Malin Kundang Tak Pernah Dikutuk Jadi Batu

Kisah Malin Kundang dari Tanah Minang sudah tak asing lagi kita dengar. Sebagian meriwayatkan bahwa Malin Kundang yang durhaka itu dikutuk menjadi batu oleh sang ibu. Tetapi Sardewa, dalam buku Malin Kundang ini tidak menyebutkan hal yang demikian. Mari kita simak ringkasan kisahnya.

Ibu Malin Kundang itu bernama Mande Rubayah. Suaminya hanyalah seorang pencari kayu bakar. Kehidupan mereka sangatlah miskin. Tetapi kemudian, setelah mereka berdua hijrah ke kota di tepi pantai, kehidupan mereka berangsur membaik. Di tengah-tengah rasa syukur itu, lahirlah Malin Kundang melengkapi kebahagiaan.

Ketika berusia 9 tahun, Malin Kundang terjangkit penyakit kolera. Mande Rubayah sedih dan gelisah. Lama nian penyakit Malin Kundang tak kunjung bisa disembuhkan. Kesedihan itu mencapai puncak, ketika kabar datang bahwa sang suami karam di tengah lautan, saat mencari nafkah menjala ikan.

Mande Rubayah berusaha tegar. Malin Kundang telah segar bugar. Ia menggantikan ayahnya mencari nafkah. Kehidupan pun kembali sumringah. Sampai suatu hari di bulan Safar, Malin menyampaikan keinginannya bepergian ke Malaya. Ia hendak merantau, mencari penghidupan yang lebih menjanjikan. Dengan berat hati, sang ibu mengizinkan.

Rupanya Malin Kundang sangat beruntung. Ia menjadi saudagar termasyhur. Beristri putri saudagar kaya raya pula yang cantik jelita. Kehebatan dirinya itu hendak ia pamerkan pada penduduk kampung halaman. Ia pun menempuh pelayaran pulang.

Setibanya di sana. Mande Rubayah, ibu Si Malin, datang menyapanya. Tapi Malin Kundang pura-pura tidak mengenal dan justru mengusirnya. Ibu mana yang tak sakit hatinya mendengar dengan telinga sendiri anaknya berucap durhaka. Maka ia pun berdoa, "Ya Tuhanku, dengarlah pintaku. Tunjukkanlah kebesaranMu sehingga terbukti bahwa ia sebenarnya anakku. Kalau sebenarnya dia anakku, Engkaulah yang lebih mengetahui hukuman apa yang patut diberikan padanya. Ya Tuhanku, Engkaulah yang Maha Mengetahui dan Engkaulah yang menentukan segala-galanya." (Halaman 28)

Demikianlah doa Ibu Si Malin yang sebenarnya. Tidak mengutuk secara terang-terangan Malin menjadi batu. Lagi pula, meski ini hanya cerita tak nyata, ibu mana yang tega mendoakan keburukan buat anaknya. Meski si anak telah berbuat durhaka.

Rupanya-rupanya saya telah terpengaruh pula gaya bahasa Sardewa dalam menulis ini cerita, sehingga ringkasan cerita yang saya tulis hampir serupa.

Book Review #88. Review Malin Kundang. Sardewa. Penerbit Tarate,Bandung. Cetakan 6,1980. 28 halaman. Selesai baca pada 20 November 2016 
loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Malin Kundang Tak Pernah Dikutuk Jadi Batu"