Jebakan Cinta Faust

sumber gambar: videodrome2.fr
Sejak awal, Faust sadar bahwa percintaannya dengan Margaretha adalah jebakan iblis untuk melemparkannya ke titik paling sengsara. Ia rela mencemplungkan diri ke dalam neraka bersama kekasihnya demi sesaat yang bergairah dan hangat.

Kisah yang dipopulerkan Goethe dalam Mahakaryanya itu adalah cermin manusia sesungguhnya. Terutama lelaki yang seringkali kalah dalam memerangi nafsu. Mengatasnamakan cinta sebagai pelampiasan kedigdayaan nafsu.

Tidak hanya sampai di situ, setelah puas mereguk nikmat, ia akan tinggalkan kekasih yang katanya sangat ia cintai. Ia campakkan wanita yang telah ia nodai kehormatannya, kemudian bersama setan menuju angkasa, mencari kenikmatan lain dari dunia.

Margaretha yang mewakili sosok wanita yang seringkali menjadi korban keganasan cinta palsu dan romantisme maut yang ditiupkan ke telinga, harus merasakan sekarat dan luka yang sangat sambil menyebut nama lain Faust. Tapi begitulah, penyesalan selalu di akhir. Margaretha menyambut permainan api Faust sehingga sekujur tubuhnya terbakar. Tetapi ia menyesali kesalahan setelah terpuruk dalam kehinaan. Penyesalan itu yang menjadikannya kembali menjadi manusia.

Begitupula yang menjadi pemandangan sehari-hari kita. Muda-mudi bercengkarama, asyik berduaan, berpegangan, bersentuhan, lalu tak berselang lama si wanita telah berbadan dua. Itulah nafsu yang dibungkus dengan iming-iming "cinta". Mereka tak bisa membedakan keduanya. Padahal cinta mengalirkan kebaikan sedangkan nafsu mengajak pada perbuatan keji dan nista. Ujungnya adalah, kesengsaraan. (@RafifAmir)

loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Jebakan Cinta Faust "