Teladan Sepanjang Zaman

Tahun ke-6 Hijriyah, saat kerinduan para sahabat untuk mengunjungi ka’bah telah begitu membuncah. Perjalanan berat nan melelahkan mereka tempuh, meninggalkan Madinah, menuju Mekkah. Di gurun terik menyengat, bersama junjungan tercinta, Muhammad Rasulullah.

Namun di tempat itu pula, sejarah mencatat kisah yang berurai air mata; tentang cinta dan kesetiaan, tentang tsiqah dan keteladanan. Hudaibiyah! Sebuah perjanjian yang membuat para sahabat memendam kecewa.

Adalah Suhayl ibn Amr, seorang utusan Quraisy yang membuat butir-butir perjanjian tertulis dengan Rasulullah SAW, sebuah perjanjian yang secara tekstual tampak sangat merugikan umat Islam. Satu diantaranya, bahwa kaum muslimin harus membatalkan rencana berangkat haji.

Butir perjanjian lainnya, mereka yang meninggalkan Mekkah tanpa izin orangtuanya harus diserahkan kembali tanpa syarat. Maka tersebutlah kisah, Abu Jandal, anak dari Suhayl memeluk Islam dan meminta perlindungan kepada Rasulullah, namun Rasulullah dengan tegas memintanya kembali. Melihat sikap Rasulullah, beberapa sahabat tak dapat menahan kekecewaannya. Umar bin Khattab, salah seorang sahabat terbaik Rasulullah SAW bahkan sampai berkata, “Bukankah engkau adalah Rasul Allah? Bukankah kita di pihak yang benar, dan musuh kita di pihak yang salah? Mengapa kita harus merendahkan kehormatan agama kita?”

Nabi SAW telah mengajarkan keberanian dan kehormatan, tetapi mengapa beliau menerima kesepakatan berat sebelah yang memaksa mereka tak dapat melakukan apa-apa saat Abu Jandal ditarik paksa oleh Suhayl sambil menangis memohon pertolongan? Para sahabat marah dan tak dapat memahami sikap Nabi. Demikian gambaran suasana batin para sahabat yang ditulis oleh Tariq Ramadhan dalam karyanya, Muhammad Rasul Zaman Kita.

Lebih dari sepuluh halaman, Tariq Ramadhan mengulas tentang perjanjian Hudaibiyah ini. Semuanya adalah tentang bagaimana Rasulullah hendak memberikan pengajaran dan keteladanan kepada para sahabat. Sekaligus ujian bagi keimanan dan ketaatan mereka pasca bai’at al-Ridhwan.

“Sembelihlah unta,” tegas Rasulullah. Namun tak seorang pun beranjak. “Sembelihlah unta,” untuk kali kedua para sahabat tak kunjung bergegas. Hingga tiga kali, semuanya diam dengan memendam kesedihan yang mendalam. Hingga kemudian, Ummu Salamah menyarankan Rasulullah SAW agar beliau sendiri yang menyembelih untanya, memberi contoh pada yang lain. Lalu Rasulullah melakukannya dan satu persatu para sahabat mengikutinya.

Keteladanan, Dakwah Paling Efektif
Peristiwa Hudaibiyah mengajarkan dengan sangat terang, bahwa keteladanan lebih utama dibandingkan kata-kata. Begitu Rasulullah SAW berangkat menyembelih unta, para sahabat bergegas melakukan hal yang sama. Keteladanan adalah mengajak kepada kebaikan dengan memberi contoh bukan dengan jalan memaksa.

Inilah yang harus dimiliki oleh para dai, para penyeru kebenaran. Tak cukup dengan kata-kata, tetapi kata-kata itu harus mewujud dalam sikap dan pribadi yang cemerlang. Jangan sampai, seorang dai justru mengatakan hal-hal yang sebenarnya belum pernah ia kerjakan bahkan tak ada semangat untuk mengerjakannya. “Wahai orang-orang yang beriman, mengapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. (QS Ash-Shaff ayat 2-3)

Dalam kehidupan sehari-hari, begitu banyak sesungguhnya yang terinspirasi berbuat kebaikan dari contoh dan keteladanan yang kita berikan. Saat di tempat umum, kita memulai membaca Alquran, beberapa orang tertarik juga untuk ikut membaca Alquran. Ketika berada dalam lingkungan kantor, adzan berkumandang dan kita bergegas menuju masjid atau mushalla maka beberapa rekan kita ikut serta.

Berapa pahala yang Allah kucurkan pada kita jika setiap teladan kebaikan yang kita berikan juga mereka lakukan, mereka jadikan kebiasaan, mereka ajarkan pula kepada keluarga dan sahabat-sahabatnya. Betapa indah dan membahagiakan, bukan?

Untuk itu, butuh keberanian. Keberanian untuk memulai, dengan diiringi niat yang ikhlas mengharap ridha Allah semata. Butuh keberanian untuk tidak takut terhadap celaan manusia, keberanian untuk memegang teguh prinsip atas apa yang kita yakini sebagai kebenaran.

Teladan Sepanjang Zaman
Salah satu alasan Michael Hart menempatkan Nabi Muhammad SAW sebagai tokoh pling berpengaruh sepanjang masa adalah karena kapasitas kepemimpinan beliau yang tak sanggup ditandingi oleh tokoh manapun, baik beliau sebagai pemimpin perang, pemimpin agama maupun pemimpin politik. Baik di waktu lampau hingga masa yang akan datang.

Dan satu hal penting yang memperkuat karakter kepemimpinan beliau adalah, keteladanan. Dengan keteladanan, seorang pemimpin dicintai dan dihormati oleh orang-orang yang dipimpinnya. Dengan keteladanan, seorang pemimpin bersama-sama pengikutnya menciptakan sejarah, mengubah peradaban.

Mari kita lihat bagaimana keteladanan berperan penting dalam memperluas kebaikan. Seorang guru yang memberi teladan pada murid-muridnya di sekolah, lalu dicontoh kebaikan-kebaikannya, diamalkan terus-menerus sehingga menjadi akhlak yang kokoh. Setelah kelak ia berkeluarga, ia mewariskan keteladanan itu pada istri dan anak-anaknya, pada masyarakat, sehingga ia menjadi tokoh di lingkungannya. Jika pribadi-pribadi yang gemar memberikan keteladanan seperti itu melimpah jumlahnya di negeri ini, niscaya setiap hari kita hanya akan melihat kebaikan-kebaikan yang membuat dada lapang, kebaikan-kebaikan yang akan membuat negeri ini seolah penggalan FirdausNya.

Rasulullah telah mengajarkannya kepada kita sejak 15 abad lampau. Bagaimana pesona pribadinya yang bagai cahaya bahkan membuat takjub musuh-musuhnya, melintasi zaman dan dipuji-puja bahkan oleh orang-orang yang berseberangan ideologi dan keyakinan.

“Sungguh pada diri Rasulullah terdapat suri teladan yang indah bagi orang yang mengharap (rahmat Allah), dan keselamatan hari akhir, serta banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab 33:21)

Tidak hanya dari diri Rasulullah SAW kita belajar tentang keteladanan. Dari Nabi-Nabi pilihan kita juga belajar. Dari Nabi Ayyub kita belajar tentang kesabaran tatkala menghadapi musibah yang berat, dari Nabi Sulaiman kita belajar mengelola ilmu dan kekayaan, dari Nabi Ibrahim kita belajar menyalakan ketaatan kepada Allah, dari Nabi Ismail kita belajar tentang pengorbanan, dari Nabi Yunus kita belajar menginsafi diri, dari Nabi Yusuf kita belajar untuk sabar dari godaan, belajar untuk tak memberi ruang bagi tumbuhnya dendam.

Dari sahabat-sahabat Rasulullah SAW, kita juga belajar tentang keteladanan. Dari para salafus shalih dan orang-orang terdekat, kita pun belajar. Carilah kebaikan-kebaikan mereka, galilah keunggulan-keunggulan mereka, tiru dan buatlah diri kita melebihi mereka. Karena sungguh merugi, jikalau kita sering bertemu dengan orang-orang baik namun kita tak kunjung menjadi lebih baik.


Jadilah cahaya, meski pada mulanya kita hanya memantulkan cahaya yang mereka punya. Lalu berproseslah, menjadi lebih benderang, menjadi lebih cemerlang. Tugas kita adalah menerangi kegelapan, menyinari peradaban. 


(Dimuat di Majalah SQ Edisi September 2017). Bagi yang ingin mendapatkan majalah ini atau menjadi donatur Yayasan Dompet Al-Quran Indonesia (DeQI), sebuah lembaga sosial yang berfokus untuk menyantuni anak yatim penghafal Qur'an, bisa menghubungi saya atau situs resminya www.dompetalquran.org
loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Teladan Sepanjang Zaman"