Lebih Menarik Mana: Buku Baru atau Bekas?

Jika itu ditanyakan pada saya beberapa tahun lalu, saya akan menjawab dengan mantap: buku baru! bahkan bukan sekadar buku baru, tapi harus juga tersegel rapi. Tak boleh ada cacat. Membuka segel plastik sebuah buku seakan merupakan kenikmatan tiada banding. Lalu dilanjutkan ritual menghirup aroma kertas buku dalam-dalam. Nikmat!

Tapi sekarang, tidak lagi. Saya lebih menyukai buku bekas. Tentu, bukan sembarang buku bekas. Tetapi buku bekas yang bagus, yang berkualitas, yang kebanyakan ide-idenya masih orisinil, yang juga menyejarah, dan dikenang karena kualitas kontennya yang dahsyat. Seperti beberapa waktu lalu, saat saya menemukan buku Pramoedya Ananta Toer terbitan Hasta Mitra berjudul "Cerita dari Jakarta" dan "Manusia Adi Manusia"-nya Bernard Shaw, saya girang setengah mati. Apalagi mendapatkannya dengan harga sangat "miring".

Tentu saja buku baru yang bagus masih saya sukai. Apalagi buku yang ditulis oleh pengarang-pengarang favorit saya, pasti tidak lupa juga saya masukkan daftar belanja. Hanya saja terkadang saya jenuh melihat banyak buku baru yang membahas perihal itu-itu saja. Apalagi yang sekadar epigon. Tidak menyalahkan sih, tapi rasanya otak ini butuh asupan gagasan-gagasan segar dan menarik.

Saya sering membaca buku baru yang sebagian besar isinya adalah informasi-informasi lama, atau kiat-kiat yang juga sudah jadul dan banyak dibahas, tak ada juga kreativitas atau kebaruan dalam hal penyampaian. Sehingga buku itu menjadi sangat membosankan. Termasuk juga buku-buku fiksi dengan cerita-cerita klise dan diksi yang "garing". Dan ini jumlahnya tidak sedikit, malah terpanjang gagah di toko-toko buku besar ber-AC.

Bandingkan dengan buku-buku bekas yang tak jarang tergeletak begitu saja di kolong rak sebuah lapak buku bekas. Beberapa diantaranya terkadang sangat kotor, kusut, kena air hujan, ada juga yang sampai jadi wadah kotoran tikus. Padahal seringkali dari sanalah saya menemukan buku-buku lawas yang berkualitas, karangan Soekarno, Buya Hamka, tokoh-tokoh Masyumi, dan yang lainnya. Ketika menemukan buku-buku itu dalam keadaan rusak, hati sangat miris sekaligus senang. Miris karena karya-karya tokoh-tokoh besar bangsa ini yang tak dihargai, senang karena saya akan merawatnya atau dijual lagi pada orang yang pandai merawatnya, yang bisa menempatkannya pada rak-rak koleksi pribadi kebanggaannya.

Saya banyak mendapatkan pengetahuan-pengetahuan baru dari buku-buku bekas itu. Oleh karena itu saya berpikir, mengapa toko-toko buku besar ber-AC itu hanya menjual buku-buku baru? mengapa tidak juga menjual buku-buku bekas yang berkualitas? Maka lahirlah Cahaya Pustaka, toko buku yang saya rintis sejak 2010. Sebagian besar yang dijual adalah buku-buku bekas yang berkualitas, juga buku-buku langka yang terbit sebelum Indonesia merdeka.

kunjungi www.cahayapustaka.top
loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Lebih Menarik Mana: Buku Baru atau Bekas?"