Hakikat Pemimpin Menurut M. Natsir

"Kalau kita sedang berjalan, lalu bertemu dengan dua cabang jalan, ke kiri dan yang ke kanan, maka orang yang dinamakan pemimpin adalah yang berani mengambil resiko untuk memilih salah satu dari dua jalan itu. Kalau dia tidak berani, hanya diam saja, menunggu-nunggu, maka dia bukan pemimpin. Dia pengikut. Akan tetapi, yang mampu mengambil keputusan untuk memilih salah satu di antara dua atau lebih alternatif tadi, dengan ijtihad sekuat mungkin, itulah yang dinamakan pemimpin. Kalau ternyata salah, ya diperbaiki. Jangan sampai disertai nafsu, lalu merasa malu untuk mengakui kesalahan. Kita ini manusia. Imam Syafi'i saja mengakui dan mengoreksi fatwa-fatwanya yang lama apabila belakangan ternyata keliru..." (M. Natsir)

Telah berapa banyakkah pemimpin kita yang layak disebut sebagai pemimpin. Yang dengan jiwa besarnya berani mengakui kesalahan, bukan terus-menerus melempar kesalahan. Berapa banyak yang berani mengambil keputusan dan berani pula menanggung resikonya, tidak hanya ketika keputusan itu benar, tetapi pula ketika terbukti keputusannya mendatangkan kerugian.

Kebanyakan pemimpin, hanya mau tampil ketika kesuksesan menghampiri tapi ngumpet dan sembunyi ketika berada di ambang kegagalan. Menepuk dada sendiri ketika berhasil tapi menunjuk hidung orang lain ketika bangkrut.

Natsir telah memberikan gambaran ideal seorang pemimpin. Berani memutuskan dengan pertimbangan yang matang dan sungguh-sungguh termasuk bermusyawarah dengan orang-orang yang dipimpinnya. Lalu ketika keputusan telah diambil entah dari manapun sumber idenya, ia bersedia memikul segala resikonya. Ringan atau berat. Sedih maupun senang. Jika berbuat kesalahan ia meminta maaf, jika gagal ia bangkit untuk kembali maju, jika keliru ia koreksi. Pemimpin selalu berada di depan barisan dan bertanggung jawab terhadap semua kerja timnya.

Setiap orang adalah pemimpin, minimal terhadap dirinya sendiri. Ia memimpin dan mengendalikan hawa nafsunya. Maka perbaikan mental hendaknya dimulai dari diri sendiri dengan mengenyahkan segala kesombongan, mengubur kebencian, lembut ke luar tapi keras ke dalam. Memaafkan orang lain yang berbuat kesalahan, tapi menghukum diri sendiri yang membuat kesalahan yang sama. Bukan malah sebaliknya.

loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Hakikat Pemimpin Menurut M. Natsir "