Marilah Shalat

Meski berjudul "Marilah Shalat", buku ini tidak langsung memulai menyodorkan pembaca perkara bab shalat di halaman pertama. Mula-mula, penulisnya, M. Natsir, menerangkan perihal enam rukun iman. Mulai percaya kepada Allah, kepada malaikat, kepada kitab-kitabNya, kepada rasul-rasulNya, kepada hari akhirat, hingga kepada qada dan qadar.

Baru pada bab 2, setelah terlebih dahulu menjelaskan tentang kalimat syahadat, dijelaskanlah tentang shalat dan macam-macamnya secara mendetail. Karena memang sebagaimana dijelaskan dalam pengantar, bahwa buku ini diperuntukkan bagi para golongan terpelajar yang mempunyai pengetahuan umum mumpuni hanya saja masih sangat awam mengenai seluk-beluk shalat.

Mulai cara bersuci dari hadats kecil dan hadats besar, baik dengan wudhu maupun tayammum, hingga tatacara mendirikan shalat dan bacaan-bacaannya. Tidak hanya shalat wajib lima waktu dan shalat jumat, tetapi juga shalat-shalat sunnah. Termasuk bagaimana tatacara shalat ketika sakit. Diberikan pula pada bagian akhir, kumpulan doa dan dzikir yang semakin memperkaya buku ini.

Mungkin bagi yang sudah mengetahui perihal tatacara dan seluk-beluk shalat, buku ini tidak terlalu menarik. Hanya saja, meriview kembali pemahaman kita tak ada salahnya, bukan? Mengingat shalat adalah tiang agama dan yang pertama kali dihisab kelak di yaumil hisab. Apalagi, ada hal-hal lain yang disisipkan oleh penulis, M. Natsir, sebagai khazanah bagi pembaca.

Salah satunya, misalnya, ketika Natsir menulis tentang masjid. Arti masjid di negeri kita, tulis beliau, telah membeku menjadi tempat shalat biasa saja atau menjadi kantor pencatatan sipil dan mahkamah perceraian atau jadi semacam hotel bagi musafir yang tengah dalam perjalanan. (Hal 87) Padahal menurut beliau, masjid juga bisa bisa menjadi tempat untuk memperbincangkan masalah-masalah keumatan, atau hal yang penting bagi perkembangan masyarakat.

"Kita berseru kepada saudara-saudara kita, yang jiwanya menyala-nyala oleh api cita-cita luhur, yang sekarang masih mencari-cari tenaga pengikat, untuk melaksanakan cita-cita luhur tersebut dalam masyarakat. Kami meminta perhatian saudara atas shalat jumat ini. Di sinilah tempatnya saudara-saudara memahami dunia pikiran dan dunia cita-cita rakyat yang saudara ingin mengangkatnya ke tingkat kecerdasan yang lebih tinggi. Di sinilah tempatnya saudara-saudara mengisi kekosongan yang tetap saja masih ada, sungguh pun saudara telah menciptakan sajak dan gubahan-gubahan yang penuh semangat dalam koran dan majalah-majalah saudara. Di sinilah tempatnya saudara-saudara mendapat kesempatan sich miteinander zu treffen dan untuk mendapat saling mengerti dan percaya-mempercayai, yang saudara amat butuhkan. Kami meminta perhatian saudara atas shalat Jum'at, shalat berjama'ah dan kepentingan masjid."

Book Review #83. Review Marilah Shalat. M. Natsir. Media Da'wah,Jakarta. Cetakan 8,1999, 138 halaman. Selesai baca pada Juni 2016 
loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Marilah Shalat "