Mahligai Bernama Pernikahan

Tiada yang paling indah bagi dua insan yang berkomitmen hidup bersama, melainkan hari pernikahan. Inilah hari yang ditunggu-tunggu, sebuah gerbang menuju kemuliaan.

Dari Jabir RA, Nabi SAW bersabda, “Ada tiga hal bila orang melakukannya dengan penuh keyakinan pada Allah dan mengharapkan pahala-Nya, Allah ta’ala mewajibkan diri-Nya untuk membantunya dan memberinya berkah. Orang yang memerdekakan budak karena imannya kepada Allah dan mengharapkan pahala-Nya, maka Allah ta’ala mewajibkan diri-Nya membantunya dan memberinya berkah. Orang yang menikah karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala-Nya, maka Allah ta’ala mewajibkan diri-Nya membantunya dan memberinya berkah… (HR. Thabrani)

Akad telah terucap. Mitsaqan ghaliza. Sebuah perjanjian agung yang menggetarkan arsy. Pada hari itu, yang semula haram menjadi halal, bahkan bernilai ibadah. Berduaan, bersentuhan, dan malam zhafaf yang indah. Berpegangan tangan, saling meremas, menggugurkan dosa-dosa. Pahala shalat dua rakaat setara dengan tujuh puluh rakaat shalat sunnah saat masih sendirian.

Betapa pernikahan membawa keberkahan yang melimpah. Belum lagi rezeki yang Allah janjikan, dalam firman-Nya:

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan mengkayakan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) dan Maha Mengetahui (QS. An-Nur: 32)

Maka nikmat Tuhan yang mana lagi yang kita dustakan? Pernikahan menjadi pembuka kebahagiaan di dunia, sehingga diibaratkan istri yang shalihah sebagai sebaik-baik perhiasan, yang menyejukkan pandangan, menentramkan jiwa.

Kuntum-Kuntum yang Merekah
Cinta. Ia yang menjadikan segalanya tampak indah. Cinta hadir dan merekah seperti kelopak-kelopak bunga di musim semi. Cinta, kata Anis Matta, adalah gelombang makna-makna yang menggores langit hati, maka jadilah ia pelangi.

Sepasang insan yang telah membangun mahligai, belajar untuk saling mencintai. Mereka beradaptasi satu sama lain. Melakukan penyesuaian-penyesuaian, melebur perbedaan, menjembarkan persamaan, menuju pada satu titik sakinah yang mereka bangun bersama. Mereka seolah memadukan karya monumental masing-masing untuk dipoles dalam satu bingkai cinta dan menjadikannya mahakarya tak ternilai. Sebab dalam cinta, kata Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam kitabnya yang fenomenal, Raudhatul Muhibbin, seorang kekasih akan cenderung menyenangi apa yang disenangi oleh kekasihnya.

Maka seiring waktu berjalan, akan kita temukan keduanya yang dulu datang ke pelaminan dengan warnanya masing-masing telah berubah menjadi satu warna baru. Kita menyadari bahwa mereka telah memiliki kesamaan pemikiran, kesamaan hobi, kesamaan cita-cita dan impian, serta berbagai kesamaan lainnya.

Begitulah proses saling memberi dimulai. Memberi sebanyak-banyaknya. Dengan demikian, cinta tumbuh dan hidup.

Perhatian Vs Kepercayaan
John Gray dalam bukunya Men are From Mars, Women are From Venus, mengatakan bahwa terkadang suami maupun istri merasa telah memberi, telah mencintai, tetapi mereka merasa tak mendapatkan haknya untuk dicintai.

Penyebabnya, lanjut John Gray, karena laki-laki dan perempuan memiliki kebutuhan primer emosional yang berbeda. Suami membutuhkan kepercayaan dari istri, sementara istri membutuhkan perhatian dari suami. Saat suami menunjukkan kepedulian pada istrinya, mendengarkannya ketika berbicara, menyanjungnya, memahami keinginannya, istri merasa diperhatikan. Demikian pula saat istri menunjukkan sikap terbuka, menerima keputusannya, tidak bersikap curiga, suami merasa mendapat kepercayaan. Itulah “hak dicintai” yang mereka inginkan.

Seni memperhatikan dan mempercayai ini seharusnya dimiliki oleh setiap pasangan, untuk mendapatkan kualitas hubungan yang baik dalam pernikahan. Jika sudah demikian, suami maupun istri akan menjalankan tugas dan tanggung jawabnya dengan maksimal.

Tentu semuanya harus dilandasi iman. Bahwa ridha Allah dan pahala dari-Nya adalah sebaik-baik balasan. Tidak ada yang lebih diinginkan kecuali berusaha menjadi suami atau istri terbaik, sesuai tuntunan-Nya.

Ketika Badai Datang
Saya kira tak ada satu pun pernikahan yang tak menempuh badai. Sejarah mencatat, bahkan dalam rumah tangga Rasulullah pun, ada masa-masa yang diwarnai ketegangan, untuk kemudian berurai air mata. Sebab inilah yang mengokohkan sebuah mahligai. Ujian cinta. Ujian komitmen. Ujian kesetiaan.

Peristiwa haditsul ifki, siapa yang tak merasakan getarannya? Berulang-ulang saya membaca kisahnya, berulang pula saya meneteskan airmata. Siapa tak terguncang hatinya, melihat badai fitnah yang begitu besar ditujukan kepada keluarga paling mesra sepanjang zaman, keluarga teladan yang darinya lahir generasi-generasi pilihan, Rasulullah SAW dan Aisyah RA.

Tetapi dengan pertolongan Allah, beliau bisa melaluinya.

Maka ketika badai datang, bergembiralah. Saling berpegangan, saling berpeluk. Selesaikanlah konflik dengan happy ending. Ingatlah kembali komitmen yang telah dibangun bersama. Ingatlah tujuan mulia yang diikrarkan kali pertama: rumah tangga hingga ke surga.

Pada akhirnya, seperti sebuah judul novel karya Marga T, Badai Pasti Berlalu. Setelah itu, rasakanlah getaran cinta yang lebih hangat, lebih harmoni, lebih akrab.

Hingga ke Surga
Inni qad ruziqtu hubbaha, kata Rasulullah ketika mengenang Khadijah RA. Sungguh, kata beliau, saya telah dikaruniai energi untuk mencintainya. Inilah yang membuat cinta Rasulullah untuk istri pertamanya itu tak lekang zaman, tak tergantikan.

Mencintai butuh sebuah energi. Mencintai butuh napas panjang dan santapan kebersamaan. Bukan sekadar kebersamaan, tetapi kebersamaan yang menghasilkan energi, kebersamaan yang bukan hanya tentang kenikmatan. Lebih dari itu, kebersamaan yang jerih dalam perjuangan. Kebersamaan yang bercerita tentang kisah-kisah indah bersama Allah. Seperti ketika Rasulullah SAW pulang dari Gua Hira dengan tubuh menggigil, kemudian Khadijah menyelimuti beliau sembari membesarkan jiwanya. Inilah energi cinta itu.

Usia pernikahan tidak menjamin sebuah keluarga bisa bertahan. Ada yang berpuluh tahun kemudian berakhir. Ada yang baru terhitung bulan, kandas di tengah jalan. Semua bergantung pada berapa besar energi cinta yang tersisa. Barangkali inilah yang dalam ilmu psikologi, disebut oleh Robert Stenberg sebagai “Segitiga Cinta”. Perpaduan tiga dimensi: hasrat (passion), kedekatan (intimacy), dan komitmen (commitment).

Dalam sebuah pernikahan, yang disebut terakhir adalah yang terpenting. Mahligai akan kokoh berdiri, meski tidak ada hasrat dan kedekatan. Stenberg menyebutnya sebagai Empty Love. Cinta yang Kosong. Biasanya ditemukan pada mereka yang menikah karena dijodohkan, atau pada setiap pernikahan yang tidak ada hasrat di dalamnya. Tetapi mereka tetap bisa hidup rukun. Sebab mereka telah mengikat hati dengan komitmen. Dan komitmen ini tumbuh karena keyakinan yang kuat pada Allah, karena kesadaran yang tinggi akan tugas dan tanggungjawabnya sebagai suami atau istri, karena mereka tahu pernikahan mereka disaksikan langit melalui sebuah perjanjian agung yang mengguncang arsy.

Benarlah kiranya saat Hasan bin Ali mengatakan, “Nikahkanlah anakmu dengan orang yang bertakwa kepada Allah. Sebab, bila ia mencintainya, ia akan memuliakannya. Sementara jika ia tidak—atau belum- mencintainya, ia tidak akan menyakitinya.”

Ia, adalah lelaki, yang mampu berkata sebagaimana Imam Syahid Hasan Al-Banna kepada istrinya, “Wahai Ummu Wafa, istana kita menanti di surga. Allah tidak akan menyia-nyiakan kita di dunia…”

Referensi
1.      Bahagianya Merayakan Cinta karya Salim A Fillah
2.      Muhasabah Cinta karya Rafif Amir
3.      Rumah Cinta Hasan Al-Banna karya Muhammad Lili Nur Aulia
4.      Metafora Cinta karya Rafif Amir
5.      Kupinang Engkau dengan Hamdalah karya M. Fauzil Adhim
6.      Men are From Mars, Women are From Venus karya John Gray

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Mahligai Bernama Pernikahan"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel