Menyikapi Kekalahan

Suatu ketika, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib mengadukan satu perkara ke hadapan hakim Shuraih. Seorang Yahudi telah mencuri baju besi miliknya. Maka hakim Shuraih yang dikenal bijak mendudukkan keduanya. Ia mempersilahkan sang khalifah menunjukkan bukti-bukti dan memberikan keterangan. Begitu pula dengan orang Yahudi yang dituduh mencuri tadi.
Keputusan hakim Shuraih begitu tegas dan lantang: "Baju besi itu milik orang Yahudi dan dia dibebaskan dari segala tuntutan!"
Sang khalifah tetap tenang. Bagaimanapun ia yakin bahwa baju besi itu adalah miliknya, namun ia bersabar. Sebaliknya, Si Yahudi terharu. Ia menitikkan air mata. Ia merasa sangat dihormati, hatinya tersentuh dengan keindahan Islam. Maka, dengan suka rela, ia mengakui kesalahannya. Ia mengembalikan baju besi itu pada sang khalifah, memeluk beliau, dan kemudian mengikrarkan diri masuk Islam!
Sebagai hadiah, Ali bin Abi Thalib memberikan baju besi itu padanya.
Betapa kisah ini memberikan banyak pelajaran pada kita. Bahwa memperjuangkan kebenaran adalah kewajiban, mempertahankan hak adalah keharusan. Tetapi harus dengan cara yang benar. Bisa saja Ali bin Abi Thalib menggunakan kekuasaannya dan menghukum si pencuri, tapi beliau memilih melaporkannya pada pengadilan. Meski pada akhirnya beliau dinyatakan kalah, tetapi beliau yakin bahwa kebenaran tidak akan berkurang kadarnya hanya karena kekalahan. Justru, kekalahan adalah ujian bagi kita apakah kita tetap setia pada kebenaran atau justru berpaling darinya dan memilih menghancurkan kebatilan dengan cara-cara yang batil.
loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Menyikapi Kekalahan"