Rumah Kedua Bernama Forum Lingkar Pena

Dan kini saya terpaksa harus menangis.

Karena saya tak ingin eksistensi saya di sini; amanah yang saya pikul ini, menjadi pemantik nyala api di jahannam kelak. Sebab, seperti sabda Nabi, bisa jadi air mata akan menjadi tameng bagi tubuh yang hendak dijilat neraka. 

Saya sudah menyadari, jauh sebelum amanah ini dibebankan di pundak saya empat tahun lalu. Sebelum Mbak Aisy, mantan ketua FLP Jember yang kedua, berkata, “Bisa gantikan saya kan, Dek… gak ada lagi…” Bahwa ini bukan sekadar berbangga-bangga atau urusan popularitas semata. Ini adalah tanggung jawab peradaban, dakwah bil qalam: mencerahkan umat!

Maka saya mencoba, berusaha untuk melaksanakan amanah ini dengan lapang dada, meski berkali-kali saya kecewa saat acara bedah karya hanya dihadiri dua orang saja; saya dan seorang akhwat. Dan terpaksa saya bubarkan. Saya sempat putus asa saat FLP Jember benar-benar telah dalam keadaan sekarat; punggawa-punggawanya berguguran, pulang kampung dan “menghilang”. Tinggallah saya sendirian. Seorang ketua, sekaligus satu-satunya ikhwan. FLP Jember sudah diambang ajal.

Tapi Allah menyelamakan wajihah dakwah ini. Allah tak ingin FLP mati. Hingga di tengah kembang-kempis dadanya, nafasnya yang tinggal satu-dua karena tak mampu menghirup lagi udara “kehidupan”, saya bersama segelintir orang tiba-tiba diberi energi melimpah oleh Allah untuk kembali berkiprah, menjadikan FLP sebagai rumah kedua setelah rumahNya.

Tak berapa lama, membanjirlah anggota-anggota baru yang ingin meng-azzam-kan dirinya untuk bergabung bersama barisan dakwah pena. Meski pada akhirnya, waktu jua yang menunjukkan kepada dunia, siapakah diantara mereka yang bersungguh-sungguh dan siapa yang sekadar bermain-main dan mengharap popularitas atau materi.

Saya mendapatkan banyak anggota ikhwan, seperti yang saya harapkan, saya bahagia karena diantara anggota-anggota baru itu ternyata juga memiliki visi misi dakwah yang begitu luar biasa. Bersama mereka, saya membangun sebuah istana indah di Jember, tempat segala muara kata yang kelak menjadi cahaya bagi umat. Kami biasa menyebutnya, “Istana Cahaya”.

Bersama-sama pula kami berjuang, menghabiskan hari-hari untuk menanam visi dan mimpi, melaksanakan program-program mingguan, bulanan, tahunan. Bersinergi membentuk kekuatan raksasa yang mencerahkan. Saya masih belum bisa melupakannya, saat saya menemukan cinta di mata mereka. Sangat nyata.

Waktu itu akan diadakan sebuah acara besar, sementara Lomba Menulis Cerpen Se-Jatim juga sedang berjalan, acara Talkshow dan pengumumn pemenang juga sedang disiapkan. Tiga bulan sebelumnya kepanitiaan sudah terbentuk, proposal sudah jalan, agenda sudah terjadwal. Namun, kerja keras untuk menyukseskan acara mulai melemah, saat liburan panjang ditambah mudik dan pulkam, kemudian beberapa panitia inti yang jatuh sakit. 10 orang panitia menyisakan hanya segelintir saja. Publikasi digencarkan; mulai woro-woro, pamflet, iklan, sampai mendatangi stasiun TV swasta untuk dapat mempromosikan acara.

Tapi sia-sia, hingga H-3 proposal banyak yang ditolak dengan alasan banyak tersedot oleh acara lain, publikasi dan peserta belum tahu pasti jumlahnya berapa. Mungkin tidak sampai 10 orang waktu itu yang bisa dipastikan ikut. Acara terancam gagal, meski kami tetap bertekad acara itu harus tetap terlaksana. Kas benar-benar minim, peserta juga sangat jauh dari target. Maka malam itu, di hari ketiga sebelum hari H, panitia bertemu untuk membahas permasalahan ini. Diskusi mencari solusi hingga berjam-jam hingga lahirlah sebuah ide, “Setiap panitia harus membawa 15 orang peserta.” Dengan asumsi tiket yang seharga 10 ribu dan panitia yang berjumlah 10 orang, maka akan terkumpul 150 peserta dan dan uang kas sebesar 1,5 juta. Target peserta terpenuhi dan anggaran juga. Sejak itu kami optimis bahwa acara ini akan sukses!

Tinggal 3 hari lagi, semua agenda kepanitiaan terpaksa ditinggalkan untuk sementara, dan kami berfokus pada pencarian 15 orang peserta. Malam harinya, saat koordinasi, setiap panitia telah membayar 150 ribu tunai, sebagai jaminan. Jika target 1 orang 15 peserta tidak terpenuhi maka uang 150 ribu harus direlakan untuk anggaran acara ini. Begitupun jika kurang 3 peserta misalnya, maka uang yang akan kembali ke kantongnya hanya 120 ribu. 30 ribu hangus!

Semua telah bersepakat. Tiga hari itu benar-benar saat yang menegangkan. Ajakan melaui SMS atau mendatangi kos-kosan, dengan berbagai cara kami berusaha mempromosikan acara besar ini. Luar biasa, saat hari H jumlah peserta hampir mendekati target, dan uang kepanitiaan justru surplus! Acara talkshow sukses. Demi Allah, mata saya bekaca-kaca waktu itu. Saya sangat bahagia, sekaligus bangga bersama teman-teman yang sangat mencintai FLP.

Bukankah ini semua demi dakwah?

Setiap kali kami mengadakan acara, maka kami sangat berharap akan menjadi peletup ide dan semangat untuk menulis, untuk berkarya, hingga kemudian jika karya-karya mereka mencerahkan, menginspirasi, kami juga akan memperoleh bagian pahala atas kerja keras itu. Bukankah ini lebih mulia daripada sekadar mengharap materi?

Dulu, ketika pertama kali saya masuk FLP, hingga kemudian terpilih menjadi ketua dalam Muscablub, saya belum menulis cerpen. Kemudian bersama FLP, lahirlah cerpen pertama saya, kedua, dan seterusnya. Dahulu, bersama FLP saya bermimpi akan menulis buku dan saya telah mewujudkannya kini. Bersama FLP saya ingin cerpen saya diakui, dan saat ini telah terbukti. FLP membesarkan saya dan menjaga ghirah saya dalam menulis. Padahal saya tak mendapatkan teori menulis cerpen di FLP, tak medapatkan pelatihan menerbitkan buku di FLP. Tak ada. Tapi saya yakin jika semua dijalani dengan cinta, maka ada atau tidaknya sesuatu menjadi tidak lagi berharga.

Saya tidak akan meninggalkan FLP sebagaimana saya tidak akan meninggalkan aktivitas menulis. Meski saya bisa menulis sendiri di rumah, lalu saya besar sendirian. Saya ingin terus bersama FLP, sebagaimana saya juga ingin bersama mujahid-mujahidah di dalamnya menggapai surga dengan pena. Karena di istana cahaya itulah saya menemukan makna hidup; saat karya-karya saya diapresiasi, saat karya-karya saya ‘dicaci’ dan dikritisi, saat ada yang juga turut bahagia ketika buku saya terbit, saat ada yang ikut tersenyum ketika tulisan saya dimuat media massa, mendapatkan penghargaan kepenulisan.

Dan kini, saya benar-benar terpaksa harus menangis. Jika kemudian masih ada dari kami yang perlahan-lahan meninggalkan FLP karena tak menemukan materi di dalamnya. Tak ada "ghanimah". Tak ada poularitas. Tak ada royalti. Tugas para mujahid-mujahidah yang setia dengan FLP hanyalah memberi sebanyak-banyaknya. Menularkan semangat dan ide. Menginspirasi. Seperti yang telah saya ceritakan, bahwa saya tak pernah mendapatkan ilmu tentang cerpen dan penerbitan di FLP, tapi saya akui bersama FLP saya mewujudkan keinginan untuk menulis cerpen dan menerbitkan buku.

Demi Allah, dakwah akan terus eksis, dan saya yakin FLP juga akan tetap eksis, ada atau tidak adanya kita di dalamnya. Jika kita mundur atau berhenti maka Allah akan mengganti yang lebih baik daripada kita. Yang ikhlas, yang besar jiwa pengorbanannya. Yang besar kesungguhan dan tekadnya.

9 Februari 2010

Tim FLP Jember periode 2009-2011
peserta talkshow yang membludak, buah komitmen dan kerja keras
acara Talkshow "How to Be A Smart Writer"



loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Rumah Kedua Bernama Forum Lingkar Pena"