Impian Hari Ini, Kenyataan Esok Hari


“Kenyataan hari ini adalah mimpi kemarin dan impian hari ini adalah kenyataan esok hari.” (Imam syahid Hasan Al-Banna)

“Berangan-anganlah kalian,” kata Al Faruq Umar bin Khattab RA, di suatu majelis kepada para sahabatnya. Maka diantara mereka pun berkata, “Seandainya rumah ini dipenuhi emas dan aku menginfakkannya di jalan Allah.” Yang lainnya berkata, “Aku berangan-angan seandainya memiliki intan dan permata sepenuh ruangan ini untuk kuinfakkan di jalan Allah dan kusedekahkan.” Kemudian Umar berkata, “Aku berangan-angan seandainya rumah ini penuh dengan orang-orang seperti Abu ‘Ubaidah bin Jarrah, Muadz bin Jabal, Salim Maula Abi Hudzaifah, dan Hudzaifah bin Yaman.”

Angan-angan, mimpi, impian, cita-cita atau apapun namanya adalah sesuatu yang membuat kita bergairah dalam hidup. Impian menggerakkan manusia untuk melakukan kerja-kerja besar yang menyejarah. Seperti Muhammad Al-Fatih, Sang Penakluk Konstantinopel di usia 23 tahun. Ia terus memelihara obsesinya menjadi seperti yang disabdakan Rasulullah SAW dalam sebuah hadits; menjadi sebaik-baik panglima. Mimpi itu menggumpal menjadi tekad yang besar, dan untuk itu, Al-Fatih berjuang memantaskan diri. Tidak sekalipun absen shalat berjamaah, tidak pernah mengkhatamkan Alquran lebih dari sebulan, tidak pernah cuti shalat malam meski dalam kondisi sangat letih sekalipun. Maka 250.000 pasukan menjadi saksi dalam perang 59 hari itu, kegemilangan Al-Fatih dalam menaklukkan negeri terkuat selama lebih dari 7 abad.

Begitulah, saya selalu melihat orang-orang besar dulunya punya mimpi yang melangit. Terkadang seperti mustahil, tapi sebenarnya tidak ada yang mustahil di muka bumi jika yang Maha Kuasa menghendaki sesuatu yang kita impikan itu terjadi. Asal saja kita tidak meminta hidangan turun dari langit atau sesuatu yang di luar nalar dan tidak mengandung nilai-nilai perjuangan.

Terkadang kita juga tidak mengerti, bagaimana mimpi-mimpi bisa bekerja merealisasikannya menjadi nyata, terlepas dari yang pasti tentang tangan-tangan Tuhan yang bekerja membawa kita pada kenyataan itu. Tapi tentu kita juga percaya, sebagaimana hukum sabab musabab, bahwa segalanya terjadi tidak dengan serta merta.

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikuti bergiliran, di muka dan di belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Ssesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS Ar-Ra’d:11)

Jika Theodor Herzl saja, lewat bukunya Der Judenstaat sanggup merealisasikan mimpinya yang keji untuk mendirikan sebuah Negara Yahudi, mengapa kita yang punya Allah, Penguasa langit dan bumi, enggan bermimpi besar, menjadi bagian dari orang-orang yang mengubah peradaban. Atau setidaknya bercita-cita, bertekad, mengubah diri sendiri menjadi lebih baik dari hari ke hari.

Abdullah bin ‘Umar, putra Al-Faruq bahkan memiliki impiannya sendiri. Ketika sahabat-sahabatnya yang sebaya bermimpi menjadi khalifah, menjadi gubernur, memiliki istri dari kalangan terhormat, ia mengatakan, “Saya berangan-angan seadainya Allah mengampuniku.” Harapan yang terkesan sederhana namun begitu dahsyat. Karena apalagi cita-cita tertinggi setelah berakhirnya kehidupan? Kecuali rahmat dan ampunan Allah, sehingga kelak Dia memasukkan kita ke dalam surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai.

Lain lagi dengan Abdullah bin Jahsyi, dengan semangat membara, ia merencanakan kematiannya.”Ya Allah, aku bersumpah kepadaMu!” saat itu malam, sebelum perang uhud dimulai. “Besok pagi aku akan bertemu dengan musuh. Aku akan membunuh mereka, dan mereka akan membunuhku. Lalu mereka akan membedah perutku, mengiris hidungku, dan merobek telingaku. Lalu aku akan menghadapMu dan Engkau bertanya padaku, ‘Demi siapa ini semua?’ maka aku akan menjawab, ‘UntukMu.”

Sa’ad bin Abi Waqqash terisak ketika mengisahkan ini dan berkata, “Dia mendapatkannya. Dia mendapatkannya...” Abdullah bin Jahsyi syahid dan mengalami persis seperti yang ia minta.

Itu pula yang terjadi pada salah seorang pemimpin HAMAS, Dr. Abdul Aziz Ar-Rantisi. Beliau mengatakan, “Apakah kita takut mati? Sesungguhnya kematian karena kanker atau dibunuh sama saja. Kita semua menunggu akhir dari kehidupan kita. Tidak akan ada yang berubah, apakah dengan Apache atau dengan berhentinya detak jantung. Saya lebih suka memilih mati dengan Apache…” Impian itu benar-benar terwujud setelah Israel menghantam mobil yang beliau tumpangi dengan roket apache.


Memelihara Mimpi

Mimpi bermula dari angan-angan atau imajinasi. Imajinasi berarti membayangkan sesuatu sehingga seolah-olah melihat atau mengalami langsung. Banyak hasil penelitian yang mengejutkan perihal kekuatan imajinasi ini. Salah satunya yang akan saya ceritakan berikut ini.

Ada tiga kelompok pemanah yang masing-masing diperlakukan secara khusus. Kita sebut saja kelompok A, B, dan C. Kelompok A diminta untuk latihan memanah setiap hari. Kelompok B hanya diminta melihat kelompok A ketika sedang latihan. Kelompok C diminta mengimajinasikan, membayangkan mulai bagaimana mereka memegang busur, menarik anak panah, hingga melesatkannya pada sasaran. Latihan-latihan itu terus diulang setiap hari. Sehingga pada suatu hari, dikumpulkanlah tiga kelompok ini. Hasil yang mencengangkan diperoleh, bahwa prosentase pemanah yang dapat memanah tepat sasaran antara kelompok A dan kelompok C hampir sama, yaitu berkisar di angka 83%!

Penelitian ini menunjukkan bahwa imajinasi menjadi faktor penting untuk meraih kesuksesan. Saya sendiri percaya bahwa setiap orang memiliki impian. Hanya mungkin dengan kadar yang berbeda dan berbeda pula pengejawantahannya dalam hidup. Berbeda dalam menyikapi mimpi dan mengelolanya menjadi suatu energi yang  mengantarkan kita pada terwujudnya impian-impian itu.

Padahal, sebenarnya sederhana sekali cara kita memelihara mimpi. Dengan bertumpu pada visi hidup yang jelas, kita akan menyusun program-program berkesinambungan, membuat target-target harian, bulanan, tahunan, hingga lima tahun yang akan datang. Tuliskan semua target yang ingin kita capai tersebut kemudian fokus untuk mewujudkannya satu persatu. Lakukan evaluasi berkala terhadap target-taget yang telah kita tulis dan berusaha untuk menyempurnakan kekurangannya, hingga pecapaian target mencapai seratus persen.

Saya yakin jika kita konsisten melakukan apa yang saya sebutkan di atas, mimpi-mimpi yang telah kita tulis akan bermetamorfosis menjadi suatu keajaiban hidup. Barangkali kita akan memeluk mimpi-mimpi lalu dan meningkatkan kadarnya untuk kehidupan mendatang. Tak lupa, tentu kita akan berterima kasih kepada Allah yang telah menciptakan serangkaian takdir dengan mengabulkan mimpi-mimpi kita.

Karena sebenarnya, mimpi itu sendiri adalah doa. sedangkan doa dan takdir bertarung di langit. Maka adalah hak Allah jika kemudian Dia memenangkan doa dan impian kita untuk turun ke bumi menjadi peristiwa seperti yang kita kehendaki.

Percayalah, hal ini benar-benar terjadi! (@rafif_amir)


(Dimuat di Majalah SQ Edisi Januari 2017). Bagi yang ingin mendapatkan majalah ini atau menjadi donatur Yayasan Dompet Al-Quran Indonesia (DeQI), sebuah lembaga sosial yang berfokus untuk menyantuni anak yatim penghafal Qur'an, bisa menghubungi saya atau situs resminya www.dompetalquran.org

sumber gambar: brainjet.com
loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Impian Hari Ini, Kenyataan Esok Hari"