Masyumi, PDI-P, dan Matinya Demokrasi

Inilah kematian demokrasi yang sesungguhnya. Tahun 1960, saat Soekarno memaksa Masyumi membubarkan diri. Padahal, kata Buya Syafi'i Ma'arif, Masyumi adalah pembela demokrasi yang paling terkemuka. Soekarno telah mengubur dalam-dalam cita-cita besar Masyumi untuk menegakkan kedaulatan NKRI dan menjadikan toyyibatun wa rabbun ghafur.

Lagi-lagi Buya Syafi'i Ma'arif mengatakan bahwa pembubaran Masyumi adalah kecelakaan terbesar dalam sejarah perpolitikan tanah air. Karena setelah hari keramat itu, napas Masyumi tak bisa dipulihkan. Presiden yang baru, Soeharto pun tak menghendaki Masyumi tumbuh.

Kini, anak tercinta sang otoritarian, sang ratu abadi partai berlambang banteng dan para pendukungnya yang kalah dalam sidang paripurna  mengatakan pemilihan kepala daerah lewat DPRD adalah tanda matinya demokrasi. Tidak hanya itu, sempat santer pula mereka menyemburkan isu pembubaran salah satu partai Islam dengan alasan kadernya menjadi tersangka korupsi. Mereka demikian, seakan-akan semua kadernya bersih, seputih moncong banteng.

Pilkada langsung atau tak langsung sesungguhnya bukanlah perkara yang substansial, yang bisa mengubah haluan demokrasi. Bagaimana pula dengan demokrasi terpimpin ala Soekarno? mereka hanya mencari dalih untuk menghantam lawan politiknya. Berpikirlah dengan jernih maka persoalan bangsa yang substantif sangat banyak untuk menunggu diselesaikan.

Sekali lagi, PDI-P yang mengaku membawa ruh Marhaennya Soekarno, yang telah begitu tua berjibaku di ranah politik, seharusnya lebih matang dan dewasa. Bukan malah menunjukkan sikap yang kurang elok seperti Aryo Bima dan Maruar Sirait. Bacalah kembali bagaimana sikap para tokoh PNI dalam bersidang di Konstituante, merumuskan dasar negara yang teramat penting. Telitilah dengan seksama bagaimana mereka memaparkan argumen-argumen cerdasnya dengan bahasa yang estetik.

Matinya demokrasi, sesungguhnya sangat sunyi. Dan kerapkali terjadi, adalah saat kalian wahai rakyat memilih pemimpin karena disumpal uang, memilih tanpa berpikir jernih tanpa menyalakan nurani. Matinya demokrasi adalah saat kalian wahai rakyat membenci koruptor sementara kalian melacurkan diri dengan memilih mereka.
loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Masyumi, PDI-P, dan Matinya Demokrasi"