https://wol.jw.org/ny/wol/d/r107/lp-cn/2015242
Apa yang terpikir di benak kita saat mendengar kata "CEO" atau Chief Executive Officer? Mungkin inilah beberapa diantaranya: kekayaan, prestise, kesuksesan, leadership, ahli strategi, kecerdasan. Tentang yang terakhir ini, semua tentu beranggapan bahwa seorang CEO pastilah banyak membaca buku, oleh karena itu wawasannya menjadi sangat luas dan peka terhadap perubahan. Namun, benarkah demikian?
Survey yang dilaporkan Majalah SWA (No.01/XXIV/9-23 Januari 2008) terhadap CEO-CEO di Indonesia cukup menarik untuk dicermati. Ternyata 70,97% dari responden mengaku hobi membaca. Hanya 6,45% yang dengan jujur memasukkan "menonton" dalam daftar hobinya. Tetapi ketika ditanya perihal hiburan apa yang paling disukai sepulang kerja, paling banyak menjawab menonton televisi/film. Hanya 29,03% responden yang mengaku menghilangkan penat dengan membaca.
Buku yang mereka sukai rata-rata buku ekonomi dan bisnis. Namun ada juga yang menyukai filsafat, politik, bahkan novel. Beberapa bahkan mengidolakan Pramoedya Ananta Toer, Dan Brown, dan Ayu Utami. Untuk buku bisnis, karya-karya Peter Drucker masih menjadi pilihan utama.
Lalu bagaimana dengan frekuensi mereka membaca? Berapa buku yang berhasil diselesaikan dalam 1 tahun? Jawaban terbanyak, yakni 32,26% mengatakan hanya menghabiskan 6-10 buku. Terbanyak kedua, yakni 29,0% membaca 1-5 buku saja. Jika kita anggap ketebalan buku rata-rata 200 halaman, maka CEO-CEO itu hanya membaca paling banyak 5 halaman setiap hari! Itu jika mereka mengkhatamkan 10 buku dalam setahun. Angka itu tentu cukup mengkhawatirkan bagi seorang CEO yang selama ini dianggap kaya wawasan.
Bandingkan dengan CEO-CEO perusahaan terkemuka dunia, sebagaimana dilansir metagraf.co (29/11/2015), yang sanggup membaca 4-5 buku per bulan. CEO General Electric yang mengundurkan diri Juni 2017 lalu, Jeffrey Immelt, bahkan melahap 50 buku dalam setahun. Jauh ya jika dibandingkan dengan para CEO di Indonesia?
Sepertinya, kebiasaan malas membaca menjangkiti hampir semua masyarakat Indonesia, termasuk CEO. Kantor Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, seperti dikutip rappler.com (5/11/2015), pernah menurunkan laporan bahwa 90% penduduk Indonesia yang berusia lebih dari 10 tahun tidak suka membaca dan lebih suka menonton televisi. Barangkali inilah salah satu penyebab Indonesia terus terpuruk di berbagai sektor.
Kalau para CEO, pemimpin perusahaan, yang dikenal cerdas dan berwawasan saja sedikit membaca bagaimana mereka bermimpi perusahaan mereka bisa tembus dalam jajaran Fortune 500?