Negara Ideal Menurut Islam

Adakah negara ideal itu? Jika benar ada, seperti apa bentuknya? Sejak-sejak berabad-abad lalu, Islam telah memberikan gambaran yang terang tentang konsep sebuah negara. Bahkan bukan hanya sekadar teori, bentuk negara Islam itu sudah dipraktekkan dan benar-benar teruji. Kita mengenalnya sebagai khilafah Islamiyah.

Abu Abdul Fattah Ali Ben Haj dan Muhammad Iqbal dalam bukunya "Negara Ideal Menurut Islam" ini mengungkap tentang Al-Khilaafah alaa manhaj an-nubuwwah (pemerintahan menurut sistem nabi). Mendirikan kekhalifahan, tulisnya, merupakan kewajiban yang sangat urgen dan fundamental. Ia berdiri sebagai asas agama paling agung dalam tatanan hidup manusia. Bahkan ia menjadi al-faradh al-akbar (kewajiban terbesar) yang darinya terefleksi semua urusan kewajiban-kewajiban lainnya.

Sejaknya runtuhnya kekhalifahan Turki Ustmani, umat Islam terpecah belah dan masuklah berbagai macam ideologi termasuk sekulerisme yang ingin memisahkan antara persoalan agama dan negara. Padahal sejatinya, negara tak bisa dilepaskan begitu saja dari agama. Negara adalah sarana untuk menebarkan Islam yang rahmatan lil 'alamin.

Dalil-dalil baik dari Alquran, As-Sunnah, Ijma ulama, hingga qaidah asy-syar'iyah sudah sangat jelas memerintahkan umat Islam untuk membangun suatu sistem kekhalifahan yang kokoh. Sebuah negara yang menjadikan Alquran dan sunnah sebagai dasar dan hukumnya. Para ulama dan cendekiawan Islam juga angkat bicara tentang penegakan sistem khilafah ini. Al-Mawardi misalnya, sampai mengarang Al-Ahkam As-Sulthaniyah dan mengatakan tentang wajibnya mengangkat pemimpin untuk mengurusi umat dalam kitabnya itu. Ulama lain seperti Abu ya'la, Imam Asy-Syaukani, Ibnu Taimiyah, Ibnu Khaldun, Ibnu Hazm, Al-Qurthubi, Al-Haitsami, Imam Nawawi, Al-Jurjani, Imam Haramain, Dr Ziauddin, Abdul Qadir Audah, dll kurang lebih sependapat dengan Al-Mawardi tentang hal ini.

Bahkan disebutkan juga bagaimana kewajiban para pemimpin terhadap rakyatnya. Misalnya yang disebutkan Ibnu Hazm Al-Andalusi dalam kitabnya Al-Mahalli juz I halaman 46 ia berkata: "Imam diangkat agar bisa membimbing manusia untuk mendirikan shalat, mengambil dari mereka shadaqah (zakat) dan hukuman dari pelanggaran yang mereka kerjakan, melaksanakan dan menyempurnakan hukum-hukum Allah swt serta berjihad terhadap musuh-musuh mereka." (Hal 49-50)

Ibnu Badiis di dalam kitabnya Aatsaar Ibni Badfis juz 11 halaman 216 berpendapat: "Sesungguhnya kemuliaan tidak akan pernah ada kecuali dengan al-mulk (kekuasaan) dan kekuasaan sendiri tidak bisa ditegakkan kecuali dengan kekuatan yang terdiri dari:
a. Kekuatan fisik (al-quwwah al-jismiyyah)
b. Kekuatan akal atau fikiran (al-quwwah al-'aqliyyah)
c. Kekuatan moral atau prilaku mulia (al-quwwah al-khuluqiyah)
d. Kekuatan harta atau ekonomi (al-quwwah almaaliyyah)
Dan penulis buku ini menambahkan bahwa, kekuatan tidak akan punya "taring" tanpa didukung ilmu, amal, akhlak dan perekonomian yang baik.

Terakhir, penulis menyampaikan satu hal penting: Perlu kita semua menyadari, bahwa rakyat tidak akan pernah rusak jika pemimpinnya baik. Kerusakan rakyat merupakan aksiomatika dari kerusakan pemimpinnya. (Hal. 126)

Buku ini memang tidak bermaksud untuk membedah konsep Negara Islam sebagaimana Al Mawardi dengan Al-Ahkam Al-Sulthoniyyah, hanya memaparkan tentang penting dan perlunya sebuah konsep negara ideal yang berlandaskan Alquran dan sunnah.

Penulis mungkin berharap, agar pembaca memiliki kesadaran bahwa Islam mengatur segalanya termasuk politik dan pemerintahan.

Book Review #78. Review Negara Ideal Menurut Islam. Abu Abdul Fattah Ali Ben Haj & Muhammad Iqbal. Ladang Pustaka & Intimedia, Cetakan 2002, -. 128 halaman. Selesai baca pada Juni 2016
loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Negara Ideal Menurut Islam "