Tragedi G-30-S 1965 dalam Bayang-Bayang Bung Karno Sang Peragu

Buku ini adalah kumpulan surat-surat politik Iwan Simatupang kepada karibnya, B. Soelarto yang juga seorang sastrawan. Surat-surat yang mengabarkan kebencian Iwan terhadap PKI dan segala antek-antek pendukungnya.

Iwan Simatupang benar-benar habis-habisan. Begitu berani, agitatif, tanpa basa-basi. Lihat saja dalam suratnya yang dalam buku ini diberi judul Tugas Sejarah Generasi Beetween, "Demi Allah, apabila kita oleh paham-paham itu harus serahkan batang leher kita pada algojo-algojo dari utara itu... Mereka harus membayarnya sangat... sangat mahal, larto! Dan kalau Tuhan Allah SWT sudah kurang antusias lagi dengan mengurniakan mirakel (mukjizat) pada kita, apa boleh buat. Fi Sabilillah! Ayo maju! Maju Larto! Allahu Akbar!" (Hal. 13)

Tidak hanya itu, ia juga menyerang Aidit, membongkar boroknya dan menguak friksi yang terjadi di tubuh PKI; antara Aidit dan Njoto. Bahkan Njoto, ia sebut, bertampang "sok intelek" dan "sok filosofis".

Dalam Surat Iwan Simatupang tertanggal 4 Februari 1965 kepada B Soelarto, ia telah meramalkan bahwa PKI akan melakukan kudeta. Berikut petikannya. (Hal. 14)

Larto, suatu psikose menjalar kini di seluruh nusantara:kapan persis PKI mau coup?

Aidit boleh seribu kali membantah, tapi rakyat dan ABRI kita masih teringat pada Madiun. Dan Aidit secara seratus prosen sudah pula menggertak.
Bila di tahun 1948 PKI dengan anggota cuma 100.000 bisa bikin korban begitu banyak, bagaimana dengan PKI sekarang yang sudah punya anggota tiga juta (resmi)?
Secara aljabar kelas 1 SMP tentu seramnya lebih tiga puluh kali! Jadi, mayat yang bakal bergelimpangan akan tiga puluh kali; darah kering di gedung-gedung pembantaian (yang mungkin nanti bakal mereka sebut Marx House)
tebalnya tiga puluh kali dari darah kering yang ditemukan di ubin Marx House Madiun.

Semua gambaran seperti ini memang seram, Larto!
Dan bukan tak punya alasan rakyat kita
untuk mengenangkan kembali Madiun
di tingkat pergolakan politik seperti kini ini...
Tetapi kita belum perlu panik. Percayalah apa yang disebut open society pastilah akan tampil dan membangkang terhadap kecenderungan yang dipaksakan oleh PKI dan antek-anteknya.

Tahukah kau Larto, aku sebenarnya tidak takut kepada coup PKI itu. Artinya pada akhirnya mereka itu pasti terkalahkan juga.
yang mulai sekarang kusmasgulkan adalah bahwa setelah coup itu keutuhan tanah air kita sudah tidak dapat dipertahankan lagi.
Dengan kata lain, sesudah coup komunis maka proses balkanisasi Tanah Air kita tak dapat terelakkan!
melalui subversi, infiltrasi dan penetrasi, kaum komunis akan terus membuat kacau Asia Tenggara.
semuanya pecah belah, lemah.
Dan kalau semua sudah kepayahan, mereka akan datang dengan stoomwals-nya.
sampai di mana usaha mereka ini dapat dipatahkan?
kita belum berani meramalkan.

Perhatikan bagaimana Iwan Simatupang meramalkan kudeta. "Pada akhirnya mereka itu pasti terkalahkan juga", benar, setelah peristiwa G-30S, PKI dan antek-anteknya digulung oleh rakyat dan militer. Sampai kini, mereka menuntut pertanggungjawaban tentang hal itu, sementara mereka melupakan bagaimana mereka membunuhi para santri dan memenggal para ulama kita.

Hanya butuh 17 tahun (1948-1965) bagi PKI untuk melipatgandakan kekuatan sebanyak 30 kali. Sementara saat ini, sudah 19 tahun sejak reformasi; tumbangnya orde baru yang disusul bangkitnya PKI. Kira-kira berapa kekuatannya?

Dukungan pemerintah terhadap PKI yang membuat PKI semakin kuat, sebagaimana Bung Karno yang memuji-muji PKI setinggi langit, "dan gamblang berkata, bahwa tanpa kaum komunis, revolusi Indonesia tak akan bisa selesai!" (hal 43)

Namun demikian, Iwan mengaku, sebenarnya ia adalah pemuja Bung Karno. Hanya ia menyayangkan, BK terpedaya oleh Aidit dan dayang-dayangnya yang justru menjauhkannya dari rakyat.

Dalam penilaian Iwan, Bung Karno terlalu garang ke luar, tapi peragu di dalam. Bahkan di dalam negeri, Bung Karno, menurut Iwan, tak lebih ditakuti daripada Bung Hatta. Bung Hatta jauh lebih ditakuti kolonial karena ide koperasinya, karena dikhwatirkan melumpuhkan total perekonomian mereka. 

Di ranah kebudayaan, Iwan Simatupang juga menuding beberapa nama yang berkongsi dengan PKI, diantaranya: Pramoedya Ananta Toer, Sitor Situmorang, A.D Donggo, dll. 

Di bagian akhir buku ini, disertakan juga kesaksian para tokoh dan budayawan seputar G-30S dan kontroversi Bung Karno. Dimulai dari Surat Bung Hatta yang ditujukan pada Bung Karno. Bung Hatta dengan tegas memprotes naiknya harga-harga hingga 62 kali lipat. Kata beliau, "Sampai sekarang pemerintah hanya pandai menaikkan harga dan tarif semau-maunya, tetapi tidak pernah sanggup mencapai rasionalisasi dalm produksi dan pekerjaan. rasionalisasi dan penghematan inilah yang harus dilaksanakan lebih dahulu sebelum menaikkan harga."

Lebih lanjut Bung Hatta menulis, "Tidak tepat ucapan Chaerul Saleh, bahwa kenaikan harga bensin hanya menimpa kapitalis-kapitalis besar yang punya mobil bagus-bagus, sebab banyak sekali alat-alat angkut barang keperluan hidup rakyat, berjalan dengan bensin."

Sementara Mochtar Lubis menyidir dengan sangat tajam Bung Karno, "Seandainya kemahiran berpidato dapat membesarkan sebuah bangsa, maka bangsa Indonesia seharusnya telah jadi bangsa terbesar di dunia. Karena dalam urusan berpidato, Soekarno tak punya seorang pun tandingan."

Taufiq Ismail, sebagaimana dikutip dari Prahara Budaya:


Bertanyalah kau: bagaimana bisa menaklukkan kebencian itu?Bagaimana cara memadamkan kebenciandi hati orang-orang Lekra-Marxis-Leninis itu? 
Pertanyaan itu betapa naif mendekati pandir.Yang urgen adalah yang paling dekat saja.Bagaimana respons kita bila dipojokkan terus-menerus karena bidikan fitnah, character assasination, polemik, tarik urat leher, konferensi, pembungkaman, pemecatan, pelarangan penerbitan, pembakaran buku, dan piringan hitam,apakah akan terjelma kebencian serupa yang merangsangmu balas dendam? 
Karena Hamka dijebloskan ke penjaraMestikah kita menuntut menjebloskan mereka pula?Karena buku kita dilarang,Apakah kita balik menuntut melarang buku Lekra pula?Karena mereka membakar buku kitaLantas kita balas dengan membakar buku mereka. Demikiankah? 
Jawabnya adalah Tidak!Begitu ditiru ulang kembali apa yang mereka lakukan,maka kita sama saja dengan mereka.Bila tenaga yang mendorong move mereka adalah kebencian dan kekerasanMaka tenaga yang jadi sumber kiprah kitaadalah cinta dan amal saleh. 
Meniru tindakan mereka berarti mereduksi kepribadian kita sendiri dan menghalangi transendensi total kita ke hadirat Yang Mahasegala.Penegakan tauhid adalah untuk segala ruang dan kapan pun!Dan dalam konteks Indonesia, benteng bersama bangsa adalah Pancasila. 
Tapi tidak berarti bila "pisau tajam teramat tajam tu"sudah mereka "genggam lalu ditikamkan" ke arah jantung kita,lantas kita bentangkan dada kita begitu saja.Pisau yang satu itu hendaknya kita tangkis dan balikkan arahnya. 
Tidak hanya kesaksian tokoh yang kontra PKI, di bagian paling akhir dari buku ini juga ada kesaksian Pramoedya Ananta Toer yang nota bene adalah seniman Lekra, juga Permadi yang mengatakan bahwa peristiwa 1965 didalangi oleh CIA. Ia justru menekankan pada terbunuhnya anggota dan simpatisan PKI pasca G-30S. Bagi Permadi, Iwan Simatupang bukanlah budayawan melainkan seorang politisi. 

Buku ini adalah edisi revisi atau terbitan ulang dari buku Surat-Surat Politik Iwan Simatupang 1964-1966 yaang diterbitakan LP3ES, 1986 setebal 252 halaman. Murni berisi surat-surat Iwan Simatupang, tanpa tambahan kesaksian dari tokoh maupun budayawan. 



Book Review #94. Review Tragedi G-30-S 1965 dalam Bayang-Bayang Bung Karno Sang PeraguKarya Iwan Simatupang Penerbit Insan Merdeka, Bogor: Cetakan 1,2013. 312 halaman.


loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Tragedi G-30-S 1965 dalam Bayang-Bayang Bung Karno Sang Peragu"