Menjelang Hidayah

Ada tiga macam penuntut ilmu: orang yang menuntut ilmu demi akhirat; orang yang menuntut ilmu demi memeroleh tahta, nama, dan harta; dan orang yang terpengaruh setan, yang menjadikan ilmunya sebagai sarana untuk meraup dunia. Demikian Al-Ghazali menerangkan dalam mukaddimah Bidayat al-Hidayah ini.

Dalam buku yang disebut-sebut sebagai Mukaddimah Ihya Ulumuddin ini, Imam Al-Ghazali banyak memberikan wasiat dan nasihat penting tentang hal-hal yang dapat mendekatkan diri kita dengan Allah serta hal-hal yang dapat menjauhkan kita dariNya. Misalnya, nasihat untuk selalu mengingat mati. Jangan mengharapkan umur panjang, kata beliau, karena justru itu akan membuat kita berat dalam mengerjakan amal shalih. Kita akan cenderung mudah menunda-nunda, tidak bersemangat, karena mengira masih akan hidup lebih lama. Tetapi dengan selalu terngiang-ngiang akan mati beberapa saat lagi, semangat pun akan terpompa, kita akan mengerjakan amal-amal terbaik sebagai bekal untuk kehidupan akhirat.

Al-Ghazali juga mewanti-wanti tentang puasa. Bukan tatacara berpuasa, karena kalau itu kita semua sudah tahu. Tapi tentang sesuatu yang sudah terlanjur dianggap biasa dalam melaksanakan puasa, yaitu aksi "balas dendam" saat berbuka. Biarlah saya kutipkan secara utuh nasihat beliau yang sangat berharga itu: "Tujuan berpuasa ialah menaklukkan hawa nafsu dan meningkatkan kemampuan untuk beramal shalih. Jika, ketika berbuka, engkau memakan makanan yang sama jumlahnya dengan jumlah makanan yang tak dapat engkau makan dalam sehari, maka berarti engkau telah mengganti makanan yang tak engkau makan pada siang hari; bila demikian, maka puasamu tak bermanfaat, tambahan pula peutmu tertekan (karena makan berlebihan). Tak ada bejana yang lebih dibenci Allah selain perut yang penuh makanan walau makanan tersebut dihalalkan dalam Islam. Apalagi bila makanan tersebut diharamkan dalam Islam."

Cukup jelas bukan?Al-Ghazali memang lebih banyak membedah akar penyebabnya ketika berbicara tentang dosa dan segala bentuk maksiat. Bahkan dalam satu bahasan berjudul "mengumpat", beliau rahimakumullah mengatakan bahwa ada jenis mengumpat yang tak kelihatan sebagai mengumpat, malah tampak seperti memuji, tapi karena niatnya salah, maka ia digolongkan sebagai mengumpat.
Jika niatmu untuk mengucapkan, "Semoga Allah memberinya kebaikan!" untuk mendoakannya, maka doakanlah ia secara diam-diam. Bila tak demikian, maka sebenarnya engkau tak menghendaki kebaikan dilimpahkan kepadanya, dan dengan demikian engkau berarti telah mengumpatnya. (Hal. 96)
Membaca buku ini, kita disuguhkan kalimat-kalimat yang menggerakkan kita melakukan perenungan panjang dan mendalam. Bagaimana pula jika membaca magnum opus beliau, Ihya' Ulumuddin. Akan ada limpahan semangat yang membuat jantung berdegup lebih kencang, kornea mata basah, akal dan hati yang senantiasa mengingat Allah.

Book Review #84. Review Menjelang Hidayah. Al-Ghazali. Mizan, Bandung. Cetakan 4,1992. 143 halaman. Selesai baca pada Juni 2016 

loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Menjelang Hidayah"