Haflah dan Wisuda Tahfidz Quran SDIT Madani Ekselensia

SDIT Madani ekselensia
Satu persatu siswa-siswi SDIT Madani Ekselensia berbaris di atas panggung untuk menerima sertifikat tahfidz quran. Di antara barisan itu, ada anak saya, Aisyah Myelina Safa. SDIT Madani memwisuda para siswanya dengan kategori tahfidz 2 juz, 5 juz, dan 8 juz. Safa masuk dalam kategori tahfidz 2 juz. Saat ini ia kelas 3 dan alhamdulillah sudah hafal 3 juz terakhir, ditambah sedang proses menghafal juz 1.

Safa saat menerima sertifikat
Metode Utrujah yang dipakai oleh SDIT Madani sepertinya sukses membuat anak lebih mudah menghafal Alquran. Pada awalnya anak akan dibimbing untuk lancar membaca Alquran, diperbaiki tahsinnya. Sampai kemudian dinyatakan lulus, barulah mulai menghafal. Jadi, tidak menghafal sambil belajar membaca.

Pagi itu, Sabtu, 21 Desember 2019, puluhan siswa diwisuda. Keharuan tampak menyeruak dari wajah para orangtua yang hadir dalam acara itu. Apalagi saat anak-anak mereka menyanyikan nasyid "Aku Hafidz Quran"

Kuimpikan sepasang mahkota
tuk berikan di akhirat kelak
sebagai pertanda bahwa kau sangat kucinta
aku cinta engkau karena Allah
kucinta ummi, kucinta abi
kuharap doamu slalu dalam hati 
kucinta ummi, kucinta abi
berharap bersama di surga-Nya nanti

Saya lihat anak-anak yang menyanyikan itu juga tidak bisa menahan tangisnya. Ada yang sampai sesenggukan. Semoga menjadi saksi kelak di akhirat, betapa kami mencintai Alquran.

Usai menyanyi, para wisudawan menghambur, menyalami dan memeluk orangtua mereka masing-masing. Sebuah pemandangan luar biasa. Saat Allah tampakkan cinta dan kasih sayang di antara mereka. Betapa banyak hal yang harus kami syukuri, termasuk satu di antaranya adalah, bisa membersamai dan mendidik penghafal Alquran.

Di sela-sela acara, Ustadzah Erna, salah satu pendiri SDIT Madani Ekselensia menyampaikan sambutannya. Beliau bercerita tentang Umar bin Abdul Azis yang pada akhir hidupnya hanya mewariskan 8 dirham untuk anak-anaknya. Tapi beliau mewariskan sesuatu yang lebih berharga, yaitu ilmu dan akhlak sebagaimana yang diajarkan Alquran.

"Bekal harta akan habis," kata beliau. "Bekal ilmu, bekal Alquran akan kekal."

Ustadzah Erna menambahkan, "Jika ada anggota keluarga yang menjadi penghafal Alquran, maka itu adalah karunia yang besar."

Menurut beliau, jika ada orang yang menganggap dirinya kurang beruntung, padahal di dalamnya rumahnya ada penghafal Alquran, maka berarti ia telah merendahkan Alquran.

Di acara wisuda yang berbahagia itu, saya juga bersyukur diberi kesempatan mendengarkan Safa membaca puisi. Bersama Asyifa, ia membaca puisi "Kami Cinta Pada Alquran".

Tak salah kami mempercayakan anak kami di SDIT Madani Ekselensia. Meski saat pertama kali Safa masuk sekolah, SDIT Madani belum punya gedung sendiri, alhamdulillah sekarang sudah punya gedung dan halaman yang luas.

SDIT Madani memiliki komitmen yang tinggi untuk menjadikan para siswanya sebagai hafidz Alquran, dengan tetap memerhatikan prestasi dan capaian akademik, akhlak, dan kenyamanan siswa. Salah satu yang menarik adalah program qailullah atau tidur siang. Setelah shalat dhuhur dan makan siang, para siswa akan diminta serempak untuk tidur siang sejenak, sebelum kembali memulai proses belajar mengajar. Alhamdulillah, dengan program ini, siswa tidak terasa lelah meski pulang sekolah baru selepas ashar.

Semoga sukses terus untuk SDIT Madani Ekselensia mencetak para penghafal Alquran.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Haflah dan Wisuda Tahfidz Quran SDIT Madani Ekselensia"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel