Tujuh Belas Cerita Drunken Mama Untuk Istri Saya, Semoga Pidi Baiq Bahagia

Mungkin saya terlambat membaca Drunken Mama, tapi saya belum terlambat untuk membahagiakan hatinya. Ya, istri saya itu. Saya senang melihatnya tertawa saat saya membacakan tujuh belas cerita yang ada di dalam buku karya Pidi Baiq ini. Saya membacakan khusus untuknya, saat menjelang tidur malam atau pagi saat santai di ruang kamar.

Pasalnya, istri saya penasaran dengan Milea dan Dilan. Karya Pidi Baiq juga. Tapi kata istri saya harganya mahal. Dan saya tahu ia tidak senang membeli sesuatu yang dibilangnya "mahal" hanya untuk menuntaskan penasaran. Maka kemudian ia meminta saya membeli yang bajakan saya. Tapi permintaan itu tidak saya kabulkan. Sebab saya kurang sreg membeli buku bajakan yang lantas kemudian untuk dikoleksi. Kecuali, habis dibaca langsung dibuang. Tapi saya juga gak suka.

Jadilah kemudian saya berusaha mencari buku Pidi Baiq yang lain, agar ia senang. Mungkin derajat kelucuannya gak akan jauh beda. Lalu saya menemukan Hanya Salju dan Pisau Batu di rak buku jualan sendiri. Buku ini ditulis oleh Pidi Baiq dan Happy Salma.

Baru beberapa lembar, istri saya komplain. "Gak lucu," katanya. Yah, saya setuju. Menurut saya, memang tidak lucu. Mungkin buku itu ditulis oleh Pidi Baiq saat sedang tobat. Saya berdoa agar menemukan buku Pidi Baiq yang lain saat sedang kulakan.

Sebenarnya sih, saya pernah punya Drunken Molen (kalau saya gak salah ingat), tapi sudah dicari rak-rak buku pribadi gak juga ketemu. Berarti kemungkinan besar buku ada yang pinjam tapi gak dikembalikan. Atau bisa jadi juga saya lupa kalau sebenarnya saya gak punya itu buku.

Maka, setelah hunting yang kesekian. saya ketemu Drunken Mama. Tentu dengan harga kelewat bersahabat. Saya langsung memungutnya dan menunjukkan pada isti setiba di rumah. Ia senang, saya pun senang. Dan kemudian saya membacakan buku itu untuknya.

Saya mulai dengan membuka lembar pertama. Di lembar pertama saja sudah membikin kami ketawa. Bayangkan, di halaman itu tertulis:

Buku ini dipinjamkan kepada:
Alamat:

Dan ada space untuk diisi foto peminjam. Haha, seolah sindiran buat para peminjam buku yang kemudian mengakuisisi buku-buku yang dipinjamnya.

Pada lembar berikutnya ada sejumlah testimoni dari mulai artis, editor, presenter, dosen, hingga ketua Partai PIDI Perjuangan. Kata pengantar dari Bambang Sugiharto dan pendahuluan dari "Pidi yang tak kunjung Baiq".

Cerita pertama dari kumpulan catatan harian yang konon katanya kocak dan menghibur ini berjudul "Cerdas Cermat Ospek". Dan nyatanya memang benar-benar menghibur. Ide konyol yang menurut saya kalau benar-benar memang terjadi semakin meningkatkan derajat kekonyolannya itu. Entah semua cerita dalam buku ini fiksi atau bukan, atau campuran keduanya, yang jelas cerita pertama langsung akan membuat pembaca jatuh hati untuk membaca cerita-cerita berikutnya.

Dalam "Cerdas Cermat Ospek", Pidi menjadi semacam penanya kepada dua kubu yang beradu "kecerdasan" yaitu mahasiswa baru dan kakak-kakak senior. Hal yang mengundang tawa adalah pertanyaan-pertanyaan konyol yang diajukan Pidi pada kedua kubu itu. Misal, salah satunya yang ini.

Pertanyaan pertama untuk mahasiswa baru," kata saya sambil memandang mahasiswa baru dengan tatapan yang menurut saya sih indah, "Simak pertanyaannya: Tragedi kematian Lady Diana merupakan momok yang paling menakutkan, khususnya bagi para selebritis di dunia. Oke? yang akan saya tanyakan kepada kalian adalah, apa yang dimaksud dengan momok dalam kalimat itu? (hal. 21)

Dan apapun jawaban dari mahasiswa baru akan divonis salah. Sebaliknya pertanyaan untuk kakak kelas dibuat mudah, dan apapun jawabannya pasti benar. Suasana tempat adu "kecerdasan" itu juga digambarkan oleh Pidi dengan cukup detail sehingga pembaca menjadi semakin terhibur.

Namun demikian, setelah melanjutkan pembacaan cerita-cerita yang lain. Ada beberapa cerita yang tidak terlalu lucu, sedikit lucu, dan sama sekali gak lucu. Hampir semua cerita bermula dari keisengan yang sengaja dibuat oleh Pidi Baiq. Mungkin ini yang membuat akhirnya tidak terlalu lucu, meski sudah dibantu dengan narasi dan dialog yang dibuat selucu mungkin. Misalnya pada "Perang Adam", "Menjemput Rental" dan cerita terakhir "Ayahkonda Membakar Warung".

Terlepas dari itu, meski mungkin ide-ide konyolnya itu lahir agar muncul peristiwa konyol yang bisa dituliskan menjadi cacatan harian untuk kemudian menjadi buku ini, tulisannya cukup mengalir. Kadang juga nyastra. Kadang di akhir tulisan ada pesan-pesan dan hikmah mendalam yang diungkapkan. Kekonyolan yang melahirkan perenungan.

Satu cerita dalam Drunken Mama ini yang gak lucu sama sekali, khususnya bagi istri saya, adalah cerita berjudul "Mukjizat Poligami". Tahu sendirilah, perempuan akan sangat sensitif ketika mendengar kata "Poligami". Ini malah membuat suasana tegang. Saya coba lirik-lirik dia gak ketawa entah karena ceritanya atau karena sudah terlanjur ngantuk berat.

Secara keseluruhan, Drunken Mama cukup menghibur. Setidaknya sambil menunggu Dilan dan Milea datang. Pidi Baiq pasti senang melihat saya senang karena berhasil membuat istri saya senang.

Book Review #90. Review Drunken Mama. Karya Pidi BaiqPenerbit Pastel Books, Bandung: Cetakan 1,2015. 213 halaman. Selesai baca pada 6 Januari 2017
loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Tujuh Belas Cerita Drunken Mama Untuk Istri Saya, Semoga Pidi Baiq Bahagia"