Buku dan Pizza, Lebih Berharga Mana?

Seringkali saya heran dengan orang-orang yang menghabiskan banyak uang dengan membeli makanan-makanan lezat yang sangat mahal. Padahal ia tahu, kenikmatan yang ia rasakan hanya sebentar. Ketika makanan itu telah habis dan merasa kenyang, makanan yang masuk berikutnya tak lagi terasa nikmat.

Saya juga heran, mereka menjadi sangat boros dalam membeli makanan, akan tetapi berpikir seribu kali untuk membeli buku yang lebih murah dari harga semangkuk bakso. Padahal mereka tahu, makanan adalah asupan bagi perut sementara buku adalah nutrisi bagi otak dan hati. Padahal mereka tahu, makanan hanya akan berakhir sebagai kotoran sementara buku menyimpan segudang ilmu yang dapat mendekatkan mereka pada cahaya kebaikan, cahaya ilmu yang dapat diajarkan.

Pada judul, saya sengaja menggunakan "pizza" sebagai wakil dari makanan. Meski mungkin kurang tepat. Akan tetapi saya hanya ingin mengatakan bahwa kelezatan antara sepotong "pizza" dan buku tidaklah sama. Sepotong "pizza" mungkin hanya bertahan 15-25 menit di lidah dan kerongkongan, tetapi kelezatan membaca buku bisa hingga berhari-hari, bahkan hingga setelah buku itu kita khatamkan. Sewaktu-waktu pun bisa kita baca ulang. Ilmu akan bertambah, kebaikan akan bertambah.

Bagi seorang penulis, buku bahkan menjadi sesuatu yang tak terpisahkan dari kesehariannya. Dengan membaca buku, tulisan-tulisannya menjadi kaya. Dengan membaca buku, ia menulis sebuah buku. Luar biasa! bisakah makanan yang kita makan menghasilkan makanan sebagaimana buku menghasilkan buku?

Makanan memiliki batas untuk ditampung di perut kita. Ketika sudah kenyang, makanan seenak apapun tak lagi terasa nikmat. Tapi buku, ia tak akan pernah menjadikan kepala kita meledak karena jejalan kata-kata. Justru wawasan kita akan semakin luas, dan kita terus akan merasa "haus", sehingga kita merasa nikmat setiap kali membaca.

Jadi, sekali lagi, saya merasa heran, jika ada yang menghambur-hamburkan uang untuk membeli makanan mahal tetapi di rumahnya hanya ada sedikit buku atau mungkin malah tidak ada sama sekali. Jikalau demikian, lalu apa yang membedakan manusia dengan binatang?

Kita sekadar makan untuk bertahan hidup, sementara kita membaca untuk memperbaiki kualitas hidup kita dan kualitas hidup orang lain, ketika ilmu yang kita dapatkan kita amalkan kemudian kita tularkan pada orang lain. Makan-makanan lezat tidak akan membuat kita lantas menjadi lebih kuat dan sakti daripada yang makan makanan biasa.

Jika kita makan untuk menjaga tubuh agar tetap mampu beraktivitas, bekerja mengumpulkan uang. Uang yang kemudian kita pergunakan lagi untuk makan. Begitulah seterusnya. Lalu kita apakan hati dan akal kita, padahal dua inilah yang membedakan manusia dengan binatang? Seandainya kita mau membaca, sehingga ilmu dan wawasan kita bertambah luas, kita akan mendapat setidaknya dua keuntungan; kualitas hidup dan kuantitas hidup. Kualitas dengan bertambahnya kebaikan yang kita lakukan, kuantitas dengan bertambahnya materi atau harta yang kita raih. Perut kenyang, hidup tenang dan damai.

Jadi, lebih berharga mana, sebuah buku dan sepotong pizza? (@RafifAmir)
loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Buku dan Pizza, Lebih Berharga Mana?"