"Kebaikan-Kebaikan" yang Lenyap

Inginkah kalian kami beritahu tentang orang-orang yang merugi dalam amal-amalnya. Yaitu orang-orang yang usahanya sesat di dunia, tapi mereka mengira bahwa mereka sudah melakukan kebaikan. (QS Al-Kahfi: 103-104)
Dua syarat diterimanya "kebaikan" sebagai amal kebaikan. Ketika motif atau niatnya benar dan yang kedua, caranya benar. Jika salah satunya tiada, maka perbuatan itu tidak lagi dinilai sebagai kebaikan.
Memang berat, ketika setiap saat kita harus mengontrol motif-motif di balik setiap perbuatan. Tapi ini harus. Agar jangan sampai kelak, di akhirat, kita merasa membawa berkubik-kubik pahala tapi sejatinya dosa-dosalah yang kita pikul.
Seorang penulis yang menulis buku, hatta buku yang mencerahkan orang lain sekalipun, ketika motif di sebaliknya buruk dan sesat maka ia tak akan mendapatkan pahala apa-apa, kecuali petaka bagi dirinya.
Inilah yang harus kita jaga. Seperti Ali bin Abi Thalib saat hendak memenggal musuh tapi urung melakukannya karena si musuh meludahi wajahnya. Padahal sekali tebas saja, musuh itu akan kehilangan nyawa. Rupanya Ali khawatir, ia membunuh bukan karena Allah tapi karena marah dirinya direndahkan.
Berat? sekali lagi, memang berat. Tapi inilah perjuangan kita. Kita harus terus berlatih agar terbiasa mengalahkan semua kepentingan dan selalu menomorsatukan ridha Allah.
Bagaimana caranya? jika kita senantiasa ingat: surga jauh lebih indah dari seribu pujian dan neraka lebih mengerikan dari segunung celaan. Maka di manakah tempat bagi dunia ketika hati kita sudah dipenuhi dengan akhirat? (@RafifAmir)
loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to ""Kebaikan-Kebaikan" yang Lenyap"