Nasionalisme Muhammad

Nasionalisme, kata Emha Ainun Nadjib dalam pengantar Nasionalisme Muhammad ini, adalah dataran terendah dari hakiki kemanusiaan. Nasionalisme adalah 'perangkat keras' untuk menjalankan program software ynag bernama universalitas kemanusiaan.

Cak Nun melalui buku ini mengajak kita melakukan perenungan panjang, menelusuri kisah-kisah Al Mustafa, lalu mengkritik diri dan bangsa yang tak kunjung bangun dari kejumudannya. Salah satunya, Cak Nun menulis: Ialah bahwa sesudah Wali Sanga, kaum muslimin Indonesia hampir tidak pernah lagi memiliki tokoh-tokoh yang memiliki kualitas dan kepribadian yang katakanlah mampu merangkum dua dimensi keulamaan sekaligus: keulamaan fiqih dan keulamaan tasawwuf. (Hal 10)

Hal yang tak kalah penting, kejumudan atau bahkan melemahnya pribadi muslim jangan malah ditularkan pada yang lain. Sehingga kelemahan itu kemudian berkembang secara masif dan dalam satu pukulan ringan jatuhlah umat Islam. Kita harus berusaha tegak berdiri memperjuangkan nasib. Dengan cintalah perubahan besar akan tercapai. Tetapi memang, semua orang paham bahwa mencintai sangatlah tidak gampang. Mencintai haruslah sangat memberi, kata Cak Nun, tetapi pada saat yang sama harus juga sangat egoistis. Egoistis dengan ideologi yang diyakininya, misalnya.

Semacam timbul kesadaran untuk mempertahankan prinsip-prinsip yang mengakar. Sebagaimana dulu para pejuang kemerdekaan mencintai bangsa dan tanah airnya. Penjajahan atau pengekangan hanya akan memperbesar daya juang. Pelarangan jilbab di sekolah yang terjadi di zaman orba hingga muncul gerakan jilbabisasi adalah satu contoh bahwa ketika hak-hak keberagamaan dibatasi, perlawanan akan semakin digalakkan. Cak Nun menulis: Justru ketika sekolompok manusia merasa ditekan, merasa menjadi pinggiran dan merasa akan musnah, maka tumbuh dan berkembanglah sebentuk kesadaran untuk mempertahankan eksistensinya. (Hal 100-101)

Buku ini merangkum karya-karya Cak Nun yang terserak. Beberapa memang terlihat tidak saling berhubungan meski tetap dalam kerangka besar "Nasionalisme Muhammad". Pada judul tulisan lainnya, Cak Nun beralih pada kritiknya terhadap dakwah kampus. Ini salah satu masukannya itu: "Dakwah di kampus perlu dirumuskan secara jelas. Apakah akan digunakan untuk mencari kebenaran obyektif dalam rangka ilmu atau mencari kebenaran sejarah dalam kerangka politis. " Lalu juga mengkritik karya sastra kita yang kata beliau masih berada pada tingkat "boleh tidak ada", masih 'mubah' belum pada tingkat sunnah apalagi wajib. Maksudnya adalah, dari segi muatan isi, estetika dan makrifat keilmuan, sastra kita belum cukup mumpuni. Kritik berlanjut hingga ranah seni dan film. Kita masih menjadi konsumen utama dari film-film liberal-telanjang, teater yang suka maksiat, budaya night club, dan lain-lain dan tak berusaha untuk menciptakan media yang sama untuk mmbendung dan berperang melawan kejahiliyahan itu. Malah sebagian, justru membenci menonton film, menganggap rendah teater tak ada gairah melakukan perlawanan dengan mengislamisasi mereka.

Kritik Cak Nun terus berlanjut. Tak luput pula, mantan presiden Indonesia dikritiknya. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dinilai Cak Nun yang terlalu mudah menilai orang lain sektarian, primordial, dan tidak demokratis. Seperti menganggap yang berbau Arab adalah primordial dan sektarian, termasuk jilbab. tetapi anehnya rok mini yang dari Barat tidak dianggap primordial. Padahal, masih kata Cak Nun, rok mini itu primordial sekali.

Tidak apa-apa, katanya, saya satu-satunya orang Indonesia yang berani mengejek Gus Dur.

Book Review #79. Review Nasionalisme Muhammad. Emha Ainun Nadjib. Sipress, Cetakan 1,1995, 170 halaman. Selesai baca pada Juni 2016


loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Nasionalisme Muhammad"