Kedudukan Perempuan dalam Islam

"Wanita adalah tiang negara," tulis Hamka, "Kalau wanita itu baik maka baiklah negara dan kalau mereka bobrok, bobrok pulalah negara." Seperti halnya tiang dalam rumah, terkadang peran wanita tidak kelihatan, tapi ketika rumah sudah reyot barulah si empunya sadar kalau tiangnya sudah rapuh dan lapuk.

Maka Hamka pun bercerita dalam bukunya ini tentang kehebatan para muslimah, semisal Khansa dan Ummu Salamah. Lalau tentang Fatimah, putri tercinta Rasulullah. "Raihanatun nasyum muha wa rizquha 'alallahi." Sekuntum bunga harum semerbak kita cium. Tentang Rezekinya, kita serahkan pada Allah. Begitu sabda beliau. Beliau membenci tradisi jahiliyah yang mengubur anak-anak perempuan mereka hidup-hidup.

Memiliki anak perempuan adalah kemuliaan, bukan kehinaan. Bahkan Rasulullah bersabda, "Barangsiapa yang ada padanya tiga orang anak perempuan dan dia sabar dalam mengasuhnya, dalam susahnya dan dalam senangnya, dia akan dimasukkan Allah ke dalam surga, karena rahmat Allah terhadap anak-anak itu." (HR Al-Hakim dari Abu Hurairah)

Islam sangat memuliakan perempuan. Ini tidak kita temukan dalam agama lain. Doktrin Kristen bahkan begitu merendahkan Ibu seluruh manusia, Hawa. Dan dianggaplah Hawa adalah penyebab terbesar Adam keluar dari surga. Padahal dalam keyakinan Islam, di dalam Alquran, Allah dengan terang menjelaskan bahwa keduanya sama-sama digelincirkan oleh setan.

Saint Agustin bahkan sampai mengatakan, "Wanita itu hendaklah dipandang kurang selalu, baik dalam kedudukannya sebagai istri atau dalam kedudukannya sebagai ibu, Karena perempuan itu adalah sebangsa binatang merayap di muka bumi atau makhluk yang tidak mempunyai pendirian tetap." Bedakan dengan sabda Rasulullah, "Tidaklah memuliakan atas perempuan melainkan orang yang mulia dan tidaklah yang menghinakannya melainkan orang yang hina jua."

Islam begitu menjunjung tinggi hak-hak perempuan. Baik dalam suatu negara, keluarga, hingga kehidupan pribadinya. Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengatakan dalam fatwanya, "Seorang anak gadis yang telah baligh, berakal dan cerdas, tidaklah boleh ayahnya berbuat sesuka hati terhadap harta kepunyaannya kecuali kalau dia suka. Dan si ayah tidak boleh bersikeras memaksakan mengeluarkan harta anak gadis itu di luar sukanya. Padahal mengeluarkan semua harta miliknya tanpa relanya, lebih mudah daripada mengawinkannya dengan orang bukan pilihannya sendiri, tanpa relanya." Sehingga tertolaklah mereka yang mengatakan bahwa Islam semena-mena terhadap perempuan dalam perkara pernikahan.

Ada lagi, yang protes karena laki-laki dapat dengan begitu mudahnya menceraikan istrinya. Sementara wanita tidak demikian. Dalam agama lain, bahkan cerai pun dilarang, tapi mengapa Islam memperbolehkan? kata Buya Hamka, "Sebab bercerai atau thalaq itu bukanlah hal yang musti panas-panasan atau menimbulkan permusuhan saja. Cara damai pun bisa cerai." Cerai adalah pintu terahir, ketika rumah tangga sudah tidak dapat dipertahankan. Maka cerai, terkadang adalah solusi terbaik ketika melanjutkan biduk rumah tangga justru melahirkan kedzaliman-kedzaliman.

Demikian Buya Hamka dalam buku ini mengingatkan betapa Islam sangat menghormati perempuan. Bahkan menjadi nama salah satu surat dalam Alquran. Islam justru hadir untuk menempatkan perempuan sesuai kodratnya. Sehingga teraturlah hidup ini. Bahagia hidup ini, jika perempuan-perempuannya taat dan sanggup menjaga diri.

Book Review #81. Review Kedudukan Perempuan dalam Islam. Hamka. Pustaka Panjimas, Cetakan 1,1987, 98 halaman. Selesai baca pada Juni 2016 
loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Kedudukan Perempuan dalam Islam "