Review Film Surga yang Tak Dirindukan

Saya yakin, review saya ini datang terlambat. Mungkin bisa dibilang "review yang tak dirindukan". Tapi begitulah kenyataannya: saya sudah terlanjur menonton SyTD 2 terlebih dahulu sebelum menonton SyTD 1. Bahkan sudah saya berikan ulasan yang cukup dalam dan tajam mengenai Surga yang Tak Dirindukan 2.

Sebenarnya, saya tidak terlalu tertarik untuk menonton SyTD 1, tidak ada penasaran sama sekali. Tapi istri saya sepertinya "ngidam" kelas berat untuk nonton SyTD 1. Jadilah saya temani nonton berdua lewat laptop karena sudah gak mungkin nonton di bioskop.

Setelah coba sama cermati dari awal sampai akhir, sebagai pengamat perfilman yang amatiran, saya langsung mengambil kesimpulan bahwa Surga yang Tak Dirindukan jilid 1 ini lebih bikin baper dari yang kedua. Tapi over all, dari segi akting, setting, alur, dan humor-humornya, saya lebih suka yang kedua.

Poinnya itu aja. Kalau mau dibedah lebih mendalam, ayo kita bedah rame-rame.

Adegan-adegan Konyol

Saya mulai dengan membahas adegan-adegan konyol yang ada di dalamnya. Ada banyak sekali kalau harus saya sebutkan satu persatu.

* Ketika Pras melihat Meirose dan mobilnya kecelakaan masuk ke jurang. Pras teriak-teriak minta tolong dari jurang. Lucu kan? mestinya dia segera lari ke jalan, mencari bantuan.

*Ketika tiba-tiba dokter menanyakan nama sang bayi. Kata istri saya, kok secepat itu? sementara saya tak habis pikir, ngapai si Pras dengan lancang memberi nama bayinya orang tanpa seizin yang punya.

*Kekonyolan berikutnya adalah ketika Meirose mau lompat dari gedung rumah sakit, Pras mencoba membujuk, Meirose melompat dan Pras menarik lengannya. Benar-benar klise. Dan saat itulah Pras berjanji akan menikahi Meirose. Janji yang kelak menjadi sumber dari konflik yang berjejalan di film ini.

Rasanya tak perlu saya sebutkan sampai tuntas adegan-adegan konyol di film Surga yang Tak Dirindukan ini.

Klimaks

Sebagian besar mungkin beranggapan bahwa klimaks dari film Surga yang Tak Dirindukan ini adalah saat Pras dan Arini bertengkar hebat. Arini hendak minggat dari rumah. Tapi saya berpendapat, bahwa klimaks yang sebenarnya adalah ketika Meirose memilih untuk pergi dari kehidupan Pras dan Arini, meninggalkan anaknya, Akbar.

Mengapa? tak perlu dijelaskan alasannya. Cukup rasakan bagaimana goncangan jiwa dari ketiga tokoh: Pras, Arini, Meirose.

Alur yang Serba Kebetulan 

Saya kurang suka dengan film-film yang alurnya serba kebetulan. Meskipun, memang, pencerita akan mencari cari bagaimana unntuk mengarahkannya pada konflik. Tetapi semestinya, buatlah nilai kemungkinan yang besar bukan kehampirtidakmungkinan untuk mempertemukan para tokoh.

Maksudnya begini. Ketika Arini menemukan resep obat untuk Akbar dan ada alamat serta no telpon Meirose di sana itu sangat wajar. Apalagi yang menemukan Si Mbok. Kemudian dari sana Arini mulai curiga, lalu mendatangi rumah Meirose, lalu ia mulai mengerti apa yang terjadi. Ini bagus karena semua berjalan seolah natural.

Tetapi ketika misalnya Arini dan Pras masih sempat ngejar Meirose yang sudah di kereta, itu kebetulan. Kemungkinan ada tapi kecil. Yang seperti ini ada banyak dalam SytD 1.

Namun lepas dari itu semua, yang tetap ngefans sama aktingnya Arini, maksud saya Laudya Cintya Bella. Dan kurang suka dengan akting Fedi Nuril alias Pras.

Sudah. Itu saja.


loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Review Film Surga yang Tak Dirindukan "