Iman dan Amal Shalih

Iman dan amal shalih memang tak dapat dipisahkan. Jika diibaratkan pepohonan; iman adalah akar sedangkan amal shalih adalah batang, reranting, hingga buahnya. Apakah disebut pohon jika hanya akar menjulang ke dalam tanah sementara batang dan buahnya tiada? Tetapi bagaimana pula sebuah batang bisa kokoh berdiri tanpa akar yang kuat mencengkram?

Pintu masuk ke dalam iman adalah dua kalimat syahadat. Mengucapkan dua kalimat syahadat, kata Buya Hamka, adalah permulaan dari akibat-akibat lain, baik kepercayaan ataupun amal dan usaha. Dua kalimat syahadat adalah pintu, yang apabila telah dilalui kita akan masuk ke dalam satu lapangan luar dari kemurnia batin dan pegangan hidup. Dua kalimat syahadat adalah seakan-akan "Surat Kontrak" yang dengan mengucapkannya kita telah menjual diri kita, bukan kepada orang lain, melainkan kepada Allah yang telah kita akui sebagai Tuhan kita.(Hal.29)

Akan tetapi, betapa banyak kita menyaksikan orang yang telah bersyahadat tetapi jauh dari ajaran-ajaran Islam. Mereka tak gemar melakukan amal shalih, kecuali sangat sedikit. Lalu apa perbedaan mereka dengan umat terdahulu yang dinamakan kaum jahiliyah? Perbedaanya ialah orang yang disebut jahiliyah faham arti tauhid, tetapi tidak mau mengucapkannya, dan orang jahiliyah sekarang pandai mengucapkan tauhid tetapi tidak paham maksud dan isinya. Inilah yang dinamai orang di zaman ini dengan "Jahiliyah Modern"(Hal.31)

Bagaimana hukumnya orang yang demikian itu? Mereka yang bersyahadat tapi terus menerus bermaksiat? Dengan tegas Hamka mengatakan, tidak ada dan tidak mungkin. Tidak mungkin seorang yang mukmin, ishrar terus menerus berbuat maksiat. Kalau terus menerus mengerjakan maksiat atau tidak terus menerus tetapi dengan sadar dikerjakan berulang-ulang, tandanya orang itu bukan beriman. (Hal 45)

Berat memang, apalagi di zaman seperti ini. Padahal dulu saja, Abdullah bin Abbas pernah mengatakan bahwa ketika keluar rumah, seseorang akan berhadapan dengan 700 pintu dosa. Bagaimana kita menghindar dari dosa yang begitu banyaknya. Takwa kepada Allah lah satu-satunya jalan.

Ada satu bahasan menarik dalam buku ini, masih perihal menghindari dosa. Beberapa ulama, semisal Al-Ghazali menganjurkan untuk ber-uzlah atau mengasingkan diri dari keramaian, beribadah dan berdzikir terus menerus kepada Allah. Dengan demikian dosa pun bisa diminimalisir. Tapi Hamka mengkritik pandangan Al-Ghazali ini. "Kalau semua orang uzlah dari pergaulan ramai," tulis beliau, "Bagaimana jadinya masyarakat? Dan akan adakah masyarakat itu? Kalau yang uzlah itu adalah orang yang baik-baik, akan dibiarkanlah orang-orang yang disangka jahat saja yang mesti mengendalikan masyarakat itu? Uzlah adalah sikap yang tidak berani, atau hendak melepaskan diri seorang ke tempat yang selamat."

Meski Hamka banyak membaca dan menulis tentang tasawuf, nyatanya beliau menolak anjuran uzlah yang banyak dicontohkan para ulama sufi itu. Jadi iman tidak boleh terpisah dari amal shalih, dan berbuat baik terhadap manusia adalah bagian dari amal shalih, telah dicontohkan oleh baginda Rasulullah saw kepada kita.

Dengan iman dan amal shalih, niscaya selamat hidup kita. Apalagi jika dalam hidup ini kita senantiasa menjauhi lima perkara, yang oleh Ibnu Qayyim dalam Madarijus Salikin dapat merusak hati dan melemahkan tekad. Kelima hal itu adalah: salah memilih pergaulan, hidup tenggelam dalam angan-angan, menukar tujuan di tengah jalan, banyak makan, dan banyak tidur.

Tentang banyak makan ini, Hamka menceritakan pengalamannya ditegur sang ayah melalui cerita. Cerita tentang Yahudi yang makannya banyak sekali ketika datang dijamu oleh Rasulullah. Setelah makan,si yahudi masuk Islam. Kemudian besoknya, orang itu diajak makan lagi oleh Rasulullah, tapi kali ini makannya sedikit. Maka ditanyalah oleh Rasulullah mengapa makan sedikit, maka jawab dia, "Kemarin sebelum jiwaku terisi dengan iman, ya Rasulullah, makan sebanyak apapun rasanya belum kenyang. Sekarang setelah aku beriman, makan sedikit saja rasanya sudah kenyang."

Ketika iman hadir, memenuhi hati, memang ibarat seseorang yang sedang jatuh cinta. Sementara iman sendiri adalah cinta yang menggelora pada Dzat yang Maha Tinggi. Maka tak heran ketika Tsauban datang menghadap Nabi dengan raut muka yang sedih, terlihat jelas baru saja menangis. "Mengapa engkau mennagis ya, Tsauban?" tanya Rasulullah. Tsauban menjawab, "Saya menangis karena saya terpisah dari engkau satu malam, saya rasakan seakan-akan berpisah satu tahun, sehingga mataku tidak mau tertidur, aku ingat kepada engkau saja, lalu dan berkata dalam hati. Jika mataku tidak mau tidur karena terpisah satu malam saja di dunia ini, bagaimanalah nanti di akhirat ketika engkau berkedudukan bersama Nabi-Nabi dan rasul-rasul sedangkan aku sendiri kalau diizinkan Allah masuk surga tentu tempat tinggalku jauh daripada tempat tinggalmu, tentu di waktu itu kita tidak akan bertemu lagi, ya Rasulullah?" Tsauban menangis dan Rasulullah pun menangis.

Entah ini buku Hamka keberapa yang saya baca. Sudah cukup banyak rasanya. Dan saya disuguhi pengetahuan-pengetahuan baru meski rata-rata yang saya baca itu buku lama. Tetapi yang lebih penting lagi, kata-kata yang buya tulis benar-benar menggerakkan, menggerakkan saya untuk menjadi lebih baik.

Iman dan Amal Shalih. Buku ini adalah paparan yang mungkin tidak terlalu detail, karena tipis isinya, tetapi sarat makna dan tercapai tujuan penulisannya.

Book Review #85. Review Iman dan Amal Shaleh. Hamka. Pustaka Panjimas, Jakarta. Cetakan 2,1984. 144 halaman. Selesai baca pada Juni 2016 
loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Iman dan Amal Shalih"