Saksikan, Bahwa TV Tidak Mengasyikkan!



Hari ini saya baru menyadari bahwa televisi di rumah jarang dinyalakan. Hanya kadang-kadang, itu pun untuk menonton berita di channel TV One. Atau program favorit saya, ILC.

TV yang kami miliki juga tergolong masih jadul, berbentuk tabung. Cukup pakai antena kecil yang bertengger di atasnya. Beberapa tahun lalu sempat rusak dan tidak kami perbaiki. Cukup lama dibiarkan terlantar. Sampai-sampai, ketika ibu datang berkunjung ke rumah protes kenapa kami tidak membeli tivi yang baru. Gak ada hiburan, kata beliau.

Maka istri pun diam-diam memanggil tukang servis, sehingga menyalalah kembali si tivi mungil 20 inch bermerk Sharp itu.
***
Sebenarnya, ada satu alasan cukup kuat di luar alasan-alasan lain, kenapa kami tak begitu menyukai kehadiran televisi. Sewaktu anak saya, Safa, masih berusia 1 atau 2 tahun, televisi di rumah menyala hampir 12 jam. Yang menonton tentu saja bukan saya, melainkan saudara yang tinggal serumah dengan kami dan ikut membantu menjaga toko di siang hari. Acara favoritnya saat itu joget ala Caesar dan tayangan-tayangan sejenis. Dengan cepat, Safa kecil yang belum bersekolah menangkap tayangan-tayangan itu dan mulai menirukan lagu-lagu dan adegannya.

Jika orang tua lain mungkin senang dan tertawa melihat tingkah anaknya bernyanyi, saya tidak. Saya justru sedih. Kemudian saya membuat aturan dan mencari cara agar Safa tidak kecanduan dan ikut-ikutan menonton program itu. Sampai akhirnya, saudara saya itu memutuskan resign hampir bersamaan dengan rusaknya tivi.
**
Betapa merusaknya televisi, jika hadir setiap hari menjadi teman setia anak-anak di rumah. Apa yang disuguhkan televisi sebagian besar merusak. Belum lagi efek yang ditimbulkannya secara budaya. Anak-anak menjadi kecanduan dan merasa malas untuk membaca buku. Mungkin tak salah, jika kemudian ada yang mengatakan telivisi adalah musuh bebuyutan buku. Nonton versus membaca.

Sebagian orang yang “militan” bahkan memutuskan untuk tidak memiliki tivi di rumah. Meski, mungkin, mertua atau orangtuanya protes. Sepertinya memang hanya orang-orang zaman dulu yang mengeluh jika tidak ada tivi di rumah. Karena di zaman yang cangggih seperti sekarang, tivi seolah tidak ada artinya jika dibandingkan dengan dahsyatnya smartphone plus koneksi internet. Semua yang ada di tivi dan semua tujuan yang diinginkan oleh para penikmat tivi bisa diperoleh dengan gratis dan mudah lewat saluran wifi.

Tapi saya bukan termasuk yang “militan” meski saya mengakses internet jauh lebih sering daripada menyalakan televisi. Alasannya, pertama seperti yang sudah saya jelaskan hingga berbusa. Bahwa demi menyenangkan hati ibu saya. Kedua, saya penggemar ILC dan berita-berita TV One, sampai saat ini akses via tivi lebih mudah daripada streaming dan kurang asyik kalau menonton rekaman via youtube. Ketiga, karena saya menggunakan paket speedy indihome yang sekaligus bisa untuk TV kabel dan saluran telepon. Jadi daripada mubazir, saya pakai, kadang untuk menonton film-film box office. Keempat, agar ia menjadi saksi bahwa buku-buku yang mengelilinginya lebih saya cintai daripada dirinya. Kelima, agar tidak terlihat militan, hehehe.

**
Jadi memiliki atau tidak memiliki tivi adalah pilihan, selama kita bersepakat bahwa sebagian besar tayangan tivi tidak mengasyikkan. Dan sinetron-sinetronnya merusak budaya ketimuran. Artis-artisnya menjadi teladan di jalan kebatilan. Berbahaya bagi anak-anak yang masih putih hatinya, jernih pikirannya.

sumber gambar: muslimah.co.id

Berlangganan update artikel terbaru via email:

1 Response to "Saksikan, Bahwa TV Tidak Mengasyikkan!"

Tira Soekardi mengatakan...

kalau aku selalu nunggu acara top di rcti, sinetron komedi yg selalu asyik

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel