Memanjangkan Usia dengan Membaca Buku-Buku Tua

Memelihara dan membaca buku-buku yang bahkan saya belum direncanakan untuk lahir saat mereka diterbitkan, seperti memanjangkan usia. Bukan ke masa depan, melainkan surut ke masa silam. kita akan merasa seperti kakek-kakek berusia lebih dari seabad dengan wajah yang masih muda, tampan rupawan.

Kita seperti dibawa melintasi lorong waktu, bertemu nenek dan kakek moyang dan bercakap-cakap dengan mereka, tentang kehidupan yang tak akan pernah selesai diperbincangkan. Kita merasakan dengan kepedihan yang mendalam saat mereka berjuang menyelamatkan dan mempertahankan tanah air.

Kita juga membaca bahwa kepahlawanan mereka tidak dihargai kecuali sebatas tanda jasa dan cerita-cerita yang sehari diingat untuk kemudian dilupakan selamanya. Maka terkadang kita akan membaca buku-buku tua itu dengan sepenuh penghayatan, mengusapnya berkali-kali dengan penuh kecintaan.

Di kala yang lain, buku-buku yang kuno dan berdebu itu mentransfer energi besar dalam jiwa kita, meniupkan ruh, melipatgandakan nyawa kita, seakan-akan kata-kata yang tertulis di dalamnya adalah jelmaan cahaya yang menua dan tertidur bertahun-tahun lamanya, kemudian terbangun dan merasuki tubuh kita.

Itu tidak kita temukan pada banyak buku baru bersegel plastik mengkilap dengan wangi yang pemiliknya mencium berkali-kali. Sebagian dari mereka hanya menjual cover dengan desain yang unik dan menarik, testimoni dari tokoh-tokoh, dan janji-janji berupa bonus seminar gratis bernilai jutaan hingga tiket masuk surga.

Buku-buku tua rata-rata tak memiliki cover yang apik, judulnya tak berlebay-lebay ria, juga tanpa iming-iming bebas dari gangguan jin. Beberapa yang saya baca memberikan pengaruh yang luar biasa dari setiap kalimatnya.

Tak seperti yang disangka, mungkin hanya fisiknya saja yang terkesan lusuh, lembaran-lembaran yang rapuh dan kotor, tetapi isinya seringkali memancarkan kebaruan yang menyegarkan. Satu-dua kali kita akan tercengang, kita akan terperangah, bagaimana mungkin buku yang ditulis puluhan bahkan lebih dari seabad lalu seolah menampar kehidupan masa kini. Di sebuah zaman yang bahkan saya yakin penulisnya pun tak pernah mengimajinasikannya.

Saya tak tahu rahasia dibalik mengapa kata-kata mereka begitu kuat, padat, dan tepat sasaran. Seolah-olah mereka telah mengerahkan seluruh energi kepengarangannya dengan hati yang paling puncak.

Selain itu, buku-buku tua seolah menyajikan romantisme magis. Entah itu istilah darimana. Sesuatu yang membuat saya jatuh cinta dan bergetar saat menemukannya, meski itu terselip di tumpukan yang berdebu dan penuh kotoran tikus ditambah dengan kondisi cover dan lembaran yang mengenaskan. Ada dorongan kuat untuk menyelamatkannya, seolah-olah menyelamatkan seornag putri cantik jelita dari serangan iblis yang membabi-buta. (@RafifAmir)

loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Memanjangkan Usia dengan Membaca Buku-Buku Tua"