itulah masyarakat Romawi Kuno selalu dibekali dengan sastra sebelum mereka diangkat menjadi pemimpin militer  atau bertugas mengatur pemerintahan di luar negeri.

Sekali-kali para calon pemimpin negri ini juga harus "dicekoki" sastra. Tentu bukan kisah si kancil yang mencuri mentimun, tetapi karya sastra, yang mengajarkan humanisme, moral, perjuangan, dan pengorbanan.

Rafif,70113
loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Sastra dan Pemimpin Kita"