Segera Menikah Bukan Tergesa-Gesa Menikah

         
 Apa beda bersegera dan tergesa-gesa? Saya akan memberikan ilustrasi sederhana untuk Anda. 

Anda merasa kurang enak badan, demam, muntah, lambung terasa nyeri sekali. Lalu saat itu juga Anda memutuskan pergi ke dokter.
Bandingkan dengan ini. Kasus yang sama. Tetapi Anda memutuskan langsung beli obat dari toko sebelah. Belakangan diketahui, ternyata Anda salah minum obat. Sehingga sakit Anda justru semakin parah.
Di antara dua ilustrasi tersebut, mana yang kira-kira masuk kategori bersegera dan mana yang tergolong tergesa-gesa?
Yup. Anda bisa menjawabnya dengan baik. Ilustrasi pertama contoh dari bersegera, yang kedua contoh dari ketergesa-gesaan. Tujuan keduanya sama, sama-sama ingin sembuh. Responnya pun sama, sama-sama cepat mengambil tindakan. Yang membedakan adalah caranya, sehingga hasil akhirnya pun berbeda.
Perkenankan kiranya saya bercerita, tentang seorang pemuda yang datang menemui saya. Ia bicara dengan raut wajah sedih. “Saya ketahuan teman,” katanya dengan nada yang sangat pelan, “Ketahuan nyimpan gambar begituan di HP.”
Lalu ia ceritakan segala kegalauannya, ia tumpahkan semua uneg-unegnya. “Saya menyesal. Sangat menyesal. Itulah sebabnya saya mengirim proposal. Saya ingin menikah.” Saya melihat kesungguhan dalam sorot matanya.
Sebenarnya, pemuda itu bukan hanya ingin menikah, tetapi ia menyadari bahwa ia telah wajib menikah. Sebagaimana kata Imam Al-qurtubi, “Seseorang yang berkemampuan menikah dan khawatir terhadap dirinya dan agamanya untuk menjaga kesuciannya dan kekhawatiran tersebut tidak bisa dihilangkan kecuali dengan menikah, maka tidak ada perbedaan pendapat akan kewajiban menikah baginya.”
Saya sangat mengenal pemuda itu. Ia adalah orang baik. Saya tidak sedang mentolerir kesalahannya, namun saya memahami bahwa, kecuali Rasulullah SAW, sebaik-baik seseorang tak ada yang sempurna dari cela. Apalagi seorang anak muda perjaka dengan godaan yang setiap saat mengelilinginya.
Tetapi ia telah memilih cara yang tepat. Ia bersegera untuk menikah agar tidak berlama-lama dalam maksiat. Maka atas usahanya ini, saya acungkan dua jempol. Karena di saat yang sama, betapa banyak pemuda yang telah berpenghasilan bahkan bisa dibilang mapan secara ekonomi berkubang dalam zina setiap hari.

Menunda Nikah ala Pemuda Zaman Now
Pemuda zaman now menunda menikah dengan segudang alasan. Mulai alasan belum berpenghasilan, berpenghasilan tapi sedikit, belum mendapat restu orang tua, mengejar karir, belum punya rumah, belum punya mobil, belum menemukan calon yang cocok, dan seterusnya. Deretan alasan itu akan bertambah panjang seiring dengan semakin pintar ia membuat jawaban, ketika pertanyaan pamungkas meluncur dari orang-orang terdekat, “Kapan nikah?”
Jika menunda menikah karena sibuk menuntut ilmu seperti Imam Nawawi, menulis kitab untuk kemaslahatan umat, mungkin tak masalah, asal dipastikan bisa menjaga diri dari maksiat. Tetapi kalau betah membujang dan sama sekali tidak produktif, ditambah mata sering jelalatan, aduhai di mana rasa malunya pada Allah diletakkan?
Padahal Islam telah memudahkan. Syarat untuk menikah gak pake ribet. Simak baik-baik hadis Nabi SAW berikut ini: “Wahai sekalian pemuda, barangsiapa sudah ba’ah maka menikahlah! Karena menikah lebih menjaga pandangan dan kemaluan.” (HR. Bukhari)
Jadi syaratnya Cuma satu. Ba’ah. Artinya kemampuan untuk menafkahi. Bukan harus berpenghasilan sekian juta atau sekian milyar. Bukan! Ba’ah, itu saja. Dan setiap laki-laki yang baligh punya kemampuan untuk mencari nafkah. Artinya, semiskin-miskinnya orang, tetap dianjurkan untuk segera menikah.
Yakinlah pada janji Allah, bahwa seseorang yang menikah karena mengharap ridha-Nya, akan Allah bukakan pintu rezeki untuknya, seluas-luasnya, dari arah yang tak diduga-duga.
"Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas lagi Maha Mengetahui." (QS. An-Nur: 32)
Setiap pemuda yang beriman, seharusnya yakin dengan janji Allah ini. Keyakinan itulah yang insya Allah akan memudahkan urusan-urusan berikutnya. Meyakinkan orang tua, itu soal mudah. Sekeras-kerasnya hati manusia, akan luluh jika kita meminta berulang-ulang dengan hikmah sembari terus membangun kepercayaan.
Jadi, apalagi alasan berikutnya untuk memunda?


Usia Menikah dan Kriteria Pasangan

Nah, inilah yang seringkali mengganjal pemuda untuk menemukan permaisuri atau pangerannya. Terutama bagi laki-laki, terlalu banyak kriteria. Saya beberapa kali memproses lewat tukar biodata, kriteria yang tertulis di proposal memang hanya satu-dua, tetapi setelah berkali-kali menolak, saya baru tersadar bahwa ternyata ada kriteria tersirat. Kriteria tersirat itu adalah cantik rupawan bak Zulaikha. Saya jadi bertanya-tanya, apakah mereka sudah merasa seperti Yusuf ‘alaihissalam?
Ada yang mensyaratkan dua tahun lebih muda, harus berprofesi guru, harus tingal di kota A, blablabla. Yah, itu semua manusiawi, wajar-wajar saja. Akan tetapa coba renungkan, ketika seseorang dalam kondisi bersegera apakah ia akan mencari yang sempurna? Hingga pencarian keberapa? Apakah ada? Kalaupun ada, apakah pasti ia mau denganmu?
Syarat shalihah harus diletakkan di atas segalanya. Jika keshalihahannya sudah jelas, maka kriteria lainnya menjadi sangat remeh. Terlalu gemuk, bukankah nanti bisa ikut program diet. Tidak bisa memasak, bukankah bisa belajar memasak. Kurang cantik? Itu hanya soal selera. Semua wanita shalihah itu menarik, memiliki inner beauty. Kecantikan inilah yang akan membuatnya tampak cantik ketika nanti sudah membangun mahligai rumah tangga. Ini hanya soal bagaimana menumbuhkan cinta, karena ketika cinta hadir maka setiap kekurangan pasangan akan tertutupi oleh kebaikan-kebaikannya.
Berikutnya, tentang usia. Usia berapakah seharusnya seseorang menikah? Pada tulisan sebelumnya, saya sudah sedikit mengulas. Menurut hukum positif negara kita, seorang laki-laki yang hendak menikah harus berusia minimal 19 tahun, bagi wanita minimal 16 tahun. Sementara Islam mengajarkan kepada kita bahwa ketika sudah mencapai baligh, seseorang boleh menikah.
Ada yang bertanya, tidakkah menikah muda akan terlalu beresiko? Perceraian misalnya? Menikah di usia berapapun akan memiliki resiko yang sama jika pernikahan yang dibangun tidak dilandasi ilmu, kematangan, dan keshalihan. Dan usia tidak selalu menunjukkan kesempurnaan dalam tiga hal itu. Seorang laki-laki masih kuliah, bisa jadi lebih matang, shalih, dan berilmu daripada yang sudah berkepala empat. Jadi, tak ada kolerasi bahwa menikah muda akan beresiko tinggi terhadap angka perceraian. Saya sendiri menikah saat masih kuliah, usia 22 tahun dan pernikahan kami saat ini sudah berusia 8 tahun.
Memang, harus diakui ada diantara mereka yang menikah muda dan usia pernikahannya hanya bertahan satu atau dua bulan. Tapi saya lihat bukan karena faktor usianya, tapi lebih disebabkan kurangnya kesiapan dalam membina rumah tangga. Tiga hal yang sudah saya singgung di atas. Inilah yang dimaksud dengan tergesa-gesa. Ibarat seseorang yang akan bepergian, karena melihat sudah saatnya berangkat, ia berangkat secepat kilat dan alhasil ia lupa tidak membawa bekal. Seseorang yang tergesa-gesa selalu miskin perencanaan, miskin persiapan, miskin perhitungan.
Coba kita lihat orang-orang zaman dulu, banyak yang menikah di usia muda, tetapi baik-baik saja. Malah rukun dan sejahtera. Anaknya banyak, rezekinya cukup, bahkan bisa mengantarkan anak-anaknya menjadi sarjana.

Maka Bersegeralah!
Mohon maaf jika tulisan saya ini terkesan lebih banyak ditujukan untuk laki-laki. Karena memang faktanya, mereka yang menunda-nunda sebagian besar adalah laki-laki. Wanita lebih banyak menunggu. Mereka tak kunjung menikah bukan karena ingin berlama-lama tapi karena pinangan tak kunjung datang.
Maka wahai para pemuda nan gagah, jemputlah segera bidadarimu. Betapa ia telah menanti lama kehadiranmu, dengan terus berjuang menjaga diri dan kehormatannya, dengan terus memperbaiki diri hari demi hari. Jemputlah ia sembari bersenandung, “Engkaulah, bidadari surgaku.”


(dimuat di Majalah DeQI edisi Februari 2018)

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Segera Menikah Bukan Tergesa-Gesa Menikah"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel