Ketika Para Orangtua Berhenti Membaca

usia membaca, gambar via b-youth.blogspot.com
Seseorang bertanya, apa yang membedakan anak-anak dan orangtua dalam hal membaca? yang membedakan adalah jenis bacaannya. Anak-anak membaca cerita, orang dewasa membaca buku tabungan. Ohya, ada lagi perbedaannya, anak-anak "dipaksa" orangtua mereka untuk membaca sedangkan orangtua "terpaksa" berhenti membaca "demi" anak-anak mereka.

Dua jawaban tadi mungkin akan sedikit membuat para orangtua tersenyum. Karena itulah kenyataannya. Dan anak-anak mereka nantinya akan mengikuti pola mereka: banyak membaca saat masih anak-anak, memutuskan pensiun saat telah bekerja. Seolah membaca hanyalah aktivitas wajib untuk anak-anak.

Saat masuk tahun ajaran baru, para orangtua bersama anak-anaknya berbondong-bondong ke toko buku, untuk membeli buku-buku pelajaran yang wajib dimiliki. Biasanya tidak dengan mencari sendiri sambil sesekali, yah paling tidak, melihat-lihat buku resep masakan, melainkan menyodorkan kertas pada pelayan toko, dan berlalu begitu saja jika buku yang dicari tidak ada.

Ini sedikit potret budaya membaca kita. Tak salah jika Unesco mencatat bahwa minat baca di negara kita adalah 1:1000. Artinya, setiap seribu orang hanya satu yang benar-benar suka membaca. Jadi, jika kita asumsikan jumlah penduduk Indonesia adalah 200 juta jiwa, berarti hanya ada 200 ribu yang benar-benar serius hobi membaca. Saya yakin di antara 200 ribu itu didominasi oleh anak-anak. Bagaimana dengan orang dewasa? secara kasat mata kita sudah bisa melihatnya.

Lantas, mulai kapan dan sampai kapan sejatinya kita harus membaca? kalau kita menyadari bahwa tujuan membaca salah satunya adalah untuk memperkaya wawasan, kenapa harus ada kata berhenti untuk sebuah pekerjaan besar ini. Jika uang dapat menambah harta yang anda miliki, tak tahukah anda bahwa sebuah buku dapat memperkaya kepribadian, wawasan, sekaligus harta anda.

Lalu, mengapa buku dan membaca masih terus terasing dan diasingkan. Semakin bertambah usia, semakin jauh dari buku. Dan kelak, jika sudah tak sanggup beraktivitas, pekerjaan satu-satunya hanyalah duduk sambil melamun, atau melihat kendaraan yang lalu-lalang, karena merasa membaca sudah tak ada artinya lagi. (@RafifAmir)
loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Ketika Para Orangtua Berhenti Membaca"