Gitanjali

Rabindranath Tagore. Peraih Nobel Sastra tahun 1913 ini telah menyihir banyak orang dengan puisi-puisi dan prosa lirisnya. Dan Gitanjali disebut-sebut sebagai karya masterpiece, yang paling indah dan menyentuh.

Seseorang, entah siapa, di bagian kata pengantar buku ini mengatakan, "Membaca satu baris dari karya Tagore sama dengan melupakan semua masalah dunia." Sebuah ungkapan yang mungkin akan terdengar sangat berlebihan bagi orang-orang yak tak pernah membaca karya-karya Tagore, terlebih lagi bagi mereka yang sama sekali tak menyukai karya sastra.

Bagaimana dengan saya? Saya berada di tengah-tengah antara mereka. Tagore tak dapat menyihir saya dengan kata-kata--- terlepas dari kualitas terjemahan buku yang diterbitkan Liris ini-- namun pula, bukan berarti saya tak menemukan gundukan emas kata-kata dalam karya tipisnya ini.

Hari ini musim panas telah datang di jendelaku dengan desahnya dan bisikannya; dan lebah-lebah mengarungi kidung mereka di halaman penuh rumpun bunga.

Sekarang inilah waktunya untuk duduk diam, saling berhadapan muka bersamamu, dan untuk menyanyikan persembahan kehidupan dalam waktu luang yang sunyi dan berlimpah. (hal.8)

Seperti nama penerbitnya, benar-benar liris. Padahal saya menyukai puisi dan prosa yang menyimpan kekuatan, menyimpan energi yang meletup-letup. Saya bukan alirannya Sapardi dengan Hujan Bulan Juni, saya Rendra dengan Pamflet Cinta.

Tetapi Tagore mungkin akan banyak dipuji oleh mereka pengagum Hujan Bulan Juni. Dan Gitanjali akan membuat mereka melupakan dunia. Dunia, yang kata Tagore, ibarat pantai bertepi yang menggelar pertemuan besar anak-anak.

Maka di bawah ini, biarlah saya tuntaskan sedikit kenang-kenangan dari Gitanjali, yang membuat saya menahan napas untuk sementara, membacanya berkali-kali, sebelum memutuskan untuk menyukai.

Ibu, aku akan menganyam sebuah rantai mutiara untuk lehermu dengan air mata penderitaanku. (Hal. 94)

Kekuatan apa yang membuatku keluar ke dalam misteri yang luas ini seperti sebuah kuncup dalam hutan di tengah malam. (Hal. 105)

Dan karena aku mencintai kehidupan ini, aku tahu aku akan mencintai kematian pula. (Hal. 106)

Seperti awal hujan bulan Juli yang tergantung rendah dengan beban rintik yang tak tercurahkan, biarkan semua pikiranku membungkuk rendah pada pintumu dengan satu salam padamu. (Hal. 112)

Hujan bulan Juli yang indah seperti milik Sapardi. Hirup dan resapi setiap lekuk hurufnya sebagaimana kau menghirup aroma tanah basah karena hujan, sebagaimana menghirup ranumnya Gitanjali.

Book Review #91. Review Gitanjali. Karya Rabidranath TagorePenerbit Liris, Surabaya: Cetakan 1,2010. 112 halaman. 


loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

1 Response to "Gitanjali"

Sara Fiza mengatakan...

Ibu, aku akan menganyam sebuah rantai mutiara untuk lehermu dengan air mata penderitaanku. (Hal. 94)

menarik. noted masuk reading list :)