Berorganisasi Sepakbola

Seperti halnya permainan sepakbola, inti dari organisasi adalah soliditas tim. Soliditas itulah nanti yang akan menjadi kekuatan untuk meraih kemenangan, merealisasikan impian dan tujuan. Dalam organisasi, impian itu berwujud visi secara tekstual. Sedangkan dalam sepakbola, keunggulan skor atas tim lawan menjadi tujuannya, misinya adalah mencetak gol dan mempertahankan gawang agar tidak kebobolan.

Sejatinya baik dalam permainan sepakbola maupun manajemen organisasi, tak jauh beda. Striker dalam permainan sepakbola adalah bidang syiar yang menjadi ujung tombak bagi terciptanya gol-gol indah. Berbagai cara dan strategi dilakukan untuk rekrutmen dan mengenalkan dakwah. Hasil rekrutmen itu akan di-ri'ayah dan dibina oleh kaderisasi menjadi seorang aktivis dakwah yang fikroh-nya tersibghah oleh manhaj Islam. Dalam sepakbola, fungsi kaderisasi ini diperankan oleh back. Back yang menjadi benteng terakhir tim agar tak kebobolan. Sebab usaha striker menciptakan banyak gol akan sia-sia jika back tak menjalankan fungsinya. Begitupun,banyaknya rekrutmen tidak akan tercatat sebagai sebuah kemenangan jika kemudian hasil rekrutmen 'menghilang' dan tak terbina dengan baik. Memang, itu akan memperkecil kekalahan tapi juga tak bisa memperbesar kemenangan. tergantung berapa banyak jumlah gol yang diciptakan dan intensitas kebobolan.

Di sinilah peran kapten selaku pemimpin tim diuji. Soliditas menjadi harga mati yang harus dipertahankan hingga akhir pertandingan. Kealpaan masing-masing divisi menjalankan perannya, akan berakibat fatal terhadap visi dan mimpi indah sebuah organisasi. Gol pun tak dapat dicipta. Tentu, kekalahan bukan hal yang diharapkan namun jika kocar-kacir dalam barisan telah mencapai klimaksnya, hanya tinggal menunggu pluit panjang wasit, bisa dipastikan permainan akan sangat mengecewakan. Bisa-bisa organisasi itu buyar.

Banyak hal yang menjadi faktor dari rusaknya soliditas tim itu. Salah satunya, konflik internal dan ketidakpercayaan yang terjadi antar lini. Akhirnya semua bergerak sendiri-sendiri. Ingin menciptakan gol sendiri. Lalu apa bedanya dengan non organisasi? Masih sangat segar dalam ingatan saat Belanda mengalami konflik internal ketika akan menghadapi Uruguay di perempat final Piala Dunia, Van Marwick, pelatih Belanda segera mengatasi masalah itu dengan memanggil pihak yang bertikai. dalam hal ini Sneidjer dan Van Persie. Berbicara dengan kepala dingin dan solutif, meski sebenarnya permasalahannya hanya terletak pada ego masing-masing untuk bisa bermain di lapangan hingga akhir pertandingan.

Pun dalam organisasi, konflik internal seperti ini akan merusak soliditas tim yang terbentuk. Solusinya sebenarnya sama, konflik itu harus diakhiri oleh pelatih. Oleh qiyadah. Memanggil kedua pihak yang bertikai- dalam hal ini pertikaian yang dimaksud adalah segala hal yang menimbulkan ketidaknyamanan dalam tim- dan mencari jalan keluar dengan kembali mengingat tujuan akhir: kemenangan.

loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Berorganisasi Sepakbola"