Memimpin Seperti Thalut

Seorang pemimpin dipilih bukan hanya karena ketakwaannya kepada Allah, tetapi ia juga adalah seorang yang dianggap layak untuk menjalankan misi kepemimpinannya. Sebagaimana Allah memilih Thalut sebagai raja, sekaligus panglima perang Bani Israil melawan pasukan Jalut. Allah tak memilih Nabi Dawud, atau siapapun dari kalangan Bani Israil yang memiliki harta dan kekayaan yang banyak atau dari keturunan Yahudza. Tapi Allah memilih Thalut, seperti yang diabadikan dalam Quran surat Al-Baqarah ayat 247, karena Dia telah menganugerahi Thalut ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.

Begitu pun memilih pemimpin dalam organisasi atau sebuah instansi seharusnya tidak hanya ditentukan oleh gelar formil atau kekayaannya atau kesukuannya atau ketampanannya atau ketenarannya. Tetapi yang paling utama, ia haruslah orang yang bisa mengemban misi organisasi, yang bisa mewujudkan visinya, yang bisa bergerak dan menggerakkan, yang memiliki pandangan jauh ke depan.

Memilih pemimpin tidaklah sama seperti memilih seorang juara kelas, atau coverboy, atau artis terpopuler, atau orang terkaya, atau apapun yang berkenaan dengan tampilan-tampilan luar semata. Tetapi pemimpin seharusnya lahir dari cita-cita besar yang hendak diwujudkan, dari beban berat yang hendak dipikulkan, dan dari perjalanan panjang yang akan ditempuh menuju kemenangan. Seorang pemimpin haruslah orang yang paling memahami ketiga hal itu. Seperti halnya kisah Thalut yang akhirnya memenangkan pertempuran melawan Jalut dan pasukannya dengan strategi-strategi brilian yang tidak hanya ditujukan untuk menaklukkan lawan tetapi juga memilih prajurit-prajurit terbaiknya.

Rafif, 5 Mei 2013
loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Memimpin Seperti Thalut"