Ulama dan Politik

Anis Matta, ketika lawatannya ke Ponpes Lirboyo pernah menyampaikan tentang relasi antara negara dan agama, tentang pemuda Islam yang harus menguasai wacana kebangsaan di era gelombang ketiga. Orasi ini nampaknya mengerucut pada satu simpulan bahwa setiap muslim harus mampu berbicara politik. Politik dalam maknanya yang luas. Sebagaimana pernah dikumandangkan oleh seorang tokoh NU, KH. Abdulwahab Hasbullah bahwa "Islam dan politik tidak bisa dipisahkan sebagaimana gula dan rasa manisnya."

Kita tidak bisa membayangkan apa yang terjadi dengan negara demokrasi ini jika dulu para ulama Islam tidak terlibat dalam kancah politik. M. Natsir, KH. Agus Salim, KH Wahid Hasyim, KH. Mas Mansur, dan sederet tokoh lainnya yang mewarnai republik sejak sebelum hingga sesudah kemerdekaan.

Bahkan, KH. Saifuddin Zuhri, tokoh NU yang pernah menjabat sebagai menteri Agama di era Sukarno, mengatakan dalam bukunya Kaleidoskop Politik di Indonesia, "Di kalangan para ulama, ilmu politik termasuk suatu keharusan. Bukan karena hendak 'verpolitisir', tetapi karena jalan menuju 'Izuul Islam wal Muslimin juga ditempuh melalui politik dalam arti yang benar."

Oleh karenanya, sungguh sangat disayangkan, jika kita umat Islam masih sibuk mencela ulama yang berpolitik. Selentingan sering terdengar, "Kalau jadi kyai ya gak usah berpolitik. Dakwah ya dakwah. Politik ya politik." Ini terjadi karena kita, umat Islam, belum bisa memahami Islam secara benar. Apatah lagi bisa memahami bangsa yang majemuk ini dengan segala problematikanya. (@RafifAmir)
loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Ulama dan Politik"