Review Film Surga yang Tak Dirindukan 2: Ending yang Tak Diharapkan

Di ruang ICU itu. Kepedihan, haru, dan kebahagiaan bercampur menjadi satu. Itulah puncak dari segala penderitaan. Ujung dari mimpi-mimpi Arini.

Namun mendadak keharuan itu kering ketika sampai pada ending.
Pernikahan itu tidak saya harapkan. Bukan, bukan pernikahannya. Tapi dengan siapa Meirose menikah.

Apakah cinta yang rumit harus diselesaikan dengan happy ending? Apakah cinta segitiga harus berakhir dengan memutus salah satu sisinya? Apakah atas nama kebahagiaan, mimpi, dan permintaan terakhir, cinta harus dikorbankan?

Terus terang, saya belum nonton Surga yang Tak Dirindukan yang pertama, yang konon tembus 1,5 juta penonton. Mungkin ini pulalah yang akan membuat ulasan saya nanti menjadi kurang sempurna, bahkan banyak yang layak dicela. Tak apa. Saya hanya akan mengomentari tentang apa yang saya lihat, saya pikirkan, saya rasakan ketika menonton Surga yang Tak Dirindukan 2 (SyTD 2).

Awal-awal adegan banyak dibuka dengan humor dan tingkah konyol Pras serta dua orang temannya. Kemungkinan masih berusaha menyegarkan ingatan penonton tentang apa yang sudah terjadi SyTD 1. Saya masih berusaha menikmati,sambil mengunyah sekantong Makaroni Tobat.

Kunyahan saya berhenti, ketika film sudah mulai memasuki konflik yang sesungguhnya. Rumah sakit, kanker, bayang-bayang kematian, cinta dan kesedihan seorang anak bernama Nadia.

Selesai? belum. Itu baru awal.
SyTD 2 (foto: 21cineplex.com)

Awal dari sebuah hubungan rumit: Pras-Arini-Meirose-Syarif. Dr.Syarif adalah kekasih Meirose, sekaligus dokter yang menangani penyakit Arini. Sementara saya tidak tahu hubungan sesungguhnya antara Pras dan Meirose (karena, lagi-lagi, saya belum nonton SyTD 1). Yang bisa saya tebak, Meirose adalah "istana kedua" itu.

Surga yang Tak Dirindukan. Banyak yang mengatakan menjadi Surga yang Dirindukan pada SyTD 2 ini. Mungkin benar, mungkin tidak. Tergantung pada siapa pertanyaan itu dilontarkan?

Perjuangan dan pengorbanan Arini sedemikian besar. Ia penulis besar, ia dikenal dunia, perjalanannya ke Budapest karena itu. Namun takdir mengantarnya pada alur yang tak pernah terduga. Pertemuan, air mata, impian, dan ujung dari segala penderitaan.

Head to Head: Reza Rahadian Vs Fedi Nuril

Berbicara Surga yang Tak Dirindukan 2 (SyTD 2) tentu tak bisa dipisahkan dari dua aktor tampan yang menjadi idola para wanita ini. Saya tak terlalu banyak mengikuti penampilan mereka dalam setiap film yang mereka bintangi. Namun setidaknya saya sudah menonton Ayat-Ayat Cinta dimana saat itu Fedi Nuril berperan sebagai Fahri. Saya pun menikmati peran Reza Rahadian dalam film Habibie-Ainun.

Saya harus mengulas head to head mereka berdua dengan kemampuan dan pengetahuan saya yang sangat terbatas. Karena dalam SyTD 2 tidak hanya keduanya menjadi sentral, tapi juga beberapa kali terlibat akting dan dialog berdua. Setidaknya satu yang saya catat: ketika dr. Syarief (Reza) mengantar Pras (Fedi Nuril) ke masjid. Keduanya terlibat dialog. Dan lagi-lagi saya, mohon maaf, eneg melihat akting Fedi Nuril sebagaimana saya melihat aktingnya dalam Ayat-Ayat Cinta.

Sebaliknya, saya semakin kagum pada Reza, yang kembali memukau dan mempertegas sosoknya sebagai seorang "laki-laki". Menurut saya, Fedi adalah representasi laki-laki yang lemah, yang mudah sekali tersapu oleh badai. Saya paham, mungkin ini tuntutan peran, dan dalam hal ini ia adalah bintang yang tepat. Tapi entah, saya harus mengatakan dengan jujur, saya jauh lebih menyukai Reza dan peran-peran yang dilakoninya.

Head to Head: Raline Shah Vs Laudya Chintya Bella

Saya tak terlalu mengenal Raline sebagaimana saya juga tidak mengenal Laudya. Hehe. Tak banyak yang ingin saya sampaikan. Kecuali penampilan laudya yang sangat memukau. Aktingnya mendekati sempurna. Lihat bagaimana ketika ia melakoni peran sebagai ibu, sebagai penulis, sebagai istri, sebagai seorang sahabat, sebagai pasien, sebagai seorang yang bahagia di antara tumpukan kesedihan. Harus saya katakan, ini tidaklah mudah. Jauh lebih mudah memerankan karakter Meirose.

Sementara Raline, juga bagus. Hanya saja seperti yang saya katakan tadi, peran yang dijalaninya terlalu mudah.

Kisah yang Menguras Air Mata

Mungkin berlebihan, karena nyatanya air mata saya tidak terkuras. Hehe. Tapi setidaknya, SyTD 2 sudah menyuguhkan tontonan yang berusaha menandingi film-film India. Cinta, selalu bisa menciptakan tawa dan airmata, bahkan terkadang keduanya bertemu dalam satu momen yang sama. Dalam film, kesedihan dibangun tidak hanya melalui cerita, tetapi juga lewat backsound, suasana, dan mimik wajah pemerannya. Semua menjadi satu kesatuan yang menembus empati penonton.

Beberapa adegan dan film ini, sangat mengharukan. Seperti ketika Arini dan Nadia berbaring bersama, mendongeng tentang Ibu ratu dan putrinya. Saat Arini menyampaikan satu permintaannya pada Pras. Dan saat di ruang ICU, sebagaimana yang saya  sampaikan di awal tulisan.

Tetapi tidak semua cerita dalam film ini mengharu biru. Humor, tawa, dan keceriaan juga silih berganti. Beberapa pemain figuran sukses mengocok perut penonton. Kisah cinta Meirose dan dr. Syarif yang meski porsinya tidak banyak namun juga cukup memberi warna yang segar dalam film ini.

Tentang Kematian, Ketegaran, Keikhlasan, Hingga Karya dan Sastra

Pesan yang disampaikan dan diramu dalam film Surga yang Tak Dirindukan 2 cukup kaya. Tidak hanya mengajari tentang ketegaran dan keikhlasan sebagaimana tampak dalam Sosok Arini ketika harus menjalani takdirnya, kemudian membuat keputusan demi "surga" yang ia rindukan, beberapa adegan juga mengingatkan penonton tentang hidup yang sangat sementara. Kematian yang bisa menimpa siapa saja dan kapan saja. Sebagaimana yang menimpa salah seorang anak pengangum karya Arini.

Karya dan sastra. Inilah yang saya suka dari film-film yang diangkat dari karya-karya penulis FLP. Dalam KCB ada Anna Althafunnisa yang seorang penulis dan ada adegan peluncuran buku karyanya. Dalam SytD 2 ini pun ada adegan Arini menandatangani buku-buku karyanya, mendongeng dari buku-buku karyanya. Mudah-mudahan ini menjadi salah satu cara agar orang tergerak untuk menulis dan bagi para penulis semakin termotivasi untuk lebih giat lagi menulis.

Yang saya suka juga, ketika dr.Syarief mengutip puisi-puisi penyair ternama seperti Gibran, Neruda, dan Rendra ketika merayu Meirose. Bahkan beberapa kata yang keluar dari lisan pemeran sangat indah dan nyastra. Seperti ketika Pras berkata, "Aku akan kehilangan seseorang yang telah mengajariku mencintai dengan jujur." So sweeet.

Poligami 

Sejak SyTD 1 diluncurkan, isu yang santer dari film ini adalah tentang poligami. Namun dalam SyTD 2 yang saya tonton, isu ini malah tidak terlalu kelihatan. Meski dalam cerita memang benar, Pras adalah suami dari Arini sekaligus Meirose. Tapi yang ada justru bagaimana dua wanita ini saling mengalah untuk merelakan suaminya hanya menikah dengan satu wanita. Karakter Pras sendiri bukan tipikal laki-laki yang ingin berpoligami.

Dakwah dan Film

Sebenarnya saya tidak ingin membahas panjang lebar di sini. Tapi mungkin sedikit saya sampaikan, karena sebelumnya ada seruan boikot film Surga yang Tak Dirindukan 2. Seruan boikot itu lantaran ada foto Raline berdua dengan Ahok yang kemudian menjadi viral dan dianggap Raline adalah pendukung Ahok.

Sangat naif menurut saya. Bagaimana seruan boikot film SyTD 2 tidak tepat sasaran. Jika SyTD batal tayang, coba siapa yang rugi? produser dan semua kru film? mungkin iya, tapi coba pikirkan, sekian banyak film yang tayang di bioskop dan menyita perhatian para penggemar film tanah air. Ada film-film "merusak" yang juga tayang. Mereka akan memilih meluangkan waktunya untuk nonton film-film merusak itu, karena ketidakhadiran film yang baik dan menginspirasi.

SyTD 2 banyak menyisipkan pesan-pesan kebaikan. Sehingga tentu bernilai dakwah. Jika film ini diboikot atau tidak laku, maka produser akan enggan membuat film-film sejenis yang bermuatan dakwah seperti ini. Mungkin yang kembali digandrungi nanti adalah film-film vulgar dan cabul.

Dakwah melalui film saat ini harus terus digalakkan, agar penonton tercerdaskan, terinspirasi dan termotivasi melakukan kebaikan. Mudah-mudahan dari penonton SyTD 2 ada yang termotivasi menjadi penulis, menjadi dokter yang baik seperti dr. Syarief, menjadi muslim yang tak pernah meninggalkan shalat dalam kondisi apapun sebagaimana Arini, mendidik anak dengan penuh cinta sebagaimana tercurahkan pada Nadia dan Akbar, dan seterusnya dan seterusnya.

Arini di Kehidupan Nyata

Apakah ada perempuan seperti Arini di dunia ini?

Baru-baru ini, Bibi saya bercerita tentang seorang perempuan berhati mulia. Perempuan penderita kanker rahim yang merelakan suaminya berpoligami. Bahkan bibi saya bisa menangkap ketulusan yang terpancar dari perempuan itu ketika mereka bertemu dan dengan tegar mengatakan bahwa memang dirinyalah yang meminta dan memohon suaminya menikah lagi.

Mungkin masih banyak lagi Arini-Arini lain di luar sana.

Epilog

Sepertinya sudah terlalu panjang ulasan saya ini. Jadi tak perlu berpanjang kata. Saran saya, tontonlah dan ajak semua keluarga maupun saudara. Saya pun ketika menonton film ini berdua bersama istri. Butuh perjuangan karena bisokop yang dituju pertama kali sudah kehabisan tiket, akhirnya ngejar di bioskop lain, Alhamdulillah dapat. Sampai di sana sudah kurang 10 menit dari jam tayang, di jam tayang terakhir untuk hari itu.

Empat bintang untuk film ini!

Update 10/4/2017

Akhirnya, saya sukses nonton SyTD 1. Simak reviewnya di sini

loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Review Film Surga yang Tak Dirindukan 2: Ending yang Tak Diharapkan"