Dongeng-Dongeng Penulis Nusantara

Buku ini dicetak fullcolour dengan ilustrasi-ilustrasi yang keren di setiap judul dongeng yang berbeda. Keseluruhan, ada 26 dongeng yang menghiasi buku ini dan ditulis oleh pengarang yang berbeda. Selain Endang Firdaus, ada pula nama Beby Haryanti Dewi, Ali Muakhir, Benny Rhamdani, Parkah Purnama, dan yang lainnya.

Sebagian besar dongeng dalam buku ini menampilkan para binatang sebagai tokoh utamanya. Dan kebanyakan pula ceritanya sangat klise: kehadiran tokoh antagonis yang pada akhirnya sadar akan perbuatannya setelah mengalami peristiwa kurang mengenakkan. Satu contoh saja, misalnya, pada dongeng “Cenderawasih yang Sombong” karangan Nia Kurniawati yang berkisah tentang seekor burung cenderawasih yang sombong, suka meledek merpati dan kura-kura. Suatu ketika sang cenderawasih terperangkap ke dalam jebakan pemburu kemudian merpati dan kura-kura menolong, sehingga akhirnya cenderawasih sadar dan menyesali kesombongannya.

Begitulah kira-kira inti dari sebagain dongeng dalam buku ini. Kesalahan yang kemudian disadari setelah mengalami peristiwa yang kurang menyenangkan. Tak jauh beda dengan yang disuguhkan sinetron-sinetron kita. Alur cerita seperti ini menurut saya sangat klise dan membosankan, meski dengan dalih ada pesan moral yang disampaikan. Apalagi, pembaca dan penikmatnya adalah anak-anak. Maka seharusnya yang ditumbuhkan adalah semangat beprestasi atau berbuat yang itupun bisa diciptakan tanpa harus melulu menghadirkan peran antagonis atau memperkenalkan kejahatan sebagai bumbu penyedap atau pelengkap cerita.

Oleh karenanya, menurut saya dongeng “Doa Tiga Ekor Ulat” karangan Iwan Yuswandi masih lebih baik. Ia menceritakan tentang sebatang pohon yang merelakan tiga helai daunnya dimakan 3 ulat. Dongeng ini mengajarkan semangat pengorbanan dan ketulusan. Hanya saja saying, dongeng ditutup dengan ending yang menurut saya kurang pas. Yakni sang pohon menangis karena ulat ketiga yang hendak memakan daunnya mati kelaparan sebelum sampai tujuan, sang pohon menangis sehingga awan menangis dan tangisan itu membuat pohon berdaun lebat lagi. Bagi saya ending semacam ini adalah kebohongan yang terlalu dipaksakan dan tidak masuk akal.

**
Dari 26 dongeng yang ada dalam buku ini, saya memilih dongeng karangan Endang Firdaus yang berjudul “Pit dan Angin Nakal” sebagai dongeng terbaik versi saya. Hanya saja frasa “angin nakal” cukup mengganggu dan perlu diganti. Apalagi dalam cerita terang-terangan pengarang tidak membenarkan penggunaan istilah “angin nakal”.

Cerita ini saya anggap terbaik karena mengandung an-achievement yang tinggi yang mengajarkan pada setiap anak untuk selalu gigih dalam proses belajar, untuk tak kenal menyerah pada halangan dan rintangan, karena justru rintangan itu yang aan membuatnya kuat dan terus beprestasi. Seperti burung Pit yang berlatih terbang berkali-kali kemudian terjatuh, namun pada akhirnya mengikuti saran Kupi Kupu-Kupu untuk lebih berani menghadapi rintangan berupa angin. Dan burung Pit akhirnya bisa terbang dengan baik. “Terima kasih, Kupi. Sekarang, aku bisa terbang. Kamu benar, ternyata angin tidak nakal. Bahkan angin membantuku untuk bisa terbang,” kata Pit (Halaman 67).

Dongeng lain yang sebenarnya bagus namun terlalu memaksa anak untuk menyerap pesan yang ingin disampaikan adalah milik Ali Muakhir yang berjudul “Si Towet”. Ceritanya mirip dengan perenungan Nabi Ibrahim tentang Tuhan. Hanya saja tokohnya adalah seekor katak. Awalnya Towet mengira Tuhannya adalah petir, kemudian bulan, kemudian matahari, kemudian bintang. Hingga akhirnya menyimpulkan bahwa  “yang menciptakan alam ini pasti bukan mereka” (halaman 79). 

Inilah yang saya maksud terlalu memaksa. Anak-anak diajak untuk merenung hakikat Tuhan yang sebenarnya dengan pola-pola pemikiran Nabi Ibrahim. Bisa jadi kesimpulan anak tidak seperti kesimpulan Towet. Bisa jadi mereka menyimpulkan, “kalau begitu dimana Tuhan berada. Mengapa ia tak menampakkan diri.” Dan akan memerlukan penjelasan lebih panjang lagi yang tak bisa disampaikan lewat cerita seperti ini.

**
Beberapa kali saya membacakan dongeng-dongeng dalam buku ini  ketika menjelang ia tidur dan nampaknya ia kurang tertarik sebagaimana pada cerita-cerita yang saya bacakan sebelumnya. Hanya saja ia justru lebih tertarik pada ilustrasi gambar dalam cerita dan suara saya yang dibuat-buat saat membacakan setiap adegan dalam cerita.

Rafif,22 Januari 2013: 23.00 wib
Review 26 Dongeng Teladanku: Dar! Mizan, 2011. 111 halaman. Karya Endang Firdaus dkk


loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Dongeng-Dongeng Penulis Nusantara"