Dokter Cinta



Beberapa kali handphone saya berdering. “Benar ini dengan dr. Ainul?” dan sudah bisa ditebak, itu dari perusahaan asuransi atau perusahaan obat. Saya jawab, “Maaf, salah sambung.” Kenyataannya memang salah sambung. Saya bukanlah dokter yang mereka cari. Nomer yang mereka hubungi juga nomer saya. Bukan milik istri saya.

Satu kali istri pernah berkata, “Banyak orang mengira bahwa yang dokter itu ayah, bukan saya.” Saya hanya tertawa kecil. “Mungkin saya gak ada potongan dokter,” lanjutnya sambil tersenyum lebar. 
Tapi memang begitulah kenyataan, orang-orang yang baru kenal, yang buka praktek dokter itu saya. Bukan istri saya.

Tapi saya pikir-pikir lagi, mungkin benar sebenarnya saya ini dokter. Dokter cinta. Hehe. 4 buku saya yang saya tulis tentang cinta. Curhat-curhat yang sering mampir ke saya didominasi seputar cinta. Dan, entah kebetulan entah tidak, saya menampung banyak proposal muda-mudi yang punya niat kokoh untuk merayakan cinta. Tulisan-tulisan saya di Majalah DeQI selama setahun ini juga berkisar cinta dan keluarga.

Tapi bukan itu yang sedang ingin saya bahas. Bahwa banyak yang mengira saya dokter, mungkin karena cita-cita masa lalu saya. Ketika masih kecil. Saya pernah bercita-cita menjadi dokter. Tampil di carnival TK menggunakan pakaian khas dokter sambil menenteng stetoskop. Tetapi saya ingat, bahwa cita-cita itu hanya cita-cita sementara saja. Tak pernah benar-benar serius. Karena setelahnya, cita-cita saya silih berganti. Pilot, insinyur, dan entah apa lagi. Saat ini cita-cita menjadi dokter malah tak pernah terpikir lagi.

Namun demikian, ada sesuatu yang unik, yang pernah melintas di kepala saya, entah kapan (saya lupa waktunya) bahwa saya ingin memiliki istri seorang dokter. Hanya sekilas. Sampai kemudian saya bercerita pada bulek, bahwa saya merasa ada yang aneh dengan diri saya. Setiap kali saya memasuki rumah sakit, saya menikmati bau obat yang terkadang menusuk hidung. Saya seperti senang dan ingin berlama-lama menghirupnya. Bulek saya saat itu menimpali dengan doa. Beliau mendoakan semoga saya dapat istri yang beprofesi dokter. Sambil tertawa saat itu, saya mengaminkan. Rupanya doa bulek saya itu diaminkan malaikat pula sehingga Allah mengabulkannya.

Uniknya, setelah menikah, saya tak lagi menyukai bau obat. Saya tak memiliki ketertarikan kuat dengan dunia medis. Meski sekali dua kali saya juga membaca artikel dan buku-buku kesehatan. Hanya untuk pengetahuan dan memantaskan diri sebagai penulis yang tahu segala hal. Tidak lebih dari itu.

Berbeda dengan teman saya. Ia bercita-cita menjadi dokter sejak kecil. Tetapi tak dapat melanjutkan kuliah di fakultas kedokteran. Sebagai pelampiasan, ia menulis novel-novel tentang dunia kedokteran. Ia benar-benar melakukan riset dengan membaca buku-buku kedokteran yang tebal, juga interview langsung ke beberapa dokter. Keren juga saya pikir. Cita-cita yang tak kesampaian, dengan menjadi penulis bisa merealisasikan impiannya itu meski dalam wujud cerita fiksi. Saya kira ia akan punya ambisi untuk menikah dengan seorang dokter. Ternyata tidak, ia menikah dengan karyawan swasta biasa.

Teman saya lainnya. Bukan penulis. Sejak kecil bercita-cita jadi dokter, gagal menjadi dokter namun berhasil memperistri seorang dokter. Saya tidak tahu, apakah itu sesuatu yang memang dikejar atau berjalan natural, seperti yang saya alami.

Sepertinya saya jadi tertarik untuk meneliti orang-orang yang senasib dengan saya dan teman saya itu.

sumber gambar: merdeka.com

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Dokter Cinta"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel