Hujan Memanjat Pesona



Salah satu momen terindah bersama keluarga versi saya adalah, ketika naik motor bareng di tengah hujan deras yang mengguyur kota Surabaya. Saya, istri, dan Safa menembus hujan dengan mengenakan mantel seadanya. Mantel plastik seharga sepuluh ribuan yang kami beli di jalan. Tujuan kami adalah rumah Mbak Sinta.

Sejak mula berangkat dari rumah, saya sudah memprediksi Surabaya sedang hujan lebat. Itu jelas sekali terlihat dari warna mendung yang pekat, di langit bagian utara. Sampai di Gedangan, gerimis sudah mulai membesar. Saat itulah kami putuskan membeli mantel plastik itu. Karena mantel yang saya bawa tak cukup untuk melindungi semua.

Dan ketika hujan turun begitu lebat, saya mulai memperlambat laju motor. Menikmati titik-titik air yang turun dan sedikit kemacetan. Sesekali cipratan yang tercipta dari tumbukan roda mobil dengan genangan air mengenai kami. Saya dan Safa tertawa. Di lain kesempatan, justru roda motor saya yang membikin cipratan itu, saat menerobos di sela-sela kendaraan yang mengular.

Kami benar-benar menikmati hujan di sore itu. Hujan yang meski membuat pakaian kami sedikit basah, tapi kesejukannya menembus ke dalam hati. Apalagi di perjalanan pulang, saat hanya tinggal titik-titik gerimis kecil yang menyegarkan. Benar, mungkin itu suasana malam yang cukup langka di Surabaya. Karena biasanya, di kota yang tak pernah istirahat itu, malam pun mengirim keringat. Gerah, sumuk kata orang Jawa.

Tapi malam itu benar-benar berbeda. Mungkin karena kebersamaan kami yang sedemikian indah telah menciptakan kesegaran di dada masing-masing, hingga tubuh pun turut merasakannya. Berkali-kali saya menghirup udara, seakan-akan sedang berada di pagi hari, di sebuah pegunungan yang bebas dari polusi. Inilah yang bisa saya nikmati, bersama Safa dan istri. Jam sudah berdentang 9 kali. Perlahan, jalanan mulai sepi.

Hujan dan kebersamaan ibarat pagi, taman, dan secangkir kopi. Indah dan berkesan. Hangat sekaligus menyejukkan. Dan ini bukan yang pertama kali. Bahkan sejak Safa masih berada di dalam kandungan. Inilah yang telah memberi celupan warna ke dalam kehidupan kami yang telah dipenuhi lukisan.

Perjalanan yang menyenangkan itu kami akhiri dengan makan malam bersama, di warung langganan. Segelas teh hangat dipesan oleh istri. Dan saya memutuskan memesan es jeruk. Entah, saya sendiri heran kenapa dingin-dingin tetap ingin minum es. Mungkin salah satu isyarat, bahwa saya tak ingin kesejukan yang telah dimulai sejak empat jam lalu ini, berakhir di sini.

Malam perlahan memanjat pesona, untuk kemudian rebah dalam mimpi paling indah.

sumber gambar: okezone.com

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Hujan Memanjat Pesona"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel