Produktivitas Menulis

Seminggu aku sanggup menulis 10.000 lembar (Abu Bakar al-Anbari)
Abu Bakar al-Anbari tidak hanya dikenal sebagai perawi hadits, beliau juga seorang ahli nahwu, ahli tafsir, sekaligus ahli sastra. Kemampuan membaca, menulis, dan daya ingatnya sangat luar biasa. Beliau menghafal 120 kitab tafsir Alquran lengkap dengan sanadnya, juga menghafal 300 ribu bait syair.

Dan menulis 10.000 lembar dalam seminggu!
Jika diambil rata-rata harian, berarti beliau menulis lebih dari 1400 lembar setiap hari. atau sekitar 50 lembar tiap jam. Adakah penulis hari ini yang seproduktif beliau?
Saya membayangkan bagaimana Abu Bakar Al-Anbari bisa menulis sebanyak itu. Pasti dimulai dari tradisi membaca yang tidak bisa. Jika yang dihafal saja sebanyak 300 ribu bait syair dan 120 kitab tafsir, pasti yang telah dibaca lebih banyak dari itu.

Diriwayatkan, bahwa al-anbari sampai menderita sakit parah karena ketekunannya menulis. Ini menunjukkan totalitas sekaligus semangat luar biasa untuk terus melahirkan karya. Beliau hidup sekitar abad ke-10 dan kita tahu bagaimana kehidupan saat itu. Dengan segala keterbatasan, beliau melahirkan karya yang seolah-olah tanpa batas.

Tradisi menulis seperti ini terus diwariskan oleh para generasi ulama sala. Mereka berlomba-lomba melairkan karya. Menulis kitab. Menuangkan pikiran-pikiran cemerlang yang terus dibaca sepanjang zaman.

Abu bakar al anbari hanya satu dari sekian banyak kegigihan yang ditunjukkan para ulama salaf dalam mewariskan ilmu. Tanpa motivasi yang kuat, tak mungkin 50 lembar tiap hari tercapai. Saya saja menargetkan 3 halamn tiap hari sudah seringkali kewalahan. Padahal saya bertekad karya-karya yang saya lahirkan mengabadi bersama kucuran pahala setiap kali seseorang membaca dan mengamalkannya. Al anbari barangkali memeliki energi motivasi yang jauh lebih besar dari itu.

Produktif menulis, tidaklah mudah. Ia harus melewati serangkaian tantangan dan godaan. Teknologi bukanla jaminan bahwa penulis akan semakn produktif. Buktinya, dulu tidak ada laptop, tidak ada gawai, bahkan tidak ada listrik sebagai pnerang. Tetapi mengapa al anbri lebih produktif?

Terlalu banyak kebutuhan, banyak perangkat teknologi yang dimiliki, membuat semakin banyak alasan untuk tidak menulis. Mau menulis, lebih menarik main game. Mau menulis, lebih menarik nonton tv, mau menulis lebih asyik bermedsos.
Jadi, kapan kita bisa seperti al anbari?
loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Produktivitas Menulis"