Singgah Sebentar di Pantai Bentar Probolinggo

Pantai Bentar berlokasi di kecamatan Gending, Kabupaten Probolinggo. Tidak jauh dari pusat kota. Jika perjalanan dengan sepeda motor atau mobil mungkin sekitar 10 menit saja.

Sebenarnya, sejak masih mahasiswa, saya berkali-kali melewati Pantai Bentar. Dari Probolinggo kota menuju Kraksaan, Paiton, bahkan hingga ke Jember biasanya melalui jalur pantura ini. Namun tidak terbersit keinginan mampir, jalan-jalan, menghirup udara laut yang segar, atau sekadar berselfi ria di sana. 

Hingga kemudian ketika hari itu saya mengajak anak istri ke sebuah acara di Kraksaan, saya menjanjikan sepulangnya nanti akan mampir di Pantai Bentar. Tentu mereka senang meski belum tahu seperti wajah Pantai Bentar. 

Dan jadilah hari itu kami berangkat. Naik sepeda motor dari Sidoarjo. Hari masih sangat muda ketika kami tiba, singgah, duduk dan melepas penat di pingir jalan raya. Tepat di balik pagar Pantai Bentar. Dari celah pagar, terlihat beberapa wahana permainan buat anak-anak yang membuat Safa menjadi tidak sabar. "Jam segini pantainya masih tutup," ujar saya menenangkan. 

Pulang acara ternyata tak sesuai rencana. Hari sudah kelewat tua. Mendekati jam 5 sore. Dan kami tiba di pantai itu dengan muka ceria. Apalagi setelah tahu karcis masuknya murah meriah (hanya saja sayang, kami lupa tepatnya berapa rupiah). Kami masuk ke lokasi wisata dan tidak menemukan tanda-tanda kehidupan. Eh, maksudnya, tidak ada pengunjung sama sekali selain kami bertiga. 

Menatap laut adalah sesuatu yang biasa dan terkadang menjemukan. Mungkin karena saya menghabiskan masa kecil di pinggir laut. Tidak ada yang spesial di Pantai Bentar sebagaimana yang saya temukan di Pantai Gili Labak. Yah, datar-datar aja. Kalau ada yang bilang Pantai Bentar mempesona luar biasa menurut saya itu orang terlalu lebay. 

Meski demikian, bukan berarti kami akan melewatkan ritual foto-foto. Foto-foto narsis harus tetap eksis untuk membuktikan pada dunia bahwa kaki kami sudah pernah terjejak di Pantai yang tak seberapa indah ini. 

Menyusuri lokasi wisata, warung-warung makanan sudah pada tutup semua. Dan berhentilah kami di gazebo, foto-foto. Jalan lagi dan menemukan wahana permainan yang dilihat pagi tadi. Safa langsung terlonjak girang. Tapi, tapi, mana penjaganya? Tolah kanan, kiri, depan, belakang, pak penjaga lari terbirit-birit dengan pakaian tak lengkap (bukan berarti telanjang lho ya). 

Safa naik sepeda air bersama bundanya sambil melempar senyum tak habis-habis. Sementara sambil sesekali memotret mereka, saya ngobrol dengan pak penjaga yang ternyata juga bisa bahasa Madura (konon, Probolinggo dikuasai orang Madura). Saya baru ngeh, kalau memang itu sudah jadwalnya tutup tempat wisata. Pantesan sepi melompong. Dan setelah saya berpikir agak keras, memang iya ya, mana ada wisata pantai buka sampai malam. Kalaupun buka, apanya yang mau dinikmati. 

Setelah puas main sepeda air, kami melanjutkan keliling lagi. Melihat "kebun binatang mini" yang menampilkan seonggok, eh sesosok, eh seekor merak. Yah, lumayanlah membuat kami terhibur sedikit. 

Menjelang pulang, sebelum keburu diusir, kami berpose barang satu-dua kali di jembatan kayu yang terbentang seperti ular membelah lautan. Panoramanya lumayang eksotik, langit cerah semburat jingga menjelang sunset. Namun, kami tidak tertarik untuk sampai ke ujung jembatan, karena ya itu, sekali lagi, takut diusir. 


Kami pulang dengan hati riang. Meski hanya singgah sebentar di Pantai Bentar, kami puas luar dalam. Lahir batin. Hati senang, Safa tenang. Dan tertidur lelap di atas motor. (@rafif_amir)
loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Singgah Sebentar di Pantai Bentar Probolinggo"