Hijrah,Jalan Menuju Hidayah

Saya akan membuka tulisan ini dengan kisah tiga orang lelaki.

Lelaki pertama, ia sudah sangat mahsyur namanya. Lelaki itu adalah seorang lelaki terkuat yang dimiliki Quraisy. Suatu ketika, dalam perjalanan untuk menunaikan hajatnya membunuh Muhammad, ia bertemu seseorang, mengatakan bahwa saudara kandungnya masuk Islam. Maka didatangilah adik tersayang, ditamparlah pipinya hingga berdarah, dan dipungutnya Al-Qur'an. Ia baca permulaan surat Thaha. Diulang-ulang. Bergetar seluruh jiwanya. Merasuk cahaya hidayah ke dalam ruh dan jasadnya. Dan tak butuh waktu lama untuk mengatakan, "Dimana Muhammad? bawa aku padanya! aku akan masuk Islam!" Dialah Umar bin Khattab.

Lelaki kedua, malam hari hendak memasuki rumah seorang perempuan. Tujuannya untuk mengajaknya berzina. Maka dilihatnya dalam rumah itu seorang gadis cantik rupawan sedang bersenandung. Ia amati, ia dengarkan dengan seksama. Rupanya itu bukan nyanyian, itu bacaan Al-Qur'an. Surat Al-Hadid ayat 36: "Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman buat tunduk hati mereka mengingat Allah dan kebenaran yang telah Dia turunkan."  Gemetarlah dadanya, lenyaplah syahwatnya. Tak perlu pikir panjang, ia segera berpaling, melangkahkan kakinya ke Masjid. Ia shalat dan munajat. Sejak malam itu hidupnya berubah total. Lelaki itu bernama Fudhail bin Iyyadh.

Lelaki ketiga, seorang parewa yang cukup ditakuti. Pukul setengah tiga dini hari dikejar sekumpulan massa. Ia melarikan diri dan sembunyi. Sampai datanglah waktu subuh. Didengarnya suara azan berkumandang. Begitu elok dan nikmat terdengar. Meresap ke dalam kalbunya. Dan seketika itu pula hatinya bercahaya. Maka tak berapa lama, sepulang ia ke rumah, pemuda itu meminta kepada ayahnya untuk diantar ke Mekkah. Pulang dari Mekkah ia menjadi ulama besar. Namanya Syekh Muhammad Jamil Jambek.

Iman, Hijrah, Jihad

Tentu masih banyak kisah serupa yang dialami tiga lelaki tadi. Kisah bagaimana keimanan yang kokoh hadir dalam jiwa mereka, iman yang menggerakkan pada perubahan. Total dan menyeluruh. Lalu tumbuh ghirah yang menyala-nyala dalam dadanya, hingga mereka mempersembahkan seluruh hidupnya untuk berjuang di jalan Allah.

“Sesungguhnya orang yang beriman dan berhijrah, kemudian berjihad di jalan Allah dan orang yang membela dan menolong Rasul, itulah Mukmin yang sebenarnya, bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia.” (QS. Al-Anfal 74)

Marilah kita membincang tentang fase perjuangan dengan menapaktilas kembali perjalanan dakwah Rasulullah sejak di Mekkah hingga Madinah.

Ketika pertama kali wahyu turun, Rasulullah mengajak keluarga dan sahabatnya untuk memeluk Islam. Rasulullah mengajak mereka semua beriman kepada satu Tuhan, yakni Allah dan mengakui bahwa Muhammad adalah utusan-Nya yang mulia. Inilah yang dimaksud dengan fase iman, fase yang pertama. Maka di dalamnya akan banyak kita temukan kisah-kisah menakjubkan tentang usaha untuk mempertahankan iman, yang bahkan terkadang harus ditebus dengan kematian. Kisah Bilal bin Rabbah, kisah Sumayyah dan keluarga Yasir, kisah Khabab bin Al-‘Arats hanyalah sebagian dari sekian banyak pengorbanan untuk memegang teguh akidah Islam.

Lalu pada fase kedua, kita sama-sama mengenal peristiwa hijrah. Sebuah perjalanan menuju Madinah dengan tujuan serupa ‘uzlah, agar dakwah dapat tumbuh dan berkembang. Sangat sedikit kaum muslimin saat itu. Tetapi tidak membuat mereka berputus asa dari rahmat Allah. Maka di Madinah, mereka menghimpun kekuatan. Menghimpun para jundullah baru dengan akidah yang sama, dengan iman yang satu.

Sehingga setelah hijrah memekarkan kelopaknya, peperangan demi peperangan untuk mempertahankan izzah adalah sesuatu yang niscaya. Tidak hanya qital, jihad juga harus dinampakkan dengan kesungguhan menjalankan syariat yang berdatangan silih berganti. Pembuktian iman tidak lagi serupa Bilal yang ditindih batu besar melainkan kesiapan dan kesegaraan untuk tunduk dan patuh pada setiap firman dan sabda.
Dan inilah puncaknya. Fathul Makkah! Saat dua belas ribu tentara Islam datang ke Baitullah. Bukan untuk perang, tapi untuk menyongsong sebuah peradaban. Peradaban yang kelak cahayanya masuk ke jendela tiap-tiap negara di seluruh dunia.

Itulah ketiga fase yang disebut perjuangan itu. Fase yang juga selayaknya ditiru oleh kita dalam rangka menjalankan tugas sebagai Hamba Allah, sebagai manusia yang layak mendapat gelar mukmin di sisi-Nya. Keimanan menjadi harga mati. Tak dapat ditawar lagi. Ia harus menjulang kokoh di dalam hati kita. Akar-akarnya menghunjam, sehingga tak dapat dicerabut meski dengan segala kekuatan. Setelah iman, kita memaknai hijrah sebagai perubahan. Perubahan ke arah yang lebih baik dari setiap fikroh, akhlak, dan perilaku kita. Hijrah menuju muslim yang kaffah, yang menjadikan setiap waktunya bernilai ibadah. Kemudian, kita berjihad. Kita berjuang, berdakwah, mengorbankan apa-apa yang kita miliki yang kita cintai untuk Allah, kejayaan Islam dan umatnya. Sehingga kemenangan tercapai dan kita tercatat sebagai bagian dari pelaku kemenangan itu.

Jalan Menuju Hidayah


Inilah yang kita harapkan. Hidayah yang mengantarkan kita pada cita-cita tertinggi: surga. Hidayah berarti petunjuk, taufiq yang terus-menerus kita mohonkan kepada Allah melalui bacaan surat Al-Fatihah. Ihdinash shirathal mustaqim. Jalan lurus, jalan kebenaran.

Dan Allah memberikan hidayah kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Allah, di dalam Alquran juga telah menyebutkan kriteria mereka, orang-orang yang mendapat hidayah itu.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shaleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya. Mereka di dalam surga yang penuh kenikmatan, yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (QS. Yunus: 9)

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-angkabut: 69)

Jadi jelaslah, bahwa orang-orang diberi petunjuk oleh Allah adalah mereka yang beriman, berhijrah, dan berjihad. Tak akan ada hijrah tanpa iman. Tak akan ada jihad tanpa hijrah. Mereka yang meng-azzamkan diri untuk berhijrah akan diuji dengan sesuatu yang tidak menyenangkan. Terkadang harus meninggalkan harta, keluarga, dan orang-orang tercinta. Terkadang dicaci, diintimidasi, dicibir, dibenci, bahkan didzalimi. Tetapi iman yang kokoh menjadikan mereka pantang surut ke belakang. Hijrah mereka karena Allah, dan Allah menurunkan ketenangan ke dalam hati mereka.


“Segala puji bagi Allah yang telah memberi hidayah kami ke (surga) ini, dan kami tidak akan mendapat hidayah (ke surga) kalau sekiranya Allah tidak menunjukkan kami.” (QS al-A’raaf: 43).

(Dimuat di Majalah SQ Edisi Okober 2016). Bagi yang ingin mendapatkan majalah ini atau menjadi donatur Yayasan Dompet Al-Quran Indonesia (DeQI), sebuah lembaga sosial yang berfokus untuk menyantuni anak yatim penghafal Qur'an, bisa menghubungi saya atau situs resminya www.dompetalquran.org
loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Hijrah,Jalan Menuju Hidayah"