Tausiyah Cinta, Film Tentang Dakwah dan Cinta

Film Tausiyah Cinta tayang perdana di awal tahun 2016. Berdekatan waktunya dengan penayangan film Ketika Mas Gagah Pergi (KMGP). Salah satu pemeran utamanya pun sama, Hamas Syahid. Uniknya, kedua film ini sama-sama kental dengan nuansa dakwah. Entah kebetulan atau memang disengaja.

Karena adanya "serupa tapi tak sama" inilah, maka saya akan mengulas film Tausiyah Cinta sambil sedikit mengaitkannya dengan KMGP. 

Begitu scene pertama dimulai, saya sudah kurang berselera dengan film Tausiyah Cinta ini. Seorang lelaki bernama Lefan (Rendy Herpy) yang memiliki kakak perempuan seorang aktivis dakwah (Elfa). Terjadi konflik di antara keduanya. Lefan menuduh kakaknya kurang perhatian sama keluarga. Ia mengkritik keras kakaknya karena gagal mendakwahi keluarga, sehingga keluarga mereka hancur. Perkataan Lefan menjelma konflik batin dalam diri Elfa.  

Singkat cerita, karena suatu penyakit ganas, Elfa meninggal dunia. 

Sampai di sini, saya semakin tidak berselera. Tapi karena demi menemani istri, saya paksakan juga. 

Jelas berbeda dengan pembuka film KMGP yang menurut saya cukup "cetar membahana". Tausiyah Cinta menurut saya gagal meraih gairah penonton di menit-menit awal yang tentu sangat menentukan.

Tapi tak apa, barangkali saya menemukan sesuatu yang mengejutkan di tengah-tengah film. Kisah pun berlanjut. Sebagai eksekutif muda, Efan akhirnya dipertemukan dengan partnernya bernama Azka Pradipta (Hamas Syahid) dan seorang mahasiswi yang mengajukan kerjasama untuk penelitiannya tentang limbah air wudhu. Inilah perempuan dalam cover yang tampak jago memanah itu. Rein (Ressa Rere) yang kelak memikat hati Lefan.

Mengemas Dakwah dalam Film

Sebenarnya, apakah dakwah lewat film itu harus melulu menonjolkan simbol-simbol Islam, kata-kata Islami, nasihat-nasihat yang terkadang seperti menggurui? menurut saya tidak. Saya banyak menonton film yang menginspirasi dan menggugah semangat keIslaman saya tanpa terasa bahwa saya sedang menonton film dakwah. Saya hanyut begitu saja, dan tiba-tiba saya merasa tercerahkan.

Namun, Tausiyah Cinta memang film yang kental dan dekat dengan keseharian aktivis dakwah. Maka wajar saja jika misalnya, banyak adegan-adegan berulang membaca Alquran, tausiyah-tausiyah, bahkan ada halaqah juga. Itu sangat bagus. Para aktivis dakwah pasti suka. Tapi film ini akan sangat sedikit menjaring penonton dari kalangan umum atau bahkan orang yang antipati terhadap dakwah dan Islam. Tapi tentu saja karena judulnya Tausiyah Cinta, maka adegan-adegan itu memang harus ada.

Itu yang juga saya rasakan dalam film KMGP.

Akting yang Membosankan

Mohon maaf jika saya harus mengatakan ini. Akting para pemeran utama masih sangat kaku. Saya bisa memaklumi, karena semuanya adalah para pendatang baru dalam dunia perfilman. Tapi yang saya soroti dalam hal ini adalah Hamas Syahid. Aktingnya dalam KMGP dibandingkan dalam Tausiyah Cinta ini masih lebih baik.

Banyak adegan percakapan lewat handphone. Cara bicaranya masih sangat keliatan sedang main film. Gesturnya kurang main. Penjiwaan kurang. Terutama ketika Hamas (Azka) mengalami musibah kebutaan dan dia harus memerankan seseorang yang seolah menentang takdir Tuhan. Terlihat jelas, kurang menyelami karakter. Minus banget.

Sementara untul Lefan dan Rein saya tak banyak komentar. Lebih baik tapi masih sangat kurang.

Tokoh Utama yang Terlalu Banyak 

Selain tiga tokoh utama yang sudah muncul sedari awal, ditambah beberapa tokoh pembantu yang ternyata porsinya juga lumayan banyak, saat mendekati ending muncul lagi tokoh baru. Afian (Zaky Ahmad Rivai) yang dihadirkan untuk memupus harapan penonton Rein akan jadi menikah dengan Elfan.

Belum lagi ayah, ibu, dan adik Rein. Sahabatnya Rein. Dan lain-lain.

Titipan Sponsor

Sebagaimana juga saya temukan di KMGP, sangat jelas ada satu-dua adegan yang sebenarnya gak relevan tapi dipaksakan agar titipan sponsor bisa masuk. Bisa gak sih dibuat se-soft mungkin? Tentu memang dibutuhkan kejelian dan kepiawaian untuk hal itu.

Garing Nyaris Tanpa Humor

Humor menjadi salah satu daya pikat dari film serius seperti Tausiyah Cinta. Memang ada, bahkan ada tokoh yang khusus memerankan adegan humor. Tapi bagi saya kurang lucu. Kalau di KMGP saya bisa ngakak, di Tausiyah Cinta hanya sekali dua, itupun sambil ngomel. Hehehe.

Cinta

Tiga tokoh, meraih cinta yang berbeda. Azka meraih cinta ilahi, setelah sempat mengingkari takdir yang dialami, kebutaannya. Rein yang mendapatkan jodoh impiannya, seorang lelaki shalih. Lefan yang akhirnya bisa kembali menerima cinta ayahnya, setelah sekian waktu kebencian merasuki dadanya.

Inilah cinta dan pergulatan hidup. Dan terlepas dari segala kritik yang saya sampaikan, saya selalu mendukung hadirnya film-film Islami yang mencerahkan. Pesan-pesan yang ingin disampaikan, semuanya tentulah adalah kebaikan.

Seperti misalnya, ketika Rein mengatakan kepada adiknya, yang kemudian menjadi quote favorit saya dalam dalam film ini.

"Karena tampan itu berdurasi, hanya yang mencintai Alquranlah yang menyejukkan hati."

Selamat menikmati Tausiyah Cinta dari yang Maha Mencintai. (@rafif_amir)



loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Tausiyah Cinta, Film Tentang Dakwah dan Cinta"