Demi Hidup Lebih Baik

Siasat Setan Menyesatkan Manusia. Itulah bahasan pertama dalam Demi Hidup Lebih Baik. Karena setan, baik yang berwujud jin maupun manusia, adalah musuh utama kebaikan-kebaikan. Hampir setiap orang tidak dapat menghindar dari godaan mereka. Bahkan, perbuatan yang tampak sebagai kebaikan secara lahir, setan telah lebih dulu menguasai batinnya. Semisal orang yang sedang shalat tapi hati dan pikirannya sedang merencanakan maksiat.

Setan terus melancarkan serangan-serangan seporadis dan tak kenal ampun. Mulai dari penghancuran akidah pada tahap pertama, lalu meniupkan bid’ah, menghajar dengan dosa besar dan dosa kecil, hingga pada taraf kesempurnaan setingkat nabi, setan mengerahkan bala tentaranya untuk membenci dan melawan, dengan kata-kata maupun dengan fisik. 

Maka pemahaman tauhid menjadi benteng yang niscaya dalam perjuangan. Tapi persiapan fisik juga diperlukan. Manusia yang lemah fisiknya akan lebih mudah lagi digiring pada tujuh pintu godaan setan. Berbagai penyakit mulai mendera dan jangankan berinfaq, untuk biaya berobat masih pontang-panting ke sini-ke sana. Para sahabat, kata Anis Matta, hidupnya penuh dengan keseimbangan sehingga tak heran stamina mereka selalu prima. Usia delapan puluh tahun tapi masih sanggup menikahi gadis berusia belasan tahun. Bahkan Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah memiliki kekuatan seks setara dengan 30 laki-laki (Hal. 76)

Ukuran tubuh Rasulullah juga sedang, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek. Dan berdasar penelitian, orang yang memiliki kemampuan survive di bidang militer adalah yang secara kategori fisik adalah pertengahan; tidak terlalu tinggi, tidak terlalu pendek. 

Perkara fisik ini, termasuk juga yang melekat dalam tubuh kita. Pakaian, kata Ibnu Taimiyah, dapat menggambarkan suasana jiwa, Oleh karena itu Rasulullah menyarankan kita menggunakan warna-warna cerah. Terutama warna putih.

Kita harus berpacu. Karena hidup ini sangat singkat, sesingkat mimpi dalam tidur kita. Berapa lama kita bermimpi dalam tidur? Mungkin ada yang mengira sekian jam atau sekian menit. Padahal sebenarnya hanya delapan detik saja. Tak lebih. Itu karena perbedaan alam. Begitupun nanti di akhirat. Kita akan merasa hidup di dunia hanya dalam satu kedipan mata saja.

Untuk itu, kita harus memiliki standar hidup yang tinggi, sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Kualitas hidup yang memadai akan menjadikan kita tetap prima dalam melaksanakan ibadah. Qiyamul lail Rasulullah saja lebih dari empat jam dalam semalam. Beliau melakukannya sejak usia 40 hingga 63 tahun, usia yang menurut kita adalah masa melemahnya fisik dibandingkan saat usia 20-30an.

Hal penting lain yang harus dimiliki oleh para calon pemimpin, adalah imajinasi. Khalid bin Walid bercerita tentang rahasia kemenangannya pada Perang Yarmuk. Ketika kecil ia sering melakukan perjalanan ke wilayah Yarmuk. Setiap kali melewati suatu tempat, ia membayangkan sedang memimpin pasukan perang. Ia berimajinasi mengatur posisi pasukan di sana dan di sini, ia juga merancang dari mana harus mengepung dan menyerang musuh. Ia terus berkelana di alam imajinasi. Ia tak pernah menyadari bahwa imajinasi itu mengantarkannya pada perang sungguhan. Dan itu sangat membantu. Maka tak heran, dengan hanya 27 ribu pasukan, ia dapat mengalahkan pasukan Romawi yang berjumlah 240 ribu orang.

Lalu tentang ukhuwah, persatuan. Tak akan berarti pribadi yang unggul dan gemilang tanpa rekatnya persaudaraan. Ia akan mudah diterjang badai. Sejarah sudah membuktikan hal itu. Akan tetapi ukhuwah, kata Anis Matta, begitu utuh ketika sama-sama dalam kondisi fuqara wal masakin. Namun ketika taraf hidup sudah berubah, sudah meningkat, konflik pun mulai bermunculan.

Masih banyak hal menarik lain yang dibahas dalam buku Demi Hidup Lebih Baik ini. Tulisan-tulisan Anis Matta selalu segar, menginspirasi. Banyak ilmu baru yang didapat, ditambah kemampuan menganalisa beliau yang tajam. Kata-kata mengalir, lahir dari perenungan yang dalam.

Sesuai judulnya, buku ini mengajak pembaca untuk berubah. Berubah menjadi lebih baik. Dimulai dari pemaknaan terhadap syahadat, kepribadian yang didasarkan keteladanan dari Rasulullah, secara menyeluruh, hingga perbaikan-perbaikan total terhadap ibadah yang telah kita tunaikan.

Book Review #80. Review Demi Hidup Lebih Baik. Anis Matta. Cakrawala Publishing, Cetakan 2,2008, 186 halaman. Selesai baca pada Juni 2016 


loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Demi Hidup Lebih Baik"