Soe Hok Gie

Belajarlah dari sosok Soe Hok Gie, pemuda kritis dan berani. Ia memiliki empati yang tinggi pada rakyat dan negara yang bobrok. Ia melawan, dengan tulisan. Satu kekurangannya, yang meski satu tapi cukup fatal. Ia membenci politik, ia tak mau terjun dalam dunia politik, meski pada saat yang sama ia menyadari bahwa keadaan tak akan banyak berubah ketika tangan-tangan penguasa belum dicuci atau menyingkirkan mereka sama sekali.

Tulisan saja tidak cukup. Memaki atau mengkritik saja tidak cukup. Untuk mengubah, kau harus terjun sedalam-dalamnya dalam panggung politik. Negara ini tidak dibangun dari susunan kata-kata, ia harus tegak atas cita-cita dan kerja nyata. Jika kau membenci kebobrokan tapi tak melakukan apa-apa sama sekali, bahkan hanya sekadar datang ke TPS untuk memilih wakilmu di senayan, maka sesungguhnya dirimu sendirilah yang patut dibenci. Karena kau diam, tak bergerak menyaksikan kezhaliman bertubi-tubi.

Gie sendiri sebenarnya menyadari bahwa mahasiswa dengan elemen politiknya di kampus memiliki peran signifikan untuk mengubah keadaan, mau tidak mau ia pun ikut terlibat meski menolak menjadi pemimpin gerakan. Terbukti mahasiswalah yang kemudian melengserkan Soekarno dari singgasananya. Tak ada yang lebih kuat dari gerakan politis mahasiswa untuk menumbangkan kekuatan penguasa.

Sementara tulisan ia bisa menjadi bahan bakar. Ia harus memiliki kekuatan mengubah, bergerak dan menggerakkan. Seorang penulis yang hanya diam tanpa bisa melaksanakan kata-kata yang dimuntahkannya hanya akan dicatat sejarah sebagai orang kerdil.

Sayang, Soe Hok Gie mati muda. Sehingga kita tidak tahu bagaimana perjalanan hidup mengantarnya pada pilihan; naik gunung atau konsisten melawan kediktatoran yang ia benci. Manakah yang lebih ia cintai. Tentu tak harus dibenturkan, tapi perjuangan bahkan tak memberikan jeda nafas untuk menikmati sekepal roti. (@RafifAmir)
loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Soe Hok Gie"