Durian, Like and Dislike



Sebagian orang tidak suka durian dan tak ada keinginan untuk mencicipinya. Bahkan ada yang mual-mual hanya karena mencium baunya. Sebagian lagi sangat doyan, bahkan terkadang aromanya dihirup dalam-dalam.

Saya masuk ke dalam golongan kedua. Namun demikian, saya pernah berada di posisi golongan pertama. Saya tak ingat saat itu umur berapa, yang jelas masih duduk di bangku SD. Saya tidak suka baunya yang tajam.

Suatu hari bapak mengajak saya menikmati durian di pinggir jalan. Saya menolak. Tapi bapak memaksa, saya disuruhnya mencoba. Karena takut dimarahi, dengan berat hati saya berusaha mencicipi. Sedikit sekali. Pertama nempel di lidah, eh kok enak juga, pikir saya. Saya ambil lebih banyak lagi, dan lagi.

Sejak saat itu saya menyukai durian. Saya merasa beruntung pernah dipaksa bapak untuk menikmati durian. Sekarang, saya malah heran kenapa orang bisa tidak menyukai durian. Saya pikir, sayang sekali, padahal enaknya pake banget. Anak dan istri saya semua suka durian.

Tapi saya gak boleh banyak-banyak, karena punya asam urat dan kolesterol tinggi. Kalau terlalu banyak, badan dan kepala terasa berat. Jadi sewajarnya saja.

Saya makan durian pun jarang-jarang. Dulu sempat bikin kedai durian, tapi kemudian tutup. Tidak karena suka, lantas saya mencicipinya setiap hari. Bagi saya, durian tetap menjadi buah-buahan mewah sekaligus menebar “teror”. Teror bagi kesehatan badan dan kesehatan dompet. Hehe.

Sempat ada guyonan, beruntung sekali orang yang tidak suka durian. Karena uangnya tak berkurang karena membeli durian. Apalagi jika sekeluarga tidak suka durian, hematnya bisa gede-gedean. Tapi saya pikir, masalahnya, kalau di keluarga itu, ada yang suka ada yang tidak suka. Misal, suami suka, istri tidak suka, anak perempuan tidak suka, anak laki-laki suka. Jika satu ketika si suami membawa durian ke rumah, bisa terjadi perang kecil-kecilan. Jadi mau beli durian, mesti pikir-pikir juga. Kecuali dimakan langsung di tempat. Ini lain cerita.

sumber gambar: tribunnews.com

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Durian, Like and Dislike"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel