Review Tentang Bulan

Tentang Bulan adalah buku puisi kedua Kyota Hamzah. Buku pertamanya, Elang Merah terbit beberapa bulan sebelum buku ini. Menurutnya, Elang Merah dan Tentang Bulan masih merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan.

Sayang, saya belum membaca Elang Merah, jadi saya hanya akan mengomentari buku ini tanpa mengaitkannya dengan buku sebelumnya. Buku yang berjudul: Tentang Bulan. Sebuah judul yang indah biasanya akan membuka gerbang keindahan. Namun, apakah akan sesuai harapan? Mari kita lihat isinya.

Memuat 64 puisi, saya terhenti pada halaman 22. Sebuah puisi berjudul Melupakan Bulan. Puisi ini mengisahkan tentang perenungan penyair terhadap dosa-dosa yang bertumpuk, "... sebanyak debu pasir", "... sebanyak lautan". Ada pengulangan kata  "Yaa.." dan "Shin..." yang jika digabung menjadi nama salah satu surah dalam Alquran. Surat Yaasin. Surat yang banyak memuat tentang renungan dosa dan kematian. Menarik menurut saya, ketika kemudian penulis menutup puisinya ini dengan memohon ampun kepada Tuhan.

Pada puisi Bajingan Merindukan Tuhan, kurang lebih sama. Tulisnya: Akulah sang bajingan/yang penuh noda dan debu/semua dosa telah aku jalani/dari ujung rambut hingga ujung kaki. Pengakuan dosa seperti ini mengingatkan saya pada syair terkenal yang seringkali dinisbatkan pada Abu Nuwas. Syair ataupun puisi menjadi mahkota bagi jalan panjang pertaubatan.

Puisi-puisi Kyota Hamzah begitu mudah dipahami namun sarat perenungan yang dalam. Sebagiannya adalah empati atas tragedi kemanusiaan. Dalam Surat Terakhir dari Aleppo misalnya, adalah seorang pejuang yang berkirim kabar pada kekasihnya tentang Aleppo yang dipenuhi "pertempuran gila": sayang, dalam kota yang bernama Aleppo/ setiap saat adalah kematian.

Kyota begitu gamblang dalam meniupkan ruh ke dalam setiap kata yang ia temui. Namn demikian, estetika sebuah puisi tidak berkurang nilainya hanya karena rendahnya tingkat kerumitan dalam pemaknaan setiap baitnya.

Harus saya akui, beberapa puisi sangat menarik. Namun beberapa pula, kata-kata yang berjejalin tak memiliki daya gedor, daya sentuh yang kuat, sehingga ketika saya membacanya, meski berkali-kali, tak merasa bahwa itu adalah puisi. Sebut saja dalam puisi berjudul Kesetiaan, Aku dan Hewan, Isi Hati Kaum Adam, dan lain-lain. Puisi-puisi yang saya sebutkan itu, saya yakin dibikin sambil lalu. Artinya, tanpa melalui proses perenungan dan pemaknaan yang dalam. Ia hanya seperti ucapan sepintas, seperti obrolan, yang keluar begitu saja tanpa terlalu dipikirkan. Sulit bagi puisi-puisi bagus lahir dalam kondisi demikian.

Inkonsistensi penulis dalam penggunaan tanda titik (.) di akhir larik juga sangat terlihat. Padahal, dalam puisi, tanda titik pun mestinya diperhatikan. Beberapa kesalahan ketik juga kerap kali ditemui. Tentu saja itu semua sangat mengganggu kenyamanan membaca. Semoga karya berikutnya jauh lebih baik lagi.

Book Review #93. Review Tentang Bulan. Karya Kyota Hamzah Penerbit Warung Media Books, Jakarta: Cetakan 1,2016. 97 halaman.



loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Review Tentang Bulan"