Kebenaran Tidak Harus Menang

Kisah-kisah para nabi seakan mengajarkan kepada kita bahwa kebenaran yang diperjuangkan dengan darah dan keringat pada akhirnya akan menang. Itu sering kita ulang-ulang, sebagai pemantik semangat atau orasi-orasi yang membakar kejumudan.
Kita akan diingatkan tentang kisah Nabi Nuh yang berdakwah ribuan tahun namun hanya berhasil merekrut 12 orang saja. Mereka yang membangkang disapu bah dan badai, sementara orang-orang beriman berhasil selamat. Lalu juga tentang Nabi Musa menghadapi Fir'aun beserta bala tentaranya. Allah memberikan kemenangan bagi pengikut setia Musa dan "menghadiahkan" dalamnya laut merah bagi Fir'aun. Lalu tentang Nabi Yusuf yang harus mengalami beberapa fase dalam hidup mulai dari sumur hingga penjara, sebelum menapak megahnya istana. Terakhir, kisah Nabi Muhammad yang telah kita khatamkan sirahnya. Perjuangan mulai dari Mekkah, Madinah, hingga fathul Makkah yang gemilang.
Semua itu adalah perjuangan yang berakhir happy ending, kemenangan. Para pahlawan yang tampil sebagai pemimpin dan mempersembahkan pengorbanan terbaiknya menyaksikan kemenangan itu, sebagai salah satu hadiah terindah, sebelum mereguk kenikmatan yang jauh lebih menyenangkan di surga.
Tapi kisah Ashabul Ukhdud tidak demikian. Bisa dikatakan malah sebaliknya, sad ending. Bahkan hingga akhir kisah belum ada tanda-tanda sang raja mau beriman. Ia justru melemparkan semua rakyatnya ke dalam parit yang berkobar api.
"Bismillahi rabbil ghuulam," kata-kata yang diucapkan sang raja saat mengeksekusi pemuda yang menjadi tokoh sentral dalam kisah ini bahkan tak dapat mengantarnya pada hidayah. Dengan demikian, kebenaran yang diperjuangkan si pemuda harus berakhir dengan kekalahan?
Ketika kita meyakini sebuah kebenaran dan memperjuangkannya dengan gigih, berkorban jiwa dan raga untuk menegakkan panji-panjinya, apakah lantas masih penting bagi kita untuk mempertanyakan akhir dari segalanya? Kalah atau menang?
Mungkin kita tak sempat menikmati manisnya kemenangan, tapi kita telah melakukan pengorbanan yang maksimal, pengorbanan yang murni. Itu sudah lebih dari cukup. Mungkin generasi setelah kitalah yang akan memetik buah kemenangan itu, kita harus berlapang dada.
Karena kontribusi pengorbanan kita itulah wujud kemenangan sebenarnya. Jasad kita musnah, tapi Allah menerima segala jerih perjuangan dan memebalasnya dengan surga. Bukankah itulah kemenangan sesungguhnya? (@RafifAmir)
loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Kebenaran Tidak Harus Menang "